Nilailah Diriku Sepuas Hatimu

Aha…

Ini hanya sedikit catatan (atau lebih tepatnya coretan) dan mungkin yang paling tepat adalah tamparan (dan juga jambakan) dari teman-teman saya. Hanya sekelebat kesan yang mereka dapatkan selama bersama 90 hari dalam sebuah kepanitiaan. Tentunya ada yang udah temenan lama, ada juga yang baru (masih unyu-unyu). Jadi ya, komentarnya relatif lah ya… *ngeles

Saya merasa beruntung sekali kertas kecil berlipat dua ini masih bisa terselamatkan setelah gempa 7,9 skala richter yang sempat main ke Padang dua tahun lalu. Bukan karena bangunan tempat tingal saya rubuh, hanya karena saya panik sehingga keluar rumah cuma pake celana selutut (untung kebawa sama lutut-lututnya). Setelah membereskan rak buku yang berserakan, saya hampir tak mendapatkan kertas kecil ini. *panik, keliling kota Padang pake sepeda roda tiga

Foto0264

Ntu bukan bayangan antu, tapi bayangan tangan saya.

Akhirnya ini kertas saya temukan tiga bulan kemudian nyungsep di belakang rak buku, kejepit sama seekor cicak galau yang malang. Nggak ding, ini catatan ditemukan dalam kondisi selamat sehat wal afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun. Cuma agak lecek dan kulitnya agak kecoklatan. Begitu rapuh. *hiks…bikin selamatan tiga hari tujuh malam

Kenapa ini kertas sampai begitu berharga buat saya? Nggak tahu. Bagus, akan saya kasih tahu.

Kertas ini bisa jadi semacam cermin, tempat pahala dan dosa berpadu. (Ampun Bimbo, eh…Ampun Tuhan) karena dari sinilah saya bisa melihat diri saya yang menurut teman-teman saya (jika diri saya sebenarnya hanya saya yang tahu…hehehe)

Tapi, kata orang bijak, kita lebih pandai menilai orang lain daripada diri sendiri. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat, saya setuju dengan kalimat itu. Dengan catatan, nggak semua yang loe baca itu bener. 😀

Mari kita mulai.

Kertas ini berisi komentar orang lain tentang diri saya. Kan tadi udah dijelasin di atas. Oke, saya ulangi. Kertas ini berisi komentar orang lain tentang diri saya. Poin-poinnya adalah sifat buruk (kenapa orang selalu pandai menilai keburukan orang lain… hhh), sifat baik, kesan dan pesan, serta biodata si komentator. *padahal saya nggak buat status apa-apa

Bagi yang pinter, mereka akan melipat kertas ini menjadi empat bagian, dan masing-masing bagian ditandai dengan poin-poin tadi sehingga memudahkan bagi yang mengisinya. Karena saya agak ‘kurang pinter’ makanya saya main langsung-langsung aja. Jadinya agak berantakan. So what, kan saya bisa gampang lihat itu komen punya siapa. Hihihi…

Dan dalam postingan ini saya pisahin mana yang haq dan mana yang bathil. Tapi ada juga yang saya gabungin aja karena kadang ada yang masuk area abu-abu (belum tamat SMA). Bukan, maksud saya itu tulisan nggak jelas ngelus atau njitak. Tapi pesan dan biodata nggak akan saya tampilkan demi menjaga kerahasiaan narasumber. Dan jika kalian menemukan ada tulisan yang agak ‘aneh’, mohon maklum saja, itu tulisan orang aneh. Kadang saya ampe putar-putarin rumah tiga kali baru kebaca itu tulisan. *jangan lupa asap dupa sama kemenyannya, Mbah

Ah, panjang bener mukadimahnya. Pasti dah pada penasaran kan ya? *penonton hening.

Oke, mari kita mulai. Demi menjaga kehormatan si penulis, saya tulis komentarnya sesuai dengan apa yang dia tulis di kertas ini. Abaikan coretan di belakangnya…*penonton mulai rusuh, ngelemparin botol sampo

Ke’baik’an (bukan maksud mau sombong, nanti saya jelaskan maksudnya. Oke!) *penonton mulai banting-banting mercon

  1. Sopan, MengHargai, Lucu, SeMangad!! :p (yang komen agak 4L4Y)
  2. Baek, Rajin, PinteR b’Puisi J (nunjukin kalo dia nulisnya sambil senyum)
  3. baik, pinter meniru suara org lain,. Abg tu orgx lucu n nyenengin. (jiaaah, saya dipanggil abaaang…! Pesen dua dong, Bang!)
  4. Ramah, Baik, Lucu, Ngebanyol aja kerjanya (jangan bilang saya mirip Olga!)
  5. Cukup heboh, lucu (yang bener, heboh apa lucu?)
  6. Tidak sombong, Lucu, dll… (keliatan males banget bikin komentar…)
  7. Ih, kamu baik deh. (FYI, ini yang komen cowok loh…! Hiyyy)
  8. Ramah, lucu, menyenangkan (dan mengenyangkan…)
  9. Orangnya Asik, Gampang bersahabat dengan siapa saja, Baik, Mau diajak dan nemenin kemana aja… Lucu, makanya disukai anak-anak… (kok rasanya saya lebih mirip sama gantungan kunci Spongebob ya…)
  10. Bang Adi ramah, baik, humoris juga (terima kasih, ini gopekan…!)
  11. Lucu, baik, ramah, murah senyum (ayo ibu-ibu, seribu tiga…! bisa buat nakut-nakutin kecoa ngesot)
  12. Baik, suka penolong (???), sabar… (iya, saya cukup sabar untuk menerjemahkan tulisan kamu ini…)
  13. Rajin dalam bekerja (amiin)

Nah, sekarang adalah ke’JELEK’an saya. *penonton antusias, manjat-manjat pentas sambil bawa-bawa obor

  1. Narsis, Bawel, Menyeramkan… (saya nggak ikutan pilem Pocong 4, Mbak)
  2. Apa yach?? (apa yach…)
  3. Jangan combong2 ya, Bang (pake seledri nggak? mie-nya dikriting apa rebonding?)
  4. Kalo lagi kesel diam seribu bahasa… (ah, sok tahu kamu, saya cuma bisa tiga bahasa, bahasa Ibu, bahasa Bapak, sama bahasa Indonesia)
  5. Jangan nakal…! (iya, mama)
  6. Lanjutkan…! (???)
  7. Ini nech orang yg paling kubenci. Udah jelex, ganteng, cakep, berwibawa, idup lagi!!! Heheheh… susah nyari yg kek gene…!!! Cuma satu di Un***!!! (saya sempet mikir sambil keliling-keliling rumah tiga kali, mending lu tusuk aja deh, nih ada piso…!)
  8. Kurang koordinasi jadi kerjanya kurang maksimal, dll (siap, Ndan!)

Segitu aja? Iya, segitu aja. Pada nggak yakin kan kalau ternyata lebih kentara sifak baik saya. Hohoho… Sungguh, demi menjaga nama baik saya dan bapak saya juga saudara-saudara saya sebangsa tanah dan sebangsa air, saya telah menuliskan ini dengan sebenar-benarnya tanpa ada tambahan MSG. *penonton mulai jambak-jambakan

Apa artinya?

Ternyata Allah masih berbaik hati sama saya, masih sudi menyembunyikan keburukan saya yang seabreg itu. Sehingga wajah saya masih kelihatan ‘tak begitu berdosa’ di mata teman-teman saya.  *penonton mulai tenang dan bertepuk tangan

Jadi, saya mohon buat kalian yang mengaku sudah mengenal saya, itu baru casingnya karena hapenya baru aja diganti. hehehe…

Itu aja? Iya, itu aja.

Boooo….. *penonton brutal (brubar sambil bawa bantal), saya ditinggal sendirian

***

Heh, ngapain masih di situ? Nggak ikutan bubar? Sebentar lagi bedug tuh…!

4 thoughts on “Nilailah Diriku Sepuas Hatimu

  1. dari beberapa komen ahirnya saya simpulkan bang adi(adi+bang:lbh akrab) mempunyai kepribadian mirip radityaDK klo bagian muka di poles dikit org dah susah bedain, gaya mnulisnya bagus ngomng diri jwb sndri kyk Dalang, sprtnya bang adi agak pemalu ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s