Oportunistis

Edisi : Ibu Kost-ku Sayang, Ibu Kost-ku Malang

Saya tinggal di Padang, tapi dalam edisi bukan berarti bahwa ibu kost saya tinggal di Malang. Ibu kost saya juga tinggal di Padang (rumahnya di sebelah rumah kost-nya yang mana adalah tempat tinggal saya). Dan yang mau saya ceritakan di sini bukanlah sekedar kemalangan saja, tapi lebih dari itu.

Sudah berkali-kali saya memergoki ibu kost saya bertingkah seperti itu. Buat sedikit gambaran saja, ibu kost saya ini sudah punya cucu, jadi bisa dibayangkan kan berapa umurnya sekarang? Oke, dan satu lagi… ibu kost saya ini perempuan. Bisa dibayangkan kan bagaimana cerewetnya? Wooops…

Seperti pagi ini, ibu kost saya melihat sebuah sepeda teronggok di garasi (sebenarnya yang dimaksud garasi di sini adalah ruangan agak luas yang menyatu dengan dapur, berisi beberapa ekor sepeda motor dan seonggok sepeda beneran). Lalu dengan sedikit basa-basi si ibu kost saya ini berencana ingin membeli itu sepeda, padahal temen saya itu berniat tulus dan ikhlas membeli sepeda itu untuk program penyusutan kawasan timur tengah alias perut. Bahkan sepeda itu baru tiga minggu yang lalu dia beli.

Eladalah…

Sudah berkali-kali si ibu ini bertingkah seperti itu. Seperti sebelumnya, ketika beliau meminjam sebuah kipas angin dari tempat kost kami dengan alasan untuk dibawa ke rumah sakit (waktu itu ada saudaranya yang dirawat di rumah sakit). Yang bikin heran, memang di rumah sakit tak ada kipas angin kah?

Lalu, setelah saudaranya keluar dari rumah sakit pun itu kipas tidak dikembalikan hingga saat ini. Terdengar desas densus 88 bahwa itu kipas mau dibeli saja. Heuleuh…. Kita teh juga butuh angin atuh, Ibuk….

Lantas berkali-kali menawar barang-barang di kost-an kami yang terlihat teronggok di ruang tengah rumah kost, seperti meja komputer, lemari kaca, hingga karpet sekalipun. Rasa-rasanya kok punya banyak uang sehingga semua hal kepingin dibeli.

Hal ini bertolak belakang ketika beliau meminta uang kontrakan rumah. Ngakunya lagi nggak punya uang lah, banyak utang lah, mau lebaran lah, anaknya minta henpong baru lah…seolah hanya kamilah sang dewa penyelamat keuangan mereka. Dan mau tak mau kami pun akhirnya melunasi itu uang rumah, padahal pada awalnya bisa kami cicil dua kali. Tuh, kelihatan belangnya kan?

Bagi saya pribadi, saya tak begitu suka dengan sikap orang seperti ini. Mereka terkesan sombong, tapi nggak nyadar. Yang saya tidak suka adalah caranya mengurang-ngurangkan ‘harga diri’ ketika butuh dan melebih-lebihkan ‘harga diri’ kembali ketika merasa memiliki segalanya.

Dan satu lagi, apakah mereka tak ingin berusaha untuk mendapatkan barang yang dia inginkan sehingga harus merebut barang kepunyaan orang lain, meskipun pakai embel-embel ‘akan dibeli’. Tiada salah kan pergi ke Pasaraya blok B, di situ banyak orang jual kipas angin atau sepeda bekas. Ongkos PP juga lima ribu kembalian. Oportunistis banget…!

Bagi teman-teman, jangan ditiru ya sikap ibu kost saya ini. Sungguh, daripada nanti tidak saya temani lagi. Hahaha….

Dan jangan tersinggung jika kalian juga punya ibu kost seperti ini juga. Sungguh, ternyata kita bernasib sama. Hahaha…. (lagi)

One thought on “Oportunistis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s