Dlemingan Pagi-Pagi

 

Pagi ini tiba-tiba mendung menyelimuti, dan tepat setelah saya kembali dari membeli sarapan, hujan pun turun mengguyur. Lumayan buat adem-adem. Rasanya pingin nyanyi Hujan Turun-nya 507 😀

Hujan, merupakan berkah dan rejeki yang diberikan Allah kepada kita para penghuni bumi. Hujan adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Sungguh beruntung bukan orang-orang yang dikasih-sayangi?

rain-1

Dan, pagi ini pun untuk kesekian kalinya saya mendapat kasih sayang dan perhatian dari teman-teman se-kost. Tak tanggung-tanggung, hampir setiap hari saya dikasih perhatian seperti ini. Mereka sungguh baik sekali.

Ape hal?

Itulah dia piring dan gelas yang berserakan di tempat makan dan yang menumpuk di bak cucian (yang baunya udah nggak karuan), belum lagi sampah bungkus kopi dan snack yang mereka makan sewaktu lembur malam tadi untuk bikin tugas. Begitu juga dengan lantai yang sudah mulai menunjukkan prediket ‘kotor’.

Kok gitu?

Iya. Mereka rela dan senang hati sekali memberikan recehan-recehan amal mereka kepada saya yang seharusnya bisa mereka simpan untuk tabungan masa depan. Bayangkan, jika setiap hari recehan amal itu saya ambil, kan sama seperti yang pepatah bilang, sedikit-sedikit lama-lama jadi banyak. Hehehe…

Awalnya agak dongkol sih. Tapi setelah saya pikir, buat apa dongkol. Masa iya dikasih pahala kok dongkol (ups, udah ngomongin pahala nih). Maaf, pahala itu hak mutlak milik Allah.😀

Sebenarnya ini hanya efek dari jadwal piket yang belum ada, sehingga bagi mereka yang terbiasa ‘habis-pakai-end’ ya biasa-biasa aja. Setelah makan sampahnya nggak diberesin atau sekedar merapikan gelas-gelas yang berserakan, bertaburan, kayak jeroannya binatang… Iwan Fals mode : ON.

Tapi kan…

Iya, saya paham kalian sibuk sekali (atau sok kesibuk-sibukan). Tapi masa iya meluangkan waktu buat memungut amal itu kalian lewatkan sia-sia. Nggak lama kok. Mungut sampah palingan cuma 15 detik, merapikan gelas cuma 25 detik, cuci piring paling lama juga 15 menit. Tuh kan, nggak lebih lama dari Insert Pagi kok.

Ah, harusnya kita patuh pada diri kita sendiri, bukan patuh pada jadwal piket. Jadwal itu dibuat hanya untuk melatih agar kita terbiasa, terbiasa bertanggung jawab, terlebih pada diri sendiri. Jadi, jangan pandang jadwal piket sebagai kewajiban atau sebagai masa ‘rajin’ kita. Nggak piket ya nggak rajin. Ow, no…!

Makna dibuat giliran, agar saling mengingatkan barangkali teman kita lupa. Atau mungkin kita bisa saling membantu. Bukankah kerja sama itu baik sekali? Bukan lantas saat giliran piket adalah kewajiban satu orang buat jadi ‘babu’ sehari itu.

Lantas, masa iya kalian yang terus-terusan ngatain saya, “Kok kamu rajin banget sih…!”. Coba sekali-sekali saya yang dikasih giliran buat ngomong itu ke kamu. Boleh ya? Ya…ya…🙂

***

NB : tidak ditulis dengan maksud narsis-narsisan, karena ‘narsis beriak tanda tak dalam’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s