Cerita ATS

pin 1

Pagi masih agak dingin, sedari lima belas menit yang lalu air sudah membilas tubuhku yang kuyu. Malam tadi tidurku agak tak nyenyak. Ini hari pertama, ah…terlalu lama untuk memutuskan kemeja mana yang akan kupakai. Akhirnya kupilih saja sebuah kemeja biru dan celana panjang hitam. Lalu, memasukkan beberapa buku, kartu alumni, handuk kecil, dan flashdisk (barang yang wajib dibawa kemanapun pergi). Hmm, meski tak ikut briefing kemarin sore, tapi kata Reza aku disuruh datang saja hari ini. Toh, aku tak akan berbuat banyak nantinya di sana, banyak pemuda-pemudi baru penuh semangat yang bergerak.

Pukul setengah tujuh lewat sedikit aku sampai di auditorium. Ah, terlambat… teman-teman sudah briefing pagi. Tak apa, meski hanya kebagian yel-yel saja. masuk ke ruangan ATS, hanya segelintir saja wajah yang kukenal. Itupun sudah lupa namanya (untung mereka tak menyadarinya), kecuali – tentu saja – Imsar yang lebih populer dengan sebutan ‘buaya’. Bukan apa-apa, itu hanya panggilanku padanya. Yang lain boleh panggil dia kadal, cicak, atau semacamnya. Ahaha, piss Imsar.

Tanpa ba-bi-bu atau mukadimah, aku langsung menuju ke ruangan training. Alamak, banyak sekali ATS yang putri. Dan parahnya, hanya Ida seorang yang kukenal. Lantaran dia sudah terlampau sering kelihatan dari beberapa periode yang lalu. Hehe… Jumlah ATS putri nyaris seperti peserta banyaknya. Bergerombol di dekat pintu masuk. Ah, cuek saja…toh mereka tak mengenal saya. Mudah-mudahan wajah saya masih cukup familiar sebagai anak 2010 atau 2009. Hahaha…

DSC00080Sesampai di deretan blok putra, kusalami beberapa ATS putra (yang lagi-lagi aku lupa nama mereka), kecuali Budi – sang pengangkat layar. Setelah bertukar kabar, aku menempati PW (posisi wuenyak) yang sudah ada. Dan berdatanganlah peserta training ESQ angkatan pertama tahun ajaran baru ini.

Semua berjalan lancar, hanya saja seperti biasa. Di antara ATS yang baru-baru ini masih segan untuk menyuruh peserta atau lebih tepatnya menertibkan mereka agar mengisi tempat duduk yang masih kosong. Hari pertama ini pun masih terbilang aman, hingga tiba jam snack…dan makan siang.

Berhubung jumlah ATS membludak dan jumlah konsumsi terbatas, sesuai hukum ekonomi…’kebutuhan selalu tak terbatas sementara pemuas kebutuhan terbatas’, sehingga Kepala Bagian Konsumsi kala itu (yang belakangan kutahu namanya unik, Bebe) membuat keputusan agar satu jatah makan buat dua orang. Ckckck… aku diam saja di meja ruang ATS. Semua orang sudah berpasang-pasangan dengan jatah makan mereka masing-masing, sementara aku masih jomblo. Di depanku ada dua orang yang juga sedang akan makan, tapi mereka masih melobi Kabag Konsumsi agar memberi mereka jatah makan seporsi untuk satu orang dengan alasan penat mengangkat kursi. Hahaha…

Aku diam saja, sambil menahan orkes dangdut di perut yang kian menggoda. Mungkin karena kalah argumentasi, akhirnya sang Kabag Konsumsi melontarkan sebuah harapan, “boleh nambah, asal dua bertiga.” Sungguh, inilah saat yang kutunggu-tunggu. Dan terbitlah sebuah bungkusan makan siang di depanku dengan catatan harus berbagi dengan dua pejantan yang ada di depanku. Tak apa, asal nggak sepiring berdua. Hiks… meskipun akhirnya, sang Kabag mengangsurkan lagi sebungkus nasi ke mereka karena merasa dibawah tekanan ancaman nilai praktikum (yang mana dua makhluk di depan saya itu adalah senior sang Kabag). Hahaha…luruskan niat!

Inginnya setelah makan siang aku tetap ada di sini. tapi tak lama berselang setelah menyuapkan nasi terakhir, terdengarlah hape berbunyi. Ayah Gufron (seorang mahasiswa baru) menelepon bahwa mereka ada di Padang dan meminta saya untuk menemani mereka mencarikan rumah kost di kawasan Jati buat anaknya, sekaligus membelikan perabotannya.

Wadaw, berat juga rasanya meninggalkan hari pertama training ini. Tapi, aku juga punya perjanjian tak tertulis dengan ayah dan ayuknya Gufron buat menemani mereka menyelesaikan urusan di Padang. Dengan berat hati dan berat perut (karena barusan makan) akhirnya aku melangkah keluar auditorium dan menuju Jati

(cerita di Jati buat simpanan aja ya,,,tidak untuk umum. Hohoho)

Hari kedua terpaksa daku tinggalkan juga karena masih harus menemani mereka belanja. Weleh-weleh…

Gelombang kedua aku kembali siap sedia. Berangkat bersama Gufron yang kebetulan juga akan ESQ gelombang kedua ini. Tanpa isak tangis, aku meninggalkannya di luar sementara aku langsung menuju ruang ATS, menyimpan jaket, meletakkan sendal, dan memakai name tag ATS, lalu menuju ke ruangan training. Lagi-lagi aku terlambat. Dan anehnya, jumlah ATS berkurang nyaris setengahnya. Beredar kabar bahwa sebagian ATS ada yang kuliah SP.

Pada hari ketiga inilah akhirnya aku bisa mengenal satu demi satu nama-nama ATS yang notabene masih muda-muda dan bersemangat ini. Begitupun seterusnya dengan hari-hari berikutnya. Esoknya aku tak ikut karena harus membereskan pakaian kotor dan beres-beres kamar. Ada anak baru yang masuk kost jadi harus berbagi kamar dengannya.

Photo0018Hari keenam aku kembali bertugas jadi ATS. Seperti biasa, tanpa beban, bisa nemplok sana nemplok sini. Selesai merapikan blok, aku menuju pintu masuk, berbincang sebentar, lalu menuju ruang ATS sekedar untuk absen nama. Saat itu aku sudah kenal dengan Bebe, sang Kabag Konsumsi yang suka kabur ke ruang ATS saat kondisi alfa dan sangat bersemangat kembali ke ruangan training ketika irama senam si Tomi dikumandangkan. Juga Yeni yang usil abis dan beberapa ATS putra yang masih kiyut amit-amit. Hahaha…

Pada hari inilah akhirnya bermunculan beberapa komentar miring dari para ATS, entah itu tentang pesertanya, atau sesama ATS, atau juga trainernya. Komentar paling bikin gerah adalah ketika ada beberapa peserta tersinggung karena dibentak (atau mereka yang terlalu sensitif, wallahu alam) lantaran mereka ketahuan makan di luar ruangan. Mungkin karena tersinggung, lalu mereka buang itu makanan dan mereka tak jadi makan.

Usut punya usut, ternyata mereka makan bukan pada saatnya. Ada kesalahan koordinasi di bagian konsumsi putri. Nasi sudah menjadi bubur ayam, lebih baik kita makan saja sebelum dimakan ayam. Semoga menjadi pelajaran ke depannya.

Dan parahnya, ATS kali ini lebih sering berada di ruang ATS daripada menemani peserta di dalam ruangan training. Tak jarang dalam kondisi alfa yang sebenarnya sangat butuh ATS, nyaris tak ada ATS. Kalaupun ada, hanya beberapa saja. Setiap kali aku masuk ke ruangan ATS untuk sekedar shalat Dhuha atau istirahat, ruangan sudah ramai sekali. Kadang jadi segan pula untuk berlama-lama di dalam ruang ATS.

Tapi, muncul insting keisenganku untuk menyengajakan diri melama-lamakan diri di ruangan ATS hanya untuk mengamati orang-orang yang ada di sana. Mungkin karena sebagian sudah tahu ada ATS gaek di sana, maka mereka agak segan pula menyuruhku keluar ruangan ATS. Hihihi, maaf…kala itu aku punya misi. Jadi, maaf-maaf saja jika nanti muncul satu nama atau beberapa ATS di tulisanku. Smile

Gelombang berikutnya aku kembali bertugas full dua hari. Tapi kebetulan dapat tugas jadi kapten blok menggantikan ATS yang belum datang. Jumlah ATS makin miris, sehingga Kabag Konsumsi berbaik hati menawarkan kalau ada yang mau nambah nasi atau snack. Dan dengan jumlah ATS yang sedikit ini, kemudian bermunculanlah beberapa kejadian, semisal ada peserta yang lolos keluar masuk, ketahuan merokok, atau naik ke balkon belakang layar. Apalagi kebiasaan ATS kali ini yang harus disuruh dulu baru bergerak, sungguh agak merepotkan bagi koordinator ATS karena harus mondar-mandir mencari-cari demi menyuruh ATS.

Esoknya aku off, lagi-lagi harus kembali jadi bapak rumah tangga dan menyelesaikan masalah dengan ibu kost. Ahoy, akhirnya tenang juga pikiran dan bisa ikut di hari kedua gelombang kelima.

DSC00381 (2)Ada satu hal yang kunikmati selama training, terlebih di hari kedua. Yaitu saat katarsis. Kali ini, awalnya aku pesimis karena lagi-lagi kebagian blok belakang yang notabene kawasan ribut dan tidak konsentrasi. Saat mulai katarsis, aku pasang tampang seram dengan harapan peserta bisa serius mengikuti katarsis. Namun, perlahan keangkuhanku itu luntur ketika sayup-sayup terdengar jawaban dari peserta saat trainer berteriak-teriak, “Apa yang kamu mau?” dan “Siapa kamu?”. Merinding bulu roma, untung saja bendungan di pelupuk mata berhasil di tahan. Ternyata kali ini di barisan belakang ada yang serius mengikuti.

Aku pun terbawa emosi. Aku ikut berteriak-teriak di antara peserta itu dan aku makin bersemangat ketika peserta itu pun kian keras menjawab. Mungkin saat itulah saat paling membahagiakan bagiku selama training yang sudah berlalu. Alhasil, esoknya suaraku nyaris habis dan batuk makin parah karena memaksakan diri berteriak-teriak padahal batuk pilek masih bertahan di tenggorokan dan hidungku.

Dua gelombang terakhir adalah cobaan terberat, dan mungkin tidak diharapkan oleh sebagian ATS. Pesertanya kebanyakan dari kelas reguler mandiri hukum dan teknik yang berdasarkan pengalaman tahun lalu sangat susah diatur dan bisa dipastikan tidak lebih dari separuh yang akan serius mengikuti trainging. Tapi, aku tetap berbahagia ketika melihat teman-teman ATS tetap bersemangat. Apalagi pasukan keamanan yang dengan bangganya berhasil mengumpulkan 37 kotak rokok beserta korek-koreknya dari peserta. Jefri, komandan keamanan khusus yang terlihat paling bahagia. Hahaha…

Dan saat-saat yang ditunggu-tunggu datang juga. Lagu mahasiswa rantau diputar dan membuat seluruh jempol peserta dan ATS menari-nari. Dan yang tak kalah bahagia adalah ketika intro Hari Bersamanya dimainkan dan muncullah gambar Eross Candra di layar. Wahaha…aku ikut loncat-loncat macam nonton konser betulan. Tiada terkira akhirnya lagu itu diputar, padahal aku hanya sempat mengangankan saja beberapa hari yang lalu agar lagu itu diputar. Aye…!

Saat gelombang enam ini pula aku ingin berterima kasih kepada koordinator depan layar yang kala itu dijabat oleh Erza, akhirnya aku bisa ikut menghancurkan bunga. Sebenannya nggak tega, karena bunga itu indah. Hiks… tapi entah kenapa ada keinginan kuat untuk turut menghancurkannya. Ah, sekali ini saja lah nampang di depan peserta. Hahaha….luruskan niat!

Photo0044Hasil briefing sore gelombang enam memutuskan untuk tampil habis-habisan saat gelombang tujuh yang berarti itu adalah gelombang terakhir ESQ mahasiswa baru 2011. Sehingga dengan iseng ditunjuklah beberapa ATS senior untuk menjabat posisi-posisi penting selama training, semacam kapten blok, koor depan-belakang layar, dan lighting. Sudah bisa dipastikan aku terlibat di dalamnya, dan ban kapten blok kembali tersemat di lengan kiriku.

Peserta gelombang terakhir ini makin buandel. Hahaha… meski mereka tergolong ramah. Aneh sekali anak-anak jaman 2011, mereka cerdas, tapi nyeleneh. Hah, kudengar beberapa ATS mengaminkan agar mereka mendapatkan ganjaran saat bakti nanti. Euleuh euleuh…

Dan keisengan selanjutnya pun muncul. Aku didapuk jadi personil BBF. Haduh, aku nggak paham Korea sedikitpun. Mending jadi Sm#sh aja kali yak. Tapi aku kebawa semangat ketika menyaksikan Mas Budi berdandan cewek plus **** dan rok panjang. Ah, aslinya bingung harus gaya bagaimana. Maklum saja, pria ndeso harus tiba-tiba berpenampilan cool macam artis Korea. Yang ada malah Tukul mode ON. Puas…! Puas!

Derita terbesar saat tampil di depan adalah ketika harus mengangkat Rego yang berperan sebagai orang stress. Ampun, meskpiun sudah diangkat tujuh orang plus asisten trainer, tapi tetap terasa berat. Selesai itu langsung ngos-ngosan, yang digendong mah senyum-senyum aja. Pesta usai, dan aku harus mengembalikan imej menjadi seperti biasanya. Hahaha…

Saat katarsis pun nyaris dua blok di belakang tidak ikut dengan serius. Materi gelombang terakhir pun terasa makin dipadatkan sehingga kadang ada makna yang tak tersampaikan kepada peserta. Mungkin karena sore nanti akan ada penutupan besar-besaran, makanya dipadatkan sepadat mungkin. Dan itulah yang kurasakan sepanjang lima gelombang terakhir. Kadang ada materi yang terasa hanya sebatas materi saja. Hambar.

Photo0035Penutupan dipimpin oleh Pak Rektor, sebelumnya ada advice yang disampaikan oleh Vice President ESQ Center, Bapak Legisan. Setelah itu briefing singkat dengan trainer dan briefing lagi di ruangan ATS sekalianpembacaan uneg-ueng yang sudah dikumpulkan di kotak saran sedari pagi tadi.

Ada surprise. Entah dalam rangka apa dan tujuannya apa aku juga tak tahu. Tiba-tiba aku, Bg. Yahya, Ida, dan Kak Lidya di suruh maju ke depan. Lalu dikasih kue. Heleh, kan nggak ada yang ultah. Pake acara potong kue segala. Katanya sih persembahan dari yang muda kepada yang tua. Maksudnya…???

Tapi apapun itu, kami hargai pemberian itu meskipun tak ada niat untuk menjualnya kembali untuk ongkos pulang kampung.

Hmm, akhirnya jatuh pada kesimpulan. Ada beberapa catatan yang harus digaris bawahi sepanjang training ESQ tahun 2011 ini.

Pertama, sepertinya tak ada koordinasi dari pihak rekorat dengan pihak lain semacam FKA atau sebagainya sehingga kadang pihak FKA sendiri tak mengetahui jalannya training ESQ.

Kedua, entah kebijakan apa yang diterapkan, trainining ini dipercepat setengah jam dari waktu biasanya. Alhasil, banyak materi yang terasa dipadatkan. Hal ini berimbas ke berbagai pihak. Misalnya trainer yang jika tak pandai-pandai hanya akan menyampaikan sesuatu yang membosankan dan tidak masuk ke hati, peserta yang harus berganti suasana dengan begitu cepat dan dipaksa menerima materi itu dalam waktu singkat dan padat, serta ATS yang juga kewalahan menghadapi peserta.

Ketiga, ATS lebih sering menghilang ketika kondisi alfa. Sebagian bisa ditemukan di belakang tirai atau di ruang ATS. Padahal peserta lebih membutuhkan ATS ketika kondisi alfa. ATS secara langsung pun bisa memberi efek kepada peserta. Itulah kenapa ada trainer di depan dan ATS di belakang karena diharapkan kita bisa mengurung peserta dari depan dan belakang dalam suasana yang kondusif. Jika ATS saja tak ada bagaimana kita bisa ‘memerangkap’ peserta dalam suasana training yang kondusif.

Keempat, ATS lebih sering terlihat main HP dan mengobrol di belakang peserta daripada berzikir. Atau yang kelihatan diam saja ternyata tidur. Padahal apapun yang dilakukan ATS di belakang akan berefek pada peserta. ATS pun kian susah diatur. Luruskan niat…!

Kelima, hijab ATS lintas gender sangat kurang. Interaksi sangat bebas dan terkadang kelewat batas, baik itu untuk bercanda atau urusan yang lain. Sehingga tak jarang terdengar ada ‘ajang cari jodoh’ di ruang ATS. Padahal koordinatir sudah berulang kali memperingatkan agar menjaga hijab dan lagi-lagi luruskan niat…!

Keenam, ada saat-saat menyenangkan sepanjang ATS, seperti rebutan nasi dan kotak snack saat pulang menjadi hiburan tersendiri bagi para ATS. Sehingga ada jargon baru bagi ATS kali ini, ‘Luruskan Niat, Ringankan Langkah, Beratkan Tas…!’

Ketujuh, mungkin aku udah agak ‘lebih tua’ (yang bukan berarti sudah tua) maka ada suasana tersendiri di antara ATS kali ini, lebih renyah, lebih narsis, dan lebih ngeyel. Hahaha…

But, Overall…. Good Job! Hope for the next time would be better. Ganbatte…!