Kaya dan Sehat

Seperti jum’at-jumat yang biasa, saya pun seperti biasanya. Ketika menjelang tengah hari, saya mengayunkan langkah menuju Masjid At-Ta’lim Sendik BRI untuk menunaikan shalat jum’at berjamaah. Masih agak lengang dan saya memilih duduk di shaf kedua dengan pertimbangan bahwa di depan saya ada dua orang bapak-bapak sedang duduk bersila dan agak renggang, jadi nanti ketika shalat ditunaikan saya bisa nyelip di sana dan berada di shaf pertama.

DSC00339

Agak mengantuk, padahal perut sengaja tak saya isi agar pembuluh darah menyusut. Kata ustadz, biar setan tak bisa meraja lela di tubuh kita. Jadi kita akan bisa menahan kantuk ketika khutbah.

Sang khatib mulai berkhutbah, lebih mirip berorasi karena gaya berkhutbahnya mirip K.H. Zainuddin MZ. Pelan di awal, keras di tengah dengan penuh penekanan, dan diakhiri dengan kemenangan telak 21-14 dua set langsung. (halah,,,masih kebawa-bawa nonton Djarum Indonesia Open Open-mouthed smile)

Dan saya masih bisa menangkap inti dari khutbah kala itu. Berikut saya coba tuliskan beberapa yang masih saya ingat.

Kali ini khatib membahas tentang nikmat kaya dan kesehatan dikaitkan dengan tiga hal yang menyebabkan kekayaan dan kesehatan kita itu membawa berkah. Yang pertama adalah Al Qur’an. Seperti kita ketahui, Al Qur’an diturunkan sebagai pedoman bagi manusia. Ibarat kita adalah sebuah sepeda motor, maka Al Qur’an adalah panduan pemakaiannya sehingga kita tidak menyalahi kodrat kita sebagai manusia seperti sedari awal Allah menciptakan kita.

Tapi tak jarang dari kita yang sedikit sekali bisa memahami isi Al Qur’an. Jangankan memahami, terkadang membacanya pun sangat susah sekali. Bisa kita saksikan bahwa anak-anak muda sekarang jarang yang pandai membaca Al Qur’an. Menurut survey di Kota Padang, sekitar lebih dari 70% remaja Kota Padang tidak lancar membaca Al Qur’an dan sekitar 60% pegawai di Kota Padang juga tak bisa membaca Al Qur’an dengan benar. Bahkan yang punya sejarah khatam Qur’an pun tidak pandai membacanya lagi.

Dengan kenyataan seperti ini bisa kita simpulkan bahwa Al Qur’an sudah benar-benar tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Media yang jadi panutan. Dan jangan salahkan jika seperti itulah generasi yang kita bentuk, generasi yang sedikit sekali paham Al Qur’an.

Kedua, adalah berbuat baik kepada kedua orang tua. Kita tak akan pernah bisa membalasnya, sehingga yang bisa kita lakukan hanyalah berbuat baik kepada mereka. Hal inilah yang mempengaruhi kehidupan seorang anak. Bagaimana kita saksikan anak-anak yang tidak menghormati orang tuanya, bahkan mendurhakainya, tidak memiliki harta yang barokah. Tidak memiliki kesehatan yang barokah. Sehingga banyak orang-orang kaya yang sakit-sakitan. Bisa jadi karena mereka tak berbuat baik kepada orang tuanya.

Ketiga, yaitu sedekah. Sedekah bukanlah mengurangi harta kita. Ibarat memancing, sedekah tadi adalah umpan yang kit alemparkan ke kolam. Dan ikan yang kita dapat itulah yang akan semakin menambah harta kita. Bisa kita bandingkan, mengumpan cacing tapi dapat ikan.

Itulah tiga hal yang khatib sampaikan siang itu. Hmm, saya hanya mampu mengingat segini saja. Semoga maksudnya dapat tersampaikan dengan baik. Dan seperti dugaan saya, saya mendapatkan tempat di shaf pertama ketika shalat akan dimulai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s