Solok I’m in Love #6

A black side, is it the end when I’m fallin in love?

Aku menjadi sedikit benci pada sebuah keadaan, dimana sebuah keangkuhan bisa meruntuh dan menutup jalan pikiran. Yang ada hanya prasangka dan kutahu jalan itu takkan bisa lagi untuk ditapaki. Puluhan buldozer menyingkirkan batu-batu itu dari jalan, tiada yang bisa kuperbuat selain menunggu. Longsoran ini begitu cepat dan tak terduga, tanpa ada hujan.

Aku dalam perjalanan, yah…bolehlah kau katakan aku ingin kembali ke Solok mengulang setiap detik dan merangkai potret itu menjadi sebuah kolase. Kolase yang hampir lima tahun ini kupungut dari sisa kulit pohon pinus yang tumbuh di pinggir Danau Biru. Aku yang begitu sok tahu terkadang ikut pula memungut kulit pohon perdu yang kusangka pinus, menggabungkannya dengan puluhan kolase yang ada. Tidak pas, memang.

Dan bodohnya itu baru kusadari kini. Karena itu, aku ingin memungut kulit pinus itu sebanyak-banyaknya, mengganti belasan kulit pohon palsu yang ikut kupungut bersama waktu. Nyatanya, belum separuh perjalanan ini kutempuh aku harus menghadapi sebuah longsoran batu kepercayaan begitu banyak.

Kulihat seorang bapak coba menebas ranting pohon besar yang ikut longsor. Susah payah, akhirnya sebuah mesin chainsaw cukup membantunya. Ada seorang ibu-ibu yang sedang menonton acara pembersihan ini sambil menyuapi anaknya yang bertelanjang dada. Dia memakai tutup kepala yang hanya berupa selendang dililitkan sedemikian rupa sehingga membentuk tanduk kerbau. Minang sekali.

Aku tersenyum pada penjual ‘pregede jaguang’ dan tahu goreng yang sedari tadi menjajakan suaranya pada deretan mobil yang terjebak macet. Aku berkali-kali menggeleng, dia datang lagi. Akhirnya kututup jendela hitam ini, maaf…bukan tak ingin membeli daganganmu, aku mabuk dan aku tak ingin kau menerima muntahanku bukan? Akhirnya dia mundur perlahan, tetapi melihatku dari jauh. Sebentar, aku seperti pernah melihatnya di suatu waktu. Kubuka lagi jendela hitam ini, dan dia telah menghilang, suaranya pun tak ada lagi.

Hhh, kuhempaskan nafas panjang. Jalan ini menjadi panjang, penantian ini pun menjadi terlalu panjang. Sudah setengah hari tak juga terbuka itu runtuhan walaupun sedikit, paling tidak muat untuk ukuran kendaraan yang kutumpangi ini. Aku tingin tidur saja, tapi mata ini begitu nyalang. Aku bosan melihat batu itu selalu turun ke jalan meskipun telah disingkirkan dari jalan.

Bayangan tempat yang akan aku tuju belum juga terbias di benakku. Akankah seindah simpang tiga tempat ayam jago itu bertengger gagah, atau seperti berpetak-petak sawah yang diselingi tanaman bawang merah dan selada serta kol hijau yang kenyal ketika dimakan, atau bisa seeksotis Alahan Panjang yang menyimpan seribu harap tiada kepalang dalam tiap kabut kelimut yang menyelimuti pinus-pinus itu dengan damai.

Aduhai, kukira ini masih awal untuk perjalanan. Kenapa harus seberat ini. Aku membawa berkilo-kilo pertanyaan di bagasi, bukan hanya di kepalaku. Pertanyaan yang aku tak pernah tahu kapan akan terjawab. Semoga saja bahan bakar kendaraan ini masih cukup untuk membawaku menjawab setiap pertanyaan itu.

Matahari mulai melorot ke barat. Bayang-bayang mulai setinggi badan. Aku masih terduduk dan merasa mulai penat. Makin puisng karena rutukan dan bunyi klakson yang kian tak sabaran. Sementara batu-batu itu masih saja turun dan memenuhi kembali tiap celah yang berhasil dibuat oleh orang-orang itu.

Akankah keputusasaaan meliputi pembersihan jalan ‘pikiran’ ini? Aku masih menunggu!

4 thoughts on “Solok I’m in Love #6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s