Solok I’m in Love #5

Diatas Lake, Alahan PanjangLake_Diatas_in_Alahan_Panjang_by_Irsan.113102622_large

Kali ini aku hanya ingin berbicara tentang biru. Ya, pernah kutemukan biru di Solok, beberapa kali. Seperti tembang Sebelum Cahaya yang pernah membiru di hatiku. Untung saja, tak terlalu lama biru itu memudar dan hilang begitu saja dari sana. Mungkin saja tenggelam di Danau Diatas yang biru.

Akhirnya, lumba-lumba biru itu pun bertemu dengan paus biru. Entah biru atau sangat biru, buatku itu tampak seperti kelabu. Ah, mungkin saja mataku yang kian lamur sehingga sulit membedakan biru dan kelabu. Jangan marah ya, paus kelabu itu akan selalu menjagamu, bahkan dari gangguan ganggang biru sepertiku. Aku akan pergi menjemput biru yang lain. Semoga saja kalian semakin membiru, atau justru mengelabu(i).

Ya. Aku sepertinya kembali menemukan rubi yang biru di puncak Alahan Panjang. Biru yang pernah kujumpai di selimut kabut. Biru yang pernah kusinggahi di antara pokok pinus yang melambai syahdu. Biru yang sempat menjadi tak biru ditutupi halimun. Kali ini kutemukan ia di tepi sebuah danau biru, The Dream Place – itu katanya. Dia sedang duduk termangu sambil menggoyangkan kakinya yang jenjang di dingin beku danau biru.

Alunan biru itu berganti menjadi senandung kabut di puncak kesekian yang pernah kudaki dan bisa kutaklukkan. Kabut asing yang belum pernah kutemui sebelumnya, atau aku mungkin lupa pernah menemuinya. Sungguh, memoriku tentang biru pernah terkubur pilu. Bahkan aku sudah lupa kapan aku pernah tertidur dengan hati yang biru.

Aku pernah menjadi heran. Sebiru apakah aku di matamu sehingga syahdu Danau Biru tak sanggup menandingi biruku di matamu. Aku hanya biru yang sudah tak lagi biru. Banyak luka, darah yang mengering, lumpur kesedihan, bahkan biruku tak utuh lagi oleh keputusasaan. Hanya itu yang tak sanggup kutemukan di biru matamu. Cukup sebuah alasan, katamu. Yaitu Birumu. Kita berjalan-jalan di hari yang biru, senyum yang biru, dan janji yang biru yang tak pernah terkatakan. Hanya tawa kecil itu yang kulihat begitu putih dan bersih. Meski matanya tetap saja menyimpan biru asamu.

Masihkah aku punya cukup pigmen untuk membiru? Kurasa aku harus menyelam ke dalamnya lautan yang biru. Tapi aku takut akan bertemu hiu lalu memakanku. Ketakutan yang terlalu naif, lagipula tak ada lautan di sini. Kau hanya cukup menyepuhnya dengan sedikit biru dari ludahku dan biar kupinjamkan lidahku untukmu, lagi-lagi katamu. Bakarlah di matahari yang jingga, lalu biar aku yang mendinginkanmu di semburat rembulan yang biru. Terlelaplah di pelukku.

Kata-kataku masih terlalu biru untuk bisa meneruskan kisah yang biru itu. Kubiarkan sedikit putih menawarkan rasa yang terlalu biru, agar biru itu kian lembut dan semakin sejuk. Kita biru, tapi kita bukan biru yang tak butuh sesuatu. Biar putih itu menyatukan biruku dan birumu, sehingga biru kita yang baru adalah sebenar-benarnya biru.

Kuselesaikan pendakianku yang biru ini. Kusudahi memandangimu yang biru dari balik jaketku yang biru. Sebentar kuukir sajak biru di dahan pinus yang tetap saja kemayu. Hingga esok, ketika fajar mengakhiri malam dengan biru.

Pdg, 31 Mei 2011

3 thoughts on “Solok I’m in Love #5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s