Khutbah Jum’at #2

Jum’at lalu (8/4) saya kembali menunaikan kewajiban bagi umat muslim di masjid kesayangan para mahasiswa, Masjid At Ta’lim Sendik BRI. Sebenarnya saya bukan tak ingin shalat di masjid dekat rumah, tapi shalat di sini memiliki kesan tersendiri, nyaman, bersih, dan kita begitu menikmati setiap jamuan di masjid ini.

DSC00897Saya hanya berhasil mengingat beberapa poin dalam khutbah jum’at karena khutbah kali ini rasanya agak panjang. Mungkin karena gelar sang khatib ‘Khatib Batuah’ sudah keburu disebut, maka beliau berkhutbah layaknya ceramah. Tapi tak apa, saya tuliskan beberapa poin penting dalam khutbah kali ini.

Ada lima hal yang menghalangi seseorang untuk menjadi jujur. Lima hal tersebut adalah:

  1. Iblis di depan kita, iblis akan selalu menghadang kita untuk berbuat benar dengan sekuat tenaga dan dengan cara apapun. Iblis sangat tidak suka kita berbuat jujur karena akan sangat menyakitkannya. Maka dia akan menghalangi dari depan agar kita menjadi ragu dan berbuat tidak jujur.
  2. Nafsu di sebelah kanan kita. Nafsu selalu beriringan jalan dengan kita, bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada nafsu makan, nafsu ingin memiliki sesuatu, atau nafsu mendapatkan sesuatu. Keinginan nafsu yang begitu besar terkadang memaksa kita untuk (terpaksa dan takluk) untuk tidak jujur demi memenuhinya.
  3. Hawa di sebelah kiri kita. Hawa ini biasanya selalu disandingkan dengan nafsu menjadi Hawa Nafsu. Hawa adalah nafsu yang lebih kepada lawan jenis, bisa laki-laki kepada perempuan atau sebaliknya. Ketertarikan kepada lawan jenis yang kemudian mengundang nafsu bisa mengekang kejujuran dalam diri kita sehingga demi ‘dia’ kita bisa berdusta dengan sejuta bahasa.
  4. Dunia di belakang kita. Jika dunia telah berada di belakang kita, maka kita akan memiliki tekad untuk maju terus melawan apa yang menghadang, tak peduli apakah itu aturan atau larangan. Dunia akan memaksa kita terus mengisinya, padahal nyata-nyata jika kita hanya terpaku pada dunia, sesdungguhnya kita tidak mengisi bekal kita dengan apa-apa. Bekal kita kosong, sementara dunia suatu saat akan lenyap dari diri kita.
  5. Pancaindra di sekitar kita. Kelima indra ini tentu sudah tidak asing karena setiap hari kita menggunakannya, setiap hari kita memanfaatkan jasanya. Apa yang kita rasakan melalui pancaindra pun mampu membungkam kejujuran ketika misalnya kita melihat sesuatu yang menyenagkan padhaal itu dosa, tapi kita tetap melihatnya, maka sesungguhnya kita sudah tidak jujur lagi, pada diri sendiri juga pada Tuhan.

Demikianlah lima hal yang menghalangi kita untuk berpikir, berkata, dan berbuat jujur. Sudah saatnya kita bisa menguasai apa yang ada di sekitar kita sehingga kita mampu mengendalikannya, bukan mereka yang mengatur kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s