Catatan Perjalanan

Hari ini saya memutuskan akan pergi ke Pasaraya. Sebenarnya malas sekali pergi ke sana jika tak ada keperluan penting semacam berburu koran minggu, membeli kaos kaki, kumpul komunitas atau pergi ke toko buku. Pemandangan yang disajikan di Pasar Kota Padang ini sungguh membuat saya mual. Orang-orang Minang sudah makin bangga dengan budaya barat yang lebih menonjolkan diri daripada isi.

DSC00598 Sepasang muda-mudi bisa kita temukan di setiap sudut Lapangan Imam Bonjol, entah sudah halal atau tidak, tapi rasanya belum lah. Perempuan-perempuan berbaju seksi wira-wiri tanpa malu lagi mempertontonkan tubuh mereka di depan umum. ABG-ABG labil Kota Padang kian parah, bergaya aneh tak tentu arah.

Ah, membincangkan keburukan kota ini tak ada habisnya. Lebih baik menyimak catatan kecil perjalanan saya hari ini.

Niatnya hari ini hanya ingin ke optik untuk mengganti kacamata karena sudah mulai tak nyaman dipakai dan bingkainya patah. Saya tak bisa hidup tanpa kacamata, rasanya hidup tak nikmat. Hahaha, lebay…!

Sedari malamnya saya merencanakan akan pergi dengan teman serumah, tapi ternyata dia ketiduran dan saya memutuskan untuk pergi sendirian. Pergi sendirian ke Pasaraya punya sisi enak dan nggaknya. Enaknya, kita bisa jalan kemana saja tanpa ada yang komplain. Saya sangat suka jalan kaki dan begitu menikmatinya. Nggak enaknya, tak ada teman ngobrol ketika duduk di Warung Sate KMS atau berteduh di Pondok Es Rumput Laut, atau ketika mampir di Cendol Pattimura. Lho, kok makanan aja nih isinya? Hehe…

Oke saya lanjutkan.

Saya berangkat nyaris pukul tiga sore karena keasyikan mengomentari sebuah foto di FB. Bahkan rencana menyeterika baju hari ini pupus sudah gara-gara keasyikan online. (Ya Allah, semoga onlen hari ini membawa berkah. Amiin)

Cuaca tak menentu, tapi agak panas, saya urung memakai kaos hitam. Pasti akan sangat gerah. Saya pakai kaos bermerek ‘Bandung’ warna putih. Penting gitu dijelasin kayak gini? Hehe…sekedar informasi.DSC00213

Begitu sampai di tujuan, saya kembali disuguhi tatanan Kota Padang yang semrawut. Parkiran hingga ke badan jalan, kuda-kuda bendi yang menjorok ke jalanan pula, penjual kaki lima yang memenuhi trotoar, angkot yang adu klakson, dan bau yang menyengat di mana-mana. Anak-anak kecil kusut berlarian di jalan, pengemis yang menggiriskan hati ada di sudut-sudut jalan. Saya mempercepat langkah yang sudah cepat-cepat ini.

 DSC00206 Optik yang dituju ternyata tutup. Olala, saya lupa hari ini hari minggu, kebanyakan toko atau kios milik orang China akan tutup di hari libur. Saya lalu beranjak ke optik di sebelahnya. Tak apa lah, meskipun bukan optik terkenal, setidaknya saya beli kacamata di optik yang ada di sebelah optik terkenal. Haduh,,,maksa…!

Beruntung hasilnya bisa diambil hari itu juga, tapi harus menunggu sekitar setengah jam. Saya tetap membeli kacammata itu karena sangat butuh. Selain minusnya nambah, harganya pun nambah pula. Haduh, kian mahal saja kacamata minus ini.

Menunggu waktu setengah jam akan sangat membosankan karena saya hanya sendirian. Saya melirik iri pada tiga orang perempuan yang saling ngerumpi di sebelah saya. Mereka bisa saja melewatkan waktu tiga jam tanpa sadar jika telah bertemu sesama jenis. Lho?

Waktu setengah jam saya manfaatkan untuk pergi ke PA atau Plaza Andalas. Tujuan saya ke sana cuma satu, naik kelantai tiga dan shalat ashar di sana. Lebih aman tanpa khawatir sendal ilang. Aneh, ke Plaza malah buat shalat. Ya, saya paling suka shalat si PA lantai tiga. WC-nya bersih dan tempat shalatnya nyaman meskipun dekat dengan lantai empat yang notabene pusat segala hiburan.DSC00204

Pemandangan di PA lebih beragam lagi. Plaza yang sempat rusak digoyang gempa setahun silam itu ternyata tak menyurutkan minat pengunjung ke sana. Beragam pemuda-pemudi jual aksi. Macam-macam lah. Ada yang ngakunya anak punk, anak metal, anak emak, anak bapak. Wah, banyak lah. Dan beragam keparahan ada di sana. Rata-rata yang berpasang-pasangan, berdua-dua lawan jenis. Mau window shoping gratis juga ada, ada paha, rambut, bibir, dada…ups…!

DSC00201 Saya tak lama-lama di sana. Segera setelah selsesai shalat saya langsung menuju optik tempat memesan kacamata tadi. Ternyata harus menunggu lagi sekitar lima belas menit. Hanya ada saya di optik itu karena mbak-mbak pelayannya lagi pada shalat. Dan saya sendirian, boring sekali. Setelah mendapatkan kacamata saya bersegera pulang. Di tengah perjalanan, saya memboyong dua koran nasional edisi minggu, berharap kali ini ada nama saya tercantum di sana. Hehehe…

Sepanjang perjalanan (dua kali PP di dalam angkot), sebenarnya agak risih karena saya pakai celana jeans dan kaos yang pas badan. Meskipun cuek, saya memang agak sensitif dengan urusan penampilan. Apalagi duduk di angkot dengan penumpang berhadap-hadapan, mau tak mau pasti saling melihat lawan. Haha…saya tak mau mereka ketawa atau memandang aneh karena penampilan saya ada yang salah. Beruntung semua berjalan baik-baik saja.

Yah, saya punya kacamata baru. Begitu memakainya, rasanya dunia begitu terang dan jelas. Saya tak lagi hidup di dunia remang-remang dan kebimbangan. Halah…! Meskipun harus merelakan uang honor mengedit naskah hanya sempat menginap di rekening selama tiga hari. Hiks… Ayo kerja lagi…!🙂

DSC00214 Tadinya mau ambil gambar obral sendal, yang keliatan kok malah….😀

3 thoughts on “Catatan Perjalanan

  1. Id_chan says:

    Window shoping ye, dpt ap?😀

    Ih gitu yaa…
    Mam cate n es lumput laut tak ajak2 ki…. Awass yaa….

    Itu ftonya….
    Jahaat nian….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s