Derita si Kacamata Minus

DSC00199-1

Bukan salah ibu mengandung, bukan pula salah bapak yang tidak mengandung.

Ini sebenarnya (mungkin) derita yang aku inginkan sendiri. Aku dulu ingin sekali memakai kacamata, rasanya jadi makin keren dan kelihatan intelektual. Dan gejala penderitaan ini mulai kurasakan sejak masuk semester kedua tahun pertama SMA. Saat itu aku tak mampu membaca tulisan dalam sampul belakang buku pelajaran dalam jarak lebih dari 50 sentimeter. Gara-garanya pihak sekolah mewajibkan seluruh siswa belajar komputer selama empat semester.

Gambar untuk sekalian promosi buku….^^

Bisa dibayangkan bentuk komputer tahun 2002, besar, layar cembung, tajam, dan menyilaukan. Dan rata-rata komputer di labor tidak memakai filter layar untuk kenyamanan penglihatan. Berlanjut pada keranjingan komputer inilah awal derita yang harus kurasakan.

Temanku yang senasib akhirnya menenggerkan sebuah kacamata di wajahnya karena merasa penglihatannya makin kabur. Aku cuek saja, bukan karena bandel atau apa, aku hanya (lagi-lagi) cukup takut untuk ke optik biarpun cuma sekedar periksa mata.

Dan waktu terus berjalan, aku menikmati derita (yang belum terasa ini) hingga kelas tiga.

Sewaktu aku kelas dua aku makin merasa kesulitan dengan gangguan penglihatan ini. Dan aku jadi lebih sering keki dan sebel ketika guru Fisika membahas tentang gangguan optik atawa penglihatan. Alhasil, nilai 5 menghiasi nilai fisika tengah semester dua. Agak nggak nyambung sih, tapi harus tetep ditulis demi kesinambungan cerita ini.😀

Pada tahun ketiga, ketika sedang jaya-jayanya menjadi senior, aku sudah tak mampu membaca tulisan di papan tulis, dan mau tak mau aku harus cari tempat duduk paling depan. Untung saja wali kelas tidak memberikan aturan rotasi pindah tempat duduk. Jika itu terjadi bisa dibayangkan aku sangat kerepotan.

Toh, akhirnya aku masih bisa menikmati hidup tanpa kacamata dengan segala penderitaan itu hingga akhirnya aku masuk kuliah. Dan inilah awal aku mengenal sebuah ‘kacamata’. Ketika mendengar hasi tes, ingin rasanya pingsan. Tapi berhubung aku pergi sendirian, aku takut jika nanti ketika terbangun berada di pinggir jalan dekat tign sampah. Wedew…

Hasilnya mengejutkan, mata kanan sudah minus 1,75 dan mata kiri minus 1,5 (kok nggak kompakan gini sih…) Hal ini akhirnya memaksaku untuk merelakan dua tiga lembar uang jajan buat beli kacamata. Kacamata pertamaku berbingkai tebal dan lensanya dari kaca. Berat sekali. Meskipun tak besar-besar amat. Tapi sangat tangguh sekali, pernah kejatuhan botol parfum dari kaca dan tidak apa-apa, cuma agak miring sedikit.

Setahun kemudian, aku harus menggantinya karena tiba-tiba (di saat yang tidak tepat dan tidak menguntungkan) lensa sebelah kanan copot dan bingkainya patah. Untungnya, aku baru saja keluar dari ruang kelas. Langsung ngibrit ke optik buat order kacamata baru.

Kacamata kedua sedikit menyakitkan meskipun bentuknya makin kecil, bertangkai seperti lidi dan lagi-lagi tambah berat karena minusnya jadi sama, kiri kanan sama-sama 1,75. (tumben kompakan) Ketika kondisi lelah, kacamata ini begitu menyiksa karena menekan batang hidungku yang tak mancung-mancung amat ini.

Tahun ketiga, aku mencoba peruntungan baru, mencoba sedikit lebih modis dengan membeli kacamata berbahan plastik dan lebih tipis serta ringan. Wha, gaya sekali waktu itu dikatakan oleh yang jaga optik, “Mas ganteng deh, pas banget sama kacamatanya.” Hueks,…(dasar mbaknya, kalo nggak dibagus-bagusin pasti aku nggak bakal beli…hahaha) meskipun aku harus kembali menelan ludah mendengar penuturan jujur mbak-mbak itu yang mengatakan minusnya kini naik jadi 2 kiri kanan. Wadaw…!

Setahun kemudian harus beli kacamata lagi, selain minusnya nambah jadi 2,25 aku memang harus punya kacamata karena kacamata yang kupunya hancur saat terjadi kecelakaan di jalan raya. Iya lah, kalo di jalan setapak mah bukan kecelakaan, kamu aja yang nggak liat jalan…xixixi

Dan itulah kacamata yang bertahan hingga sekarang. Aku tak bisa hidup tanpanya. Pernah lupa bawa ketika ke kampus, dan aku harus merelakan tak melihat apa-apa kecuali mengoptimalkan indra pendengaran ketika mendengar dosen ceramah.

Sudah dua tahun dan aku belum menggantinya, lagipula bentuknya masih bagus. Hihihi… Dan kali ini pun rasanya harus ganti karena meskipun aku pakai kacamata masih nggak jelas aja melihat sekitar, apalagi objek-objek yang sangat mendetail, seperti wajah orang atau nomor polisi kendaraan.

Yah, inilah derita yang dulu kuinginkan. Tapi kata orang aku tambeh ganteng pake kacamata (huihihi), tentu saja…jika tambah cantik bisa dipecat jadi anak lelaki. Konsekuensi yang aku terima pun rasanya setimpal dengan ke’ganteng’an yang aku rasakan.

Salah satunya harus sabar dan ikhlas dikatai ‘Mata Empat’. Haduh, dapat dari mana sih ni orang istilahnya. Lalu harus sabar-sabar dikatain sombong lantaran jalan lempeng aja nggak negur-negur temen. Haha, maklum…aku jarang pake kacamata kalo lagi jalan (ini beneran jalan kaki, hobi dari orok…:D) jadinya lihat wajah orang abstrak aja gituh. Kebanyakan mereka yang dulu menyapa, atau menepuk bahu, atau yang paling kesel ngelempar sendal. Woi…!

Trus nggak bisa ganti pakai kacamata item yang gaul gitu tanpa modifikasi, tak bisa pakai kacamata selam, dan tak bisa makan pempek kapal selam Pak Raden. Lho…?

Tiba di kesimpulan. Memakai kacamata memang keren dan membuat kita makin ganteng atau makin cantik. Tapi ini sangat sungguh merepotkan. Tak bisa nonton tipi secara leluasa, tak bisa main komputer dengan enak, dan tiba saat lelah (dan tak bisa dikompromi) kacamata akan menjadi sebuah benda yang sungguh menyiksa batang hidung dan daun telinga, juga kepala. (dompet juga jika sudah harus menggantinya) Haduh…

Tapi yang tetap ingin berkacamata, ya silakan saja. Aku tak melarang kok, asal pake yang netral, yang harganya 20ribuan😀 karena kacamata minus itu mahal sekali.

Sekian saja cerita derita si Kacamata ini. Sekali lagi, jangan ditiru ya, ambil saja yang baik. Yang jelek simpen aja, kali aja bisa jadi mainan anak cucu. Lho…?

Diketik sambil pake kacamata…

Pdg, 12/04/11

5 thoughts on “Derita si Kacamata Minus

  1. putra says:

    dulu sewaktu smp saya sudah memakai kacamata minus 1.25 dan smp saat ini mnjadi 2.00 memang tak dipungkiri setelah memakai kacamata saya menjadi lebih pd dan lebih ganteng,heheheh lebih jelas jga melihat objek.
    malah waktu saya jatuh dan berjalan memakai kruk (tongkat kaki) teman saya bilang kl saya ini manusia bermata 4 dan berkaki 4…sungguh menusuk…
    kemanapun saya pergi pasti selalu memakai kacamata,saya merasa kacamata adalah barang paling berharga untuk saya,bahkan sering lupa melepas kacamata saat tertidur.hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s