Mas Imam

Konon, di sebuah masjid terdapatlah tiga orang imam yang biasa memimpin shalat berjamaah lima waktu. Ketiga imam ini ‘diangkat’ sebagai imam tetap oleh pengurus masjid DSC00203dan masyarakat sekitar, mungkin karena mereka sedang menempuh pendidikan di 1A1N sehingga dianggap punya ilmu agama yang cukup.

Selain ketiga orang itu, ada pula beberapa penduduk sekitar yang biasa mengimami shalat. Namun, ada satu orang yang terlihat sangat sering menjadi imam, apalagi saat siang hari ketika para imam tadi sedang di kampus. Kita sebut saja beliau sebagai imam independen.

Ketiga imam tersebut memiliki tabiat dan perilaku masing-masing, baik dalam rangka mengimami shalat maupun ketika shalat sendirian. Dan terkadang, tidak sadar bahwa perilaku itu membuat mereka seakan bisa menentukan irama dan aroma shalat berjamaah.

Mungkin ada beberapa makmum yang merasakan hal yang sama,

kebanyakan itu adalah para penuntut ilmu pulayang tinggal di seputaran masjid. Tapi, penduduk sekitar sudah terbiasa karena kadung ‘jatuh cinta’ kepada ketiga imam tadi.

Sebenarnya miris juga sih mendengar kisah mereka, tahu saja lah upah marbot itu berapa dan mereka mungkin mengalaminya. Untuk itu, mereka mengajar pula sebuah TPA setiap habis shalat maghrib.

Dan yang akan kita bahas kali ini adalah tabiat para imam tadi, baik yang tetap maupun yang independen. Dan tabiat ini membuat saya (atau mungkin beberapa makmum lain merasa ilfeel terhadapnya).

Imam pertama, memiliki karakter suara yang khas alias kuenceng sehingga ketika dia adzan pun kadang mic tak sanggup menerima suaranya dan lantunan adzan terdengar seperti terputus-putus. Dia memiliki tabiat tersendiri ketika menjadi imam, apalagi jika mengimami shalat zuhur dan ashar. Dia shalat cepat sekali hingga kadang makmum banyak yang terlambat mengikuti gerakannya. Akhir-akhir ini, dia terkesan tergesa-gesa ketika wirid setelah shalat. Saya membayangkan bahwa apa mungkin Tuhan mau disanjung dengan begitu tergesa-gesa.

Jika shalat sendiri ataupun ketika menjadi makmum (juga), maka dia akan suka sekali melakukan gerakan over, seperti menggaruk tangan, meraba punggung, dan seringkali menguap dengan selebar-lebarnya tanpa tedeng aling aling atau ditutupi dengan tangan. Buat saya, itu sangat tidak sopan. Lalu, ketika rukuk dia menunduk terlalu rendah sehingga punggungnya tak sejajar, ditambah lagi gerakan swing mengayun-ayunkan badan beberapa kali ke depan dan ke belakang. Dan ketika meng’amin’kan doa imam, dia sangat tidak serius sehingga seolah abai terhadap apa yang mereka minta dalam doa.

Imam kedua, memiliki karakter suara yang beda pula, kebalikan dari imam pertama, yaitu suaranya sayup-sayup tak sampai, lemas, tidak bersemangat, dan pelan sekali. Oh, ada ya laki-laki yang bersuara seperti itu? Ketika adzan atau mengimami, maka iramanya seperti irama anak-anak TPA yang sedang belajar mengaji. Standar sekali. Dia terlihat ingin membaca ayat panjang ketika mengimami, tapi lebih banyak salah ucap ayat atau banyakan lupanya. Biasanya saya langsung ilfeel ketika mendengar dia adzan.

Saya tidak begitu memperhatikan ketika dia shalat sendiri, tapi, yang pasti ada yang aneh jika penduduk sekitar mengangkatnya sebagai imam.

Imam ketiga, sebenarnya ini dianggap sebagai imam utama (bukan mantan gubernur Jatim lho ya…) Dan karena julukan ini, dia agak songong. Dia hanya akan mengimami shalat subuh berjamaah hari jum’at saja karena pada hari itu imam akan membaca surat As-Sajdah secara utuh. Hanya dia yang hafal dan seolah-olah ketiga imam yang lain tak berusaha untuk menghafalnya. Dia seperti dieksklusifkan.

Sifatnya pun muncul ketika shalat sendiri. Dia kebanyakan menghirup udara dari hidung, maksudnya seperti menarik ingus sehingga meinmbulkan suara-suara. Lalu, jika sendirian, dia akan shalat begitu cepatnya, rukuk dan sujud dengan cepatnya seperti ekor capung ketika bertelur sehingga kesannya dia tidak membaca tasbih ketika rukuk dan sujud. Nah lho….!

Imam keempat alias imam temporer atau imam independen tadi. Beliau adalah ketua RT setempat dan biasa menggantikan menjadi imam ketika shalat zuhur dan ashar. Bapak ini tidak memiliki nilai estetika. Ketika adzan, beliau akan menaikkan suara setinggi-tingginya hingga terkesan melengking dengan satu nada saja. ketika mengimami, dia mengucapkan ‘Allahu Akbar’ atau “Sami’allahu liman..” dengan ambigu. Maksudnya, beliau tidak membedakan panjang pendek pengucapan untuk sujud, bangkit dari sujud, ataupun bangkit dari dua sujud, semua sama saja. Sehingga membuat makmum ragu untuk segera mengikuti gerakannya.

Ketika sendiri atau menjadi makmum pun, beliau suka sekali menguap selebar-lebarnya, sama seperti kasus imam pertama. Lalu, beliau seringkali terkantuk-kantuk. Dan ciri khasnya adalah zikir ekstra cepat sehingga seolah-olah beliau hanya menghitung buku-buku jari tangannya.

Demikianlah sebuah kisah di negeri antah berantah tempat saya tinggal. Ingin rasanya tidak ikut berjamaah jika melihat keempat imam tersebut. Tapi, kaki-kaki ini selalu mengikuti penggilan adzan untuk datang ke masjid. Seandainya ada masjid terdekat lainnya, saya akan ke sana saja, tapi inilah masjid satu-satunya yang dekat dengan tempat tinggal saya.

Jika tidak ‘manenggang’ bahwa ini adalah suruhan Allah, saya tak mau shalat di sana. Sangat tidak kondusif. Kondisi masyarakat selengkapnya bisa disimak di sini.

Sampai jumpa.

One thought on “Mas Imam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s