Masyarakat daerah Kapalo Koto

Ada sebuah masjid di sekitar tempat tinggal masyarakat yang terletak di RT 02 Kel. Kapalo Koto, namanya Masjid Ahlussunah. Masjid inilah yang digunakan masyarakat setempat untuk shalat berjamaah.

Tapi, kondisinya sungguh mengenaskan. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita sedikit tahu kebiasaan orang sini.

Masyarakat setempat jarang sekali ke masjid. Justru yang agak rajin adalah

para ibu-ibu, sehingga saya agak tertawa pula ketika menjumpai bapak-bapak yang menjemput istrinya DSC00108dari shalat berjamaah sementara dia sendiri tak ikut shalat berjamaah.

Mereka hanya akan ke masjid ketika ada peringatan hari besar, itupun hanya karena akan ada makanan gratis di masjid. Atau pada saat Tarawih, orang yang jarang shalat pun akan datang, padahal kan itu hanya shalat sunah, sedangkan untuk shalat wajib mereka enggan datang ke masjid.

Bapak-bapaknya pun suka merokok di masjid, entah itu ketika ada PHBI ataupun mendengar ceramah Tarawih, baik itu pejabat ataupun rakyat. Bahkan marbot pun khusus menyediakan asbak di DSC00924sana. Haduh, ini masjid bung, bukan balai desa! Sehingga saya kerap tak berah berlama-lama di dalam masjid ketika menghadiri PHBI dan  memilih pulang saja setelah shalat isya tanpa mendengar ceramah Tarawih.

Lalu, banyak di antaranya adalah ‘urang bagak’ jo ‘pareman’. Mereka bisa saja berjalan santai melintasi area masjid ketika adzan, tapi tidak ke masjid. Bahkan, ada yang santai saja melintas pakai motor bersuara berisik.

Di sebelah masjid ada parit tempat mengalirkan irigasi, dan di sana disediakan sebuah tempat mandi. Namun, masyarakat sudah terbiasa mandi di sana ketika kami sedang shalat berjamaah. Sehingga kadang terdengar riuh anak-anak yang main air ataupun orang dewasa yang cebar cebur di sana. Dan mereka dengan santai pulang mandi tanpa sempat singgah di masjid untuk shalat.

Orang sini pun gemar memakan makanan berbau tajam, sementara suka sekali membuang hajatnya di WC masjid tanpa mau ikut memelihara kebersihannya. Sehingga kadang ketika subuh, terciumlah aroma tak sedap dari WC masjid. Ironis sekali.

DSC00031 Karpet masjid pun jarang dibersihkan sehingga kadang saya masih bisa menemukan sampah yang sama dengan kemarin di tempat yang sama pula. Karpet pun bau debu, tidak setiap hari disapu atau di sedot vacuum. Terlebih lagi, di masjid itu ada sepasang kucing yang suka lalu lalang di sajadah masjid, padahal mereka keluar tak pakai sendal dan masuk tanpa cuci kaki. Sehingga membuat saya dan ebebrapa makmum tidak khusyuk ketika sujud. Padahal saat sujud itulah kita bisa menghirup nafas sedalm-dalamnya untuk membersihkan paru-paru. Nyatanya, justru kita malah mengotorinya.

Dan anehnya, anak-anak TPA kebanyakan datang ke masjid ketika orang-orang sudah selesai shalat maghrib dan disuruh pulang ketika shalat isya. Mereka tak diajarkan shalat sebagai tiang utama belajar agama, hanya bacaan shalat, adzan, atau baca Qur’an. Diajari pun percuma karena kebanyakan orang tua mereka pun tak shalat. Jadi, rumah adalah tempat utama untuk belajar sesungguhnya. Meskipun tiap hari TPA, tapi jika di rumah dibiarkan saja bahkan diajari yang tidak baik, maka hal itu akan jadi sia-sia. Malam TPA, siang adu ayam. Bahkan anak kecil pun sudah terbiasa berkata kotor alias ‘bacaruik’.

Nah, inilah sekilas tentang keadaan masyarakat di sekitar masjid ini. Sama seperti nasib masjid kampung lainnya, tidak elit dan tidak profesional.

 

###

One thought on “Masyarakat daerah Kapalo Koto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s