Individualitas

Saya bingung mau menceritakan seperti apa awalnya, saya khawatir bahwa tulisan ini tak bisa dimengerti dan orang hanya akan geleng-geleng (bingung) saja. Tapi saya coba untuk menuliskannya, ini hanya sekelumit cerita dari kehidupan di rumah kost kami. Semoga maksudnya sampai.

Let’s begin…

Jadi, ceritanya begini,…

Lama sekali kami hidup dalam kondisi ini (hampir setahun, sepanjang yang saya ingat). Kami sedikit sekali menunjukkan rasa kebersamaan dan saling menolong. Kebanyakan dari kami hanya akan membereskan rumah ketika jatah piketnya datang, jika tidak, maka bisa dipastikan piring kotor bertumpuk di dapur, gelas-gelas bergeletakan tak bernyawa, lap tangan berserakan, dan lantai berdebu. Akhirnya, siapa yang (masih) punya hati dan punya waktu saja yang merelakan dirinya untuk membereskannya meski bukan jatah piketnya. Sementara mereka yang terbiasa cuek, akan santai saja main game atau nonton pilem, sementara ada pekerjaan lain (berpahala) yang menunggu mereka.

Dan, wajar-wajar saja jika kalian melihat bahwa kami akan mengambil piring sendiri-sendiri ketika makan, bahkan mungkin mencucinya sendiri dari dapur karena sudah ada yang be-te sehingga tak ada satupun yang piket. Nyaris tak bisa dijumpai kejadian ada yang ngambilin piring untuk temannya ketika makan bareng, atau bahkan menyendokkan nasi ke piring agar lekas dingin.

Seperti hari ini, ketika saya dan salah seorang teman (dari kamar sebelah) janjian untuk bangun esok pagi, sahur untuk puasa 10 Muharram. Malam hari saya tidur dengan nyenyak hingga tersadar ketika teman saya itu menggedor pintu, dan jam sudah menunjukkan hampir waktu subuh. Dengan segera saya mencuci muka dan (coba tebak!)… saya juga harus mencuci piring dari dapur karena tak ada yang piket.

Agak menggerutu saya bawa piring itu ke ruang makan kami, dan ketika bersiap untuk menyendok nasi mata saya menangkap sebuah mangkok yang tergolek manis di dekat Rice cooker. Sembari menyendok nasi ke piring, saya mikir…ini piring mungkin sengaja dibawakan teman saya karena piring di dapur sudah habis. Tapi teman saya itu diam saja sambil tetap menonton TV. Acara sahur pun sendiri-sendiri…

Dan, nasib mangkok itu tetap tergolek nyaman di dekat rice cooker tanpa ada yang bersedia menjamahnya, mereka pikir mangkok itu kotor atau bekas digunakan orang lain. Padahal baru diambil dari dapur, bahkan mungkin teman saya itu yang mencucikannya untuk saya. Hmm…

DSC00008

Dari sini sudah terbukti bahwa sedikit sekali ada kebersamaan di antara kami. Bahkan orang akan akan terkejut ketika saya (misalnya) membawakan piring-piring untuk makan kami, atau menyendokkan nasi ke piring mereka. Coba dengar apa kata mereka,

“Sudahlah…tak usah repot-repot, biar kami ambil sendiri.”

atau,

“Aduh, kok baik banget sih!”

Maaf, teman. Saya tak mencari pujian atau apapun. Ikhlas kok. Lantaran di rumah sejak kecil dulu kami selalu diajarkan saling menghormati dan menolong antar anggota keluarga, misalnya membawakan air minum, mencucikan piring, atau membantu menyapu halaman.

Bukan maksud untuk menyalahkan, mungkin mereka sejak kecl sudah terbiasa dilayani maka ketika besar pun tetap menuntut untuk dilayani orang lain. Padahal setiap survei selalu mengatakan bahwa kebanyakan orang akan merasa sangat bahagia ketika me-…. daripada di-…

Lantas, apa dong yang bikin kita jadi begitu egois?

Dalam ilmu ESQ yang saya dapat, ada enam belenggu yang membuat kata hati (sifat baik) itu tidak muncul, salah satunya merasa gengsi (karena dia paling tua di kost) atau mungkin kebiasaan (dilayani tadi).

Miris menyaksikan bahwa moral kita makin hari makin terkikis. Orang tua tak lagi mengandalkan pendidikan keluarga sebagai pendidikan dasar dan membekali anak dengan sifat-sifat baik. Kebanyakan kita sekarang ini belajar dari TV yang sama sekali tak ada niali pendidikan (baik) nya. Sinetron, acara lawak, dan semua yang berbau hiburan. Sedikit sekali TV yang menayangkan acara pendidikan dan pengajaran. Sehingga apa yang ada di TV, itulah kita. Sama-sama sinting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s