Benda ‘enak’ itu bernama Mie

Tinggal sekitar hampir enam tahun di Kota Padang mungkin telah bisa melihat perbedaan-perbedaan dari yang ada di kampung halaman. Ada banyak hal-hal di Padang ini yang sempat membaut saya geleng-geleng karena heran.

Salah satu keanehan yang saya temui adalah ketika saya kesulitan menemukan ‘Sate Padang’ di Kota Padang ini. Padahal di daerah lain (di luar Sumbar) begitu mudah menemukan Sate Padang. Justru di sini malah banyak sate madura. Walah, ternyata Sate Padang tidak populer di kota asalnya. Yang ada misalnya ‘Sate Fauzan’, ‘Sate Ajo’, atau ‘Sate Paris’…(Hmm,,,ternyata ada orang Paris yang pandai bikin sate juga…)

Satu hal yang saya amati di Kota Padang ini, adalah

adanya satu benda kriting yang sangat terkenal, yaitu Mie. Apalagi Kota Padang merupakan sentra mahasiswa rantau, hal ini mendukung mie menjadi sangat populer di sini. Tapi, kebanyakn dari masyarakat di sini menggunakan mie di segala lini produk makanan. jika, tak percaya, silakan kuliner ke sini…

Saya perhatikan, hampir di semua makanan (yang juga pernah saya temui di daerah lain) di Padang ini memakai mie. Entah itu bakwan, lontong sayur, pecel, sampe mie ayam…(ya iyalah, di mana-mana mie ayam pake mie atuh, Di… Klo nggak ya namanya bubur ayam atau nasi ayam… hadeuh!!!)

Bakwan, yang biasanya hanya berisi tepung dan kol, kemudian diberi mie sedikit di ujungnya. Lalu pecel yang biasanya isinya cuma sayur-sayuran saja, justru mie merupakan unsur utama pembentuk pecel-nya. Lotek, juga full of nodles. Lontong sayur, kebanyakan malah orang-orang sini suka dengan sarapan lontong dikasih mie dan kuah, itu saja. Bahkan tak mau jika dikasih sayur.

DSC00584

Bakwan’e lucu, ada rambutnya…kriting pula. Saya cuma abis dua biji, nggak lagi nak nambah. Bukan apa-apa, saya cuma nggak suka sama mie-nya…

DSC00639

Yang ini ketika saya makan siomay… Mbuh rasane koyo opo, tapi berhubung gratis ya tak lahap juga…

DSC00744

Tuh, sengaja ditaruh di antara kuah gulai, menandakan dia begitu populer sehingga mudah mengambilnya ketika pelanggan pesan.

DSC00745

Yang ini mie sebagai pelangkap pecel/lotek. Saya kadang dibilang aneh karena selalu pesan pecel tanpa mie… “Apa enak, Di?” katanya,,, Ya enak lah, wong biasane aku makan pecel cuma makan sayur koyo mbek kok

      DSC00053

Bahkan menu penutup setelah donor darah (yang biasanya semangkuk bubur kacang ijo) menjadi se-cup mie instant. Berhubung harus saya makan, ya saya habiskan saja😀

Saya pun sebenarnya heran, beberapa teman saya kuliah di bidang ilmu kesehatan. Tapi mereka begitu mengagumi mie sehingga bisa setiap hari makan mie. Padahal mereka paham apa risiko yang akan mereka tanggung karen akebanyakan makan mie. Apakah mungkin karena itu pula orang Minang ini banyak yang operasi usus buntu? Hmm, nggak tahu pastinya… tapi bisa jadi iya.

DSC00627

Kata mereka, mie ini sebagai pengganti ‘sayur’ untuk melengkapi lauk (sambal) ketika makan. ck ck…

Menurut ilmu kesehatan yagn saya ketahui, bahwa tubuh memerlukan waktu kurang lebih dua hari untuk membuang sisa-sisa lilin di dalam tubuh akibat mengkonsumsi mie. Jangan bayangkan lilin itu seperti lilin yang kita bakar itu, lilin di sini adalah semacam zat yang dipakai untuk membuat mie tidak bersatu dengan yang lain. Jadi, bisa dibayangkan jika hampir setiap hari makan mie (bahkan dua kali sehari), maka bertumpuklah lilin-lilin itu di sistem pencernaan kita. Akibatnya, mungkin ya gangguan dalam tubuh seperti kasus usus buntu itu tadi…

Saya sebenarnya suka mie, tapi tidak untuk mie instant meskipun godaannya begitu manis dan menyenangkan. Saya suka mie ayam, itupun makan hanya seminggu atau dua minggu sekali, sekedar ‘palapeh taragak’ untuk melepaskan hasrat. Paling pol ketika wisata kuliner (bahasa halusnya ditraktir temen di warung bakso) adalah pesan nasi goreng (nggak pake mie, asal tau saja…di sini ada yang jual nasi goreng pakai mie. tuh kan…!)

DSC00125

Iki potone sing nraktir aku, ben aku ra kewirangan… hehehe (ngetok-ngetok’i lih doyan gratisan…:D)

Saya pun tak bergeming lantaran dibilang sombong karena tak pernah mau ditawari mie sama teman-teman. hhh… Bukan apa-apa, teman. Saya cuma telah paham risikonya dan tak mau ambil risiko berlebihan. So, maafin ya…!!! Mending traktirin saya roti bakar bandungan, martabak bandung (juga), atau sekalian pecel ayam… Huhuhu…

Kira-kira, si Malin dulu suka mie nggak ya? Jangan-jangan dia jadi batu bukan karena dikutuk bundonya, tapi karna usus buntu… ck ck ck

One thought on “Benda ‘enak’ itu bernama Mie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s