Menjadi Imam Shalat

dsc02873

Imam, secara umum kita memaknai sebagai orang yang berdiri paling depan, memimpin shalat berjamaah, baik di masjid atau di rumah. Namun makna ini jadi begitu sempit ketika ditambahi kata dibelakangnya, Imam Masjid. Imam ini kerjanya cuma mengimami shalat saja, sementara suaranya tidak dipakai ketika rapat pengurus masjid. Kadang, imam dan marbot itu disamakan saja orangnya.

Secara luas, imam adalah orang yang memimpin dan punya orang yang dipimpin. Dalam keluarga, bapak adalah seorang imam. Dalam rumah tangga, suami adalah imam dari seorang istri. Dalam kelas, ketua kelas adalah imam kelas.

img005-1

‘Imam’ dalam keluarga dan rumah tangga. Termasuk imam yang disukai, terbukti semua orang senyum.

2655-dari-inilah-com

Orang-orang yang pada rebutan jadi ‘imam’. Saya yakin kita sudah tahu kualifikasi masing-masing toh…

Sedikit kita membahas kata ‘imam’ dalam konteks sebagai pemimpin dalam shalat berjamaah. Secara umum, imam shalat dipilih orang yang lebih bagus bacaan shalatnya. Namun, dalam kenyataanya seorang imam dipilih orang yang lebih tua yang terkadang bacaannya tidak lagi jelas atau gerakannya tak lagi sempurna. Ada juga yang dipilih hanya karena dia adalah mahasiswa IAIN atau lulusan Madrasah karena dinilai dia lebih banyak tahu bacaaan shalat, dan yang terpenting hapal doa-doa yang harus dibaca ketika selesai shalat.

Miris, ketika orang-orang mempercayakan doa setelah shalat kepada imam. Imam pun terkadang membaca doa-doa yang ada dalam kepalanya tanpa melihat kondisi makmum atau sudah sesuaikah dengan kondisi saat ini. Padahal, doa setelah shalat itu tak harus mengikuti imam karena tiap-tiap orang punya keinginan atau permintaan tersendiri kepada Tuhannya.

Terkadang pun orag yang dijadikan imam ini tak memnuhi kriteria secara penuh sebagai imam, bertindak sesuka hati. Padahal dialah kapten saat menghadap jenderal besar. Kalau dia main-main tentu jenderal akan marah. Saya sering menemukan imam-imam yang seperti ini, tidak bijaksana, bacaannya salah atau kadang banyak lupa, gerakannya tidak sempurna, ataupun hanya sekedar-sekedar saja.

Imam juga harus disukai oleh makmum dalam arti makmum bersedia dia menjadi imamnya. Karena kadang ada beberapa makmum yang tak suka dengan imam yang biasa mengimami jadi dia ragu apakah akan datang untuk berjamaah. Padahal Nabi mewanti-wanti hal ini, jangan sampai menjadi imam yang tidak disukai oleh makmum.

belajar shalat1 Dalam buku-buku tuntunan shalat disebutkan bahwa untuk menjadi seorang imam itu tak mudah. Berikut saya kutip dari buku tuntunan shalat yang saya pakai ketika ngaji dulu.

Memilih imam itu tidak sembarangan orang, yang perlu diperhatikan apabila memilih imam adalah:

1. Baik akhlaknya, tidak hanya akhlak ketika memimpin shalat, tapi juga perangainya secara umum ketikaa di luaran pun harus teruji dan terbukti baik.

2. Baik bacaanya, tahu penajng pendeknya bacaan, tempat berhenti atau tartil dalam membaca ayat-ayat Qur’an. Kadang hal ini tidka begitu diperhatikan yang penting hanya hafalannya saja.

3. Baik suaranya, jelas dia itu membaca ayat atau doa apa, terdengar oleh seluruh makmum.

DSC00203

Karena imam itu adalah pemimpin dalam shalat, maka harus diperhatikan beberapa hal berikut:

1. Imam harus bijaksana, mengerti siapa makmum dan bagaimana keadaanya. Dalam artian ini adalah imam harus paham bagaimana kondisi dan komposisi makmum yang diimami. Jangan sampai karena banyak orang tua tapi bacannya panjang banget. Atau siang hari banyak orang yang harus kembali bekerja tapi shalatnya lama betul. Bijaksana ini bukan berarti pula ketika kondisi makmum seperti biasa namun dia yang terburu-buru sehingga shalat berjamaah jadi tidak bermanfaat dan merugikan makmum

2. Bacaan ayat disesuaikan dengan makmum. Jangan karena kebiasaan baca ayat panjang tapi tak menyadari bahwa kondisi makmum tak terbiasa sehingga dia tidak disukai oleh makmum

3. Gerakan dalam shalat diatur agar tidak menggelisahkan makmum, tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat.

4. Komando diatur sedemikina rupa sehingga tidak terjadi gerakan makmum mendhaului gerakan imam karena jika makmum mendahului ima itu tidak boleh. Ini merupakan salah satu kebijaksanaan seorang, mengatur agar makmum tak salah persepsi. Misalnya, tidak mengucap takbir terlalu panjang, melakukan gerakan terlabih dahulu baru bertakbir, dan sebagainya

5. Imam harus mencari pengganti ketika dia menyadari jika dia batal. Dan makmum dibelakngnya harus sudah siap menggantikannya. Jadi memang, aturan dalam berjamaah ini tidak sepele. Bagaimana susunan makmum, urutan pemenuhan saf, hingga aturan-aturan saf yang sah dalam shalat berjamaah.

Saya sangat suka menjadi imam karena menjadi imam mengharuskan kita bertanggung jawab. Menjadi imam itu seperti menjadi pemimpin barisan dalam upacara. Imam itu seperti sopir bus yang membawa penumpang ke jalan surga. Jika menguappenumpang tak begitu suka dengan imam karena ungkin ngebut atau terlalu lambat atau instruksinya tidak jelas, maka penumpang tidak akan lagi percaya pada imam ini.

Tapi tak banyak pula makmum yang sadar akan haknya sehingga terlalu sering haknya itu didiamkan saja. Yang penting ada yang imam dan kewajiban shalat mereka selesai sudah. Yang penting ada yang memimpin mereka shalat dan wirid setelahnya karena mungkin tak banyak makmu yang tahu bacaan atau ‘katanya’ tak pandai berdoa. Haduh…

So, menjadi imam ternyata banyak menfaatnya. Melatih kita menjadi pemimpin, melatih kita menerim akoreksi dan kritikan, melatih kesabaran dan kebijaksanaan, dan melatih ego kita sehingga bisa menenggang orang lain.

2 thoughts on “Menjadi Imam Shalat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s