Catatan Sesosok Ayam Jantan

Hai, perkenalkan. Namanya ayam, lebih spesifik lagi dia adalah ayam jantan. Tapi nggak sodaraan ama kambing jantan, karena memang jauh sekali bedanya. Kambing jantan suka ngupil, ayam jantan…(boro-boro ngupil)

Apa sih yang patut dibanggakan menjadi sesosok ayam jantan? Profesi yang kadang dipandang remeh oleh sebilah pisau ini ternyata memiliki nilai-nilai moral yang bisa dijadikan refleksi hidup (apa sih, siang-siang ngelindur…). Asal jangan dijadikan pegangan aja karena akan sangat susah sekali memegangnya, ayam jantan tak pernah bisa diam.

Bukan. Maksud saya, saya hanya ingin menjelaskan betapa bangganya menjadi sesosok ayam jantan.

Ayam jantan bisa didefinisikan sebagai ayam yang berkelamin jantan (ya iyalah….). Ciri khas fisiologis yang mudah dikenali dari (sebagian besar) ayam jantan adalah memiliki jengger (semacam daging tumbuh, mungkin…) yang bertengger di kepalanya seolah itulah mahkota kehormatannya. Warnanya merah, agak keras dan kasar permukaannya. Hanya saja, saya tak tahu pasti apa fungsi aslinya.

Lalu ada pula sepasang jengger yang menggayut di bawah dagunya (emang punya dagu?) yang lebih terlihat mirip kulit yang tumbuh berlebih, menjadi semacam janggut yang makin menambah pesona kejantanannya.
Lalu akan tumbuh pula surai-surai panjang menghiasi lehernya yang panjang itu, keren banget lah pokoknya! Sepasang sayap yang indah bulunya dan yang tak kalah penting adalah surai ekor yang panjang (ini adalah daya tarik tersendiri baginya, bayangkan saja betapa tidak macho-nya ayam jantan tak bersurai ekor).

Bagi sodara dekat ayam, yaitu burung merak (eh, ternyata keluarga ayam juga…?) mereka punya tiga buah mahkota yang menghiasi kepalanya dan ekor yang tak kalah cantik pula (khusus merak cowok). Tapi jangan dibayangin reog ponorogo, pala merak tetep aja pala ayam, bukan pala macan. Ekornya bisa mekar mirip kipas warna-warni milik emak-emak yang lagi arisan genset. Dan bagi sodara jauhnya lagi, yaitu kalkun, entah apa yang bisa dibanggakan dari mereka selain tubuhnya yang bongsor dan semok aduhai.

Kembali ke ayam jantan tadi.

Sebelum kita membahas sifat-sifat baiknya, alangkah baiknya jika kita sedikit menyinggung kebiasaan buruknya.

Kesan pertama yang bisa dilihat dari sesosok ayam jantan adalah mereka itu agak sombong. Kalau berjalan mereka akan mengembangkan kedua sayap mereka sambil mengangkat muka, mirip jendral (jadi-jadian) yang lagi meriksa barisan. Mereka suka sekali berjalan-jalan di sekitar betina yang ganjen sambil bersiul. Ha ha… Bingung kan gimana caranya tuh ayam jantan bersiul? Coba deh perhatiin, kalo jakun tuh ayam naik turun, ntuu tandanya dia lagi bersiul. (Kadang mikir juga, kalo tuh ayam bersiul, lagunya kira-kira apa ya…hmm)

Mereka hobi sekali berpoligami, tak memandang ras. Entah itu ayam Asia, Negro, atau blasteran India-Jamaika (pasti bulunya kriwil-kriwil, hahaha…). Catatan : Pembedaan ras dilakukan hanya berdasarkan warna bulu dan tipikal wajah tuh ayam, belum ada riset ilmiah resmi yang mampu mendukung teori ini.

Sama seperti halnya pejantan lain, ayam pun tergolong maruk. Mmm, bahasa ilmiahnya apa ya? Mereka takkan bertahan dengan satu betina saja, pasti nambah lagi. Dan jika mereka dah berjaya sama banyak pasangan, sombongnya keluar tuh. Jika ada pejantan lain yang mendekat dengan masud menggaet pasangannya (bukan untuk adu suit jepang), jangan harap, langkahi dulu mayatku, katanya.

Nah, ini dia sifat-sifat baiknya (yang buruk dikit-dikit aja yah, biar kalian nggak benci-benci amat ma mereka).
Mereka itu sangat tepat waktu dan disiplin sekali. Tepat pukul setengah lima pagi, mereka akan berkokok dengan kencang layaknya jam weker buat bangunin emak-emak yan glagi tidur nyaman biar cepat bikin sarapan.

Meskipun playcock ( (istilah playboy buat ayam jantan), mereka akan setia pada pasangan-pasangan mereka. Setelah berhasil ‘menelori’ (istilah pembuahan yang terjadi di tubuh si betina), ayam jantan itu akan bertanggung jawab mencarikan nafkah lahir dan batin buat tuh betina, ngajarin bikin sarang yang nyaman, posisi yang Pe-We buat betelor, sampai dengan sabar nungguin tuh betina slese betelor. Kadang kasian juga lliat tuh ayam jantan pas lagi nungguin si betina betelor, bengong, kesepian (lantaran belum dapet betina baru), mondar-mandir kesana kemari (persis cowok yang kehilangan ceweknya tiga jam yang lalu, trus bokap tuh cewe nanyain).

Dan mereka rela dan ikhlas ketika anak-anak mereka menetas, si betina bakal jadi galak banget binti judes sama siapa aja (pelampiasan kali yak, mungkin kesel berhari-hari kagak makan nungguin tuh ayam pada netas). Sampai-sampai lupa sama si jantan, kena patok juga klo deket-deket. Tapi derita si jantan tak akan lama jika suatu ketika ada ayam betina remaja yang sedang puber tertarik padanya.

Satu lagi keistimewaannya adalah ketika ada ayam jantan berkokok di malam hari, maka itu tandanya ada malaikat rahmat lewat (bukan si rahmat, tapi malaikat yang lagi bagi-bagi rahmat). Maka manusia-manusia yang paham dan sadar betul, mereka akan berharap sekali malaikat ntu mampir ke rumahnya. Beda kalo si anjing yang berkokok. Eh, menggonggong malem-malem. Itu bukan tanda ada kafilah yang berlalu, tapi si setan yang lagi cari mangsa baru. Orang-orang akan sering ta’awuz.

Maka kesimpulannya, agaknya saya tetap bangga pada ayam yang satu ini. Mungkin karena itu Sheila on 7 bikin gambar siluet ayam jantan di album keempatnya (Pejantan Tangguh), barangkali tersepona ma pesona tuh ayam.

So, Walau bagaimanapun, ayam jantan tetap ada di hatiku. Kukuruyuk…!

One thought on “Catatan Sesosok Ayam Jantan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s