Poliandri

Banyak pertanyaan berdengung (lantaran nitipin pertanyaan lewat tawon endhas) di kepalaku, kadang mampir di hidungku, bikin aku mimisan. Biasanya para perempuan yang paling banyak menanyakan hal ini, terutama satu teman saya yang sangat penasaran dengan masalah yang satu ini.

poliandri3

Kenapa wanita alias perempuan nggak boleh poliandri, sementara para lelaki bin pria ini boleh punya istri lebih dari satu? Walah, saya aja bingung mau jawab apa. Soalnya jika saya jelaskan pun, mereka bakal nanya yang sama berulang-ulang kali. So, apa mau dikata.

Tapi setidaknya saya bisa kasih alasan yang (mendekati) rasional dan bisa dipercaya untuk menjelaskan fenomena itu.

Pertama mungkin bisa kita jelaskan apa itu poliandri.

Yang jelas poliandri itu nggak sama seperti politeknik atau poliklinik. Poliandri adalah vektor dari poligami (yang juga nggak sama seperti polisapi atau polikambing, apalagi epilepsi). Jika poligami berarti seorang laki-laki bisa punya lebih dari satu istri, maka poliandri kurang lebih berarti seorang perempuan yang gatel pengen punya suami lagi padahal suaminya masih ada.

Loh, kok bisa.

Udah, nggak usah protes dulu. kembali ke leptop!

Jika kita telusuri lebih jauh (ke dalam hutan tropis kalimantan), ada sebab-sebab tertentu yang menyebabkan seorang laki-laki bisa berpoligami. Misalnya si istri nggak bisa menuhin kewajibannya sebagai istri, si istri punya penyakit yang susah disembuhkan, atau si istri nggak bisa ngasih keturunan. Oleh karena sebab itu laki-laki dibolehkan beristri lagi, tentu dengan persetujuan semua pihak. Dan persetujuan bahwa si suami bakal bisa adil terhadap istri-istrinya, n bisa menjamin kehidupan mereka.

Lantas, boleh nggak sih kalo kejadiannya sebaliknya, tiga hal tadi berlaku pada si suami, misalnya suaminya mandul, ato penyakitan. Apakah istrinya tetep bisa punya suami lagi sementara suami yang lama masih ada? Jawabannya tetap tidak bisa.

Hukum di Indonesia tidak mengatur hal itu, lagipula dalam agama islampun tidak diperkenankan seperti itu. Alasannya, simpel dan sangat klasik. Cuma masalah anak doang, kalau tu istri hamil maka siapa yang jadi bapaknya. Boleh aja rebutan ngaku jadi bapaknya, terus jika si anak (kebetulan) lahir nggak normal en nggak ada satupun suaminya ngakuin itu anaknya, pan gawat. Jelas aja mereka yang bikin blendung tu istri.

Tapi, siapa sih yang mau dimadu, Mas? Sabar buk, kan udah ane jelasin di atas. Pada keadaan tertentu dan sudah mendapat persetujuan semua pihak. Jika si suami tanpa sebab menambah istri, ya boleh aja tu istri muntab. Minta cerai biar jelas statusnya.

Nggak tahu ah, itu doang yang saya tahu. Baiknya tanya ke Uje, ato ustadz Mansyur gitu, ane ustad baru kemaren..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s