Lanjut Usia dan Balita

 

Banyak orang bilang, seorang manusia yang telah berumur melebihi setengah abad akan kembali seperti anak-anak.

Tingkahnya, bahkan pola pikirnya terkadang hampir menyerupai balita. Dia akan mulai bertingkah sesuka hatinya, berbicara apa saja yang ada dalam ingatannya, danakan berusaha bersahabat pada siapapun.

Suatu ketika, saat saya satu bangku dengan seorang bapak tua (yang seumuran kakek saya) dalam perjalanan pulan ke kampung halaman. Sepanjang jalan tiada henti bapak tua itu bercerita, mulai dari masa muda, tempat-tempat indah yang ia kunjungi, anak-anak-cucunya kini. Saya hanya terdiam.

Pun kejadian satu ini sudah berulang kali terjadi.

Ibu kos yang tinggal di sebelah rumah kost saya (padahal, aslinya saya yang tinggal di samping rumah dia), sangat suka sekali main bakar. Seminggu sekali dia akan mengumpulkan sampah-sampah yang ada, menyapu kebun kecil yang berada tepat di sebelah nya (lagi) rumah kost saya. Dan serta merta menyulut api (permusuhan) sehingga membakar sampah-sampah itu. Namun, berhubung sampah itu tak sepenuhnya terbakar, maka akan menimbulkan asap putih yang mengepul-ngepul, mengarah kemana saja angin membawanya.

Dan, sungguh hebatnya. Angin selalu sukses bersekongkol dengan asap putih itu untuk selalu mengarah ke jendela kamar saya, menerobos masuk lewat ventilasi dan memenuhi kamar tercinta hingga menyesakkan dada. Tak bisa dihindari lagi, seminggu sekali kamar saya akan berbau mirip tempat pembuangan sampah, asem-asem gimana gitu…

Ketika dikasih tahu, si Ibu itu enak aja jawabnya…

nenek

“Kalian kan anak kost yang nggak begitu peduli. Kalo sampah itu dibiarin aja ,bakal numpuk. Jadi saya bakar aja deh biar habis.”

(Sepertinya si Ibu nggak tahu [dan belum pernah saya kasih tahu] bahwa saat training ESQ saya dapat kata mutiara ‘peduli’)

“Tapi Buk, asepnya itu lho, bisa-bisa kami kena kanker paru-paru. Saya juga alergi ma asep.”

“Ya ditungguin ajalah, ntar kan juga ilang tuh asepnya…”

“Tapi Buk, baju saya yang wangi-wangi itu jadi apek…”

“Cerewet amat sih loe, gua usir ntar nih…”

Ampun dah. Saya yang masih muda ini nggak abis pikir. Na’udzubillah semoga aja klo saya tua nanti nggak seribet orang ini. Nggak tahu lagi gimana mau ngadepinnya. Di deketin, eh si Ibu ntar ngelunjak, bertindak makin sadis. Tapi klo dijauhin, kita-kita dibilang nggak tahu sopan santun sama orang tua. Dibiarin aja, juga dibilang sok banget, baru aja jadi mahasiswa. Tuh kan… gimana coba?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s