Dunia, aku orang paling beruntung!

Rasa minder dan tak enak hati kadang hadir jika merasa kita tak seberuntung orang lain. Melihat teman-teman dengan gembira menenteng gadget terbaru atau naik kendaraan yang keren. Pergi sana pergi sini beli sana beli sini. Segala bisa lancar dengan uang yang banyak. Sedang kita hanya punya Hape keluaran lima tahun lalu, itupun second. Tongkrongan biasa (dalam kamus keren nggak bakalan masuk), kurang menarik (nggak modis), dan uang Cuma pas buat menenangkan kawasan timur tengah aja.

Hal itu yang terkadang mengikis ke-Pede-an diri yang mati-matian dibangun. Pede bisa saja hancur begitu saja hanya karena melihat diri nggak sehebat dan sekeren orang lain. Yang parahnya, kita mulai menyalahkan orang lain dengan alasan yang seenaknya saja kita buat sendiri.

Namun, ada satu hal yang terlupa. Dengan apa kita mengukur bahwa orang akan seberuntung kita, lebih beruntung dari kita, atau tak seberuntung kita. Bisa saja ukuran yang kita pakai ternyata berlawanan dengan ukuran yang orang lain pakai. Bisa saja orang yang berlimpah harta namun tak bahagia karena keluarga tak harmonis mungkin, atau aturan yang sangat mengekang, atau bisa jadi orang yang dalam harta (sedikit) mendekati cukup namun sangat bahagia karena keluarganya harmonis, anak-anaknya berprestasi, keluarga mendukung, dan kasih sayang yang berlimpah.

Dan saya melupakan satu hal, saya lupa memasukkan ibu saya, ayah saya, saudara-saudara saya, teman-teman saya dalam ukuran ini. Saya hanya menggunakan pengukuran dari materi, kepuasan batiniah terlupakan.

Mulai sekarang, saya katakan kepada dunia, “Saya adalah orang paling beruntung di dunia.” Saya tidak akan mengatakan saya tak seberuntung dia karena saya tak punya netbook toshiba keluaran terbaru, atau handphone saya masih pakai layar standar zonder touch screen atau tombol QWERTY, atau saya tak punya Suzuki Satria FU, atau tak ada hinda jazz di halaman rumah. Saya tidak akan mengatakan bahwa saya kurang beruntung karena harus ikut memikirkan bagaimana menambah uang jajan, tak bisa membeli sepatu sekaligus beli celana baru, tak bisa bisa beli lauk yan gmewah tiap hari, atau hanya sekali-sekali bisa mejeng di food court. Saya juga tak akan mengatakan kurang beruntung karena kemana-mana mengandalkan kaki untuk berjalan karena akan membuat betis saya kuat, atau rela berdesakan di angkutan umum karena saya terkadang bisa mendapat inspirasi dari sana.

Saya sadar, saya sangat beruntung. Ada orang tua yang selalu mendukung dengan doa dan finansial, ada adik-adik saya yang selalu saya rindukan pelukan hangat dan canda tawanya, ada teman-teman saya yang selalu hadir dengan cerita dan keceriaan, ada orang-orang yang diam-diam mendukung dan mendoakan saya, serta ada orang-orang yang tak saya kenal sekalipun yang menitipkan salam pada saya. Saya sangat beruntung biarpun HP saya Cuma bisa poliponik, leptop second dengan ukuran super besar dan berat, celana saya itu-itu saja yang dipakai, saya kurang keren, dan lain-lain. Saya merasa sangat keren senyum kedua orang tua dan adik-adik saya muncul di layar HP, jadi wallpaper desktop, dan pin ‘i love u mom & dad’ tersemat manis di tas bututku. Sungguh, saya merasa sangat beruntung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s