Ketika Iman Dipertanyakan

Iman, dalam terminologi bahasa berarti percaya, sehingga ada rukun iman dalam islam yang mempercayai adanya Allah, malaikat, rasul dan nabi, kitab-kitab, hari akhir, serta qada’ dan qadar sebagai ketentuan Allah.
Iman dikatakan dapat naik dan turun, tidak stagnan seperti iman malaikat kepada Allah. Suatu ketika orang bisa saja menjadi begitu alim, rajin beribadah, atau berbuat kebaikan lainnya. Namun suatu saat bisa saja orang menjadi malas, tak ada semangat dalam beribadah, atau berat sekali untuk berbuat kebaikan.

Iman dapat berarti sebuah rasa takut akan adanya Allah, ketentuan, dan adzab-Nya. Kadang kita bisa saja menilai para pemabuk, pembuat maksiat, atau orang-orang yang sering melanggar agama sebagai orang yang tak beriman. Namun, mampukah kita mengukur kadar iman seseorang?

Dalam suatu cerita dikisahkan ada seorang penjahat yang telah membantai seratus orang selama hidupnya. Ketika dia merasa ajal sebentar lagi akan menjemputnya, dia berpesan kepada para pengawalnya agar nanti jasadnya jangan dikubur, namun dibakar hingga menjadi abu, lalu abunya disebar ke udara, tanah, dan lautan. Akhirnya penjahat itu meninggal dan para pengawalnya melakukan apa yang telah menjadi wasiat tuannya. Abu jasadnya disebar ke udara, bumi, dan lautan. Namun, atas kuasa Allah, malaikat kembali mengumpulkan semua abu yang telah tercerai berai tadi dan menyatukannya kembali, dan ditiupkan kembali ruh ke dalam jasad yang telah menjadi abu. Malaikat bertanya perihal wasiat terakhirnya itu. ternyata dia takut bahwa Allah akan menemukannya dan menanyakan segala perbuatannya ketika hidup. Dia takut akan adzab Allah. Lalu Allah membebaskan penjahat itu dan memasukannya ke dalam syurga.

Terlihat bahwa sekecil apapun iman dalam diri seseorang tetap mendapat perhatian dan balasan dari Allah. Seperti cerita yang dituturkan oleh Ustadz Jefri, ketika beliau sedang ada di perempatan jalan, lalu datanglah seorang waria yang berdandan menor. Sambil menyandang bass kotak waria itu menyanyikan lagu wajib para waria, “Aku tak mau kalau aku dimadu…” dan seterusnya. Dan ketika Uje membuka kaca mobil, si waria terkejut. “Eh, Uje.” Dengan serta merta dia mengganti lagunya, “Perdamaian, perdamaian…”

Uje menuturkan bahwa seorang waria pun masih mempunyai iman yang membuat dia segan dan langsung mengganti lagunya dengan nasyid. Hal ini menandakan masih adanya iman di dalam diri waria itu.

Dan belum tentu kadar iman seorang yang rajin shalat dan puasa lebih tinggi dari seorang biasa saja menjalankan perintah agama, jika dia tak memiliki rasa belas kasihan, rasa syukur dan ikhlas, serta ketakutan bahwa semua yang dilakukannya dipantau oelh Allah dan ia pertanggungjawabkan nantinya.
Dan bagaimana Allah akan membalas keimanan hamba-Nya hanya Allah yang berhak menilainya.

2 thoughts on “Ketika Iman Dipertanyakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s