I’m an Ustad

Tad… Stad… Ustad…!

Kama, Stad?

(Dalam bahasa Indonesia berarti :Mau kemana, Stad)

Sepintas hanya sebuah panggilan sepele, namun sejarah nama ini sungguh tak terduga. Bagaimana harus terkenal dengan menyandang gelar seperti ini.

Berawal dari sebuah kegiatan rutin kampus saat kedatangan maha(ng)siswa(sa) baru bernama OpsPek atau di Unand dikenal dengan nama BAKTI. Para senior akan keranjingan, mulai dari sekadar mengerjai dengan dalih ‘kebersamaan’, atau sedikit membalaskan penderitaan mereka pada kami, hingga para tetua yang suka cari daun muda. Ck, ck, ck…

Sedari awal mengikuti kegiatan ini, saya meniatkan diri agar terkenal di kalangan mahasiswa baru terutama di depan anak-anak ekonomi. Bukan maksud untuk membusungkan dada, tapi hanya sekedar agar saya diinget sama anak-anak, karena mungkin nanti saya tak begitu diinget lantaran prestasi kuliah kurang menjanjikan pujian. Hahaha…

Dimulailah petualangan saya menjadi orang yang ngocol, suka membangkang perintah senior, dan sedikit berlaku nyentrik (bukannya semua itu sifat asli…? :p) Ups, bukan. Saya aslinya orang pendiam (kalau tidur… :D)

Hingga suatu ketika, saya bersama teman-teman lain mendapat giliran maju ke depan khalayak ramai (untuk dipermalukan). Sekitar tiga puluh orang (yang duduk di barisan pertama dan kedua) diminta (lebih tepatnya dipaksa…) untuk menghabiskan satu buah roti harga seribuan rasa mentega susu (yaik…!). Dan, setan (ups, maksudnya sisi nyentrik saya) mengatakan, “Inilah waktunya untuk terkenal.”

Akhirnya satu per satu kami dapat giliran untuk memakan roti yang digilir oleh seorang senior cewek yang cantik (woi…!). Momen yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, seketika sebuah bongkahan kecil sebesar 5cm kuadrat disodorkan ke depan mulut saya, dan dengan gerakan cukup cepat, terarah, dan tanpa ragu-ragu saya lahap semua sisa roti tersebut hingga ujung jari kaka yang cantik itu nyaris tergigit (auw… katanya), meskipun masih ada lima orang lagi di sebelah saya menunggu giliran kebagian roti. Sebagian dari mereka mencibir, sebagian lagi mengucap syukur karena selamat dan tak harus merasakan jigong 25 makhluk-makhluk di sebelahnya.

Then, saya dihukum di depan panggung, menanti keisengan apa lagi yang akan saya terima. Tapi tak apa, yang penting terkenal, itu yang ada dalam benak saya. Gembel, gembel dah…!

Dan, dewan senior meminta saya untuk bernyanyi pop sambil bergoyang dangdut. Weleh…weleh… Baiklah, it’s Show Time.

“Assalamu’alaikum…”

Suara saya yang tergolong mbah-nya Bass ini menggema di segenap penjuru auditorium. Sontak para senior itu langsung berteriak (bukannya jawab salam ), “Udah, suruh ceramah aja…!”

“Sepakat…!” jawab yang lain.

Jadilah, saya ceramah siang itu. Salah seorang MC (yang juga salah satu senior tadi) mengatakan, “Ini ada adiknya Ustad Sanusi nih…” (coz masa-masa itu sedang hangat-hangatnya kontes da’i di salah satu stasiun TV swasta Indonesia.)

Semenjak itu, hingga kini di telinga anak-anak ekonomi angkatan 2005, saya akrab dengan panggilan “Ustad”. Tak banyak yang tahu nama asli saya ADI (he he he). Atau yang tahu nama saya, maka digabung saja menjadi ADI USTAD.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s