Kok takut jadi ‘alim’…?


Kucing aja b’rani….

Suatu ketika, seseorang adik tingkat kuliah main ke rumah, katanya mau konsultasi mengenai komputer barunya (maksudnya baru dia miliki), mulai dari pukul 4 sore hingga pukul 7 malam.

Sebelumnya, ketika jam kuliah telah selesai, dia memutuskan untuk ikut bersama saya saja sambil menunggu bus kampus. Karena adzan ashar sudah masuk, saya ajak dia ke masjid kampus untuk berjamaah. Seperti ada sedikit nada terkejut darinya, mungkin baru kali ini ada orang yang mengajaknya ke masjid untuk sholat. Tak tahulah…

“Kok terkejut, sudah masuk waktu sholat. Kita sholat ashar dulu, barangkali dalam perjalanan ke rumah abang nanti kita udah keburu mati, padahal kan belum sholat.” Kataku.

Sesampai di wisma tempat tinggalku, kami mulai mengobrak-abrik isi laptop yang dia bawa (he he, kejamnya lagi…) Hingga waktu maghrib tiba. Lalu saya bergegas mandi dan mengajaknya ke masjid dekat wisma. Setelah itu kami lanjutkan kembali pekerjaan membedah laptopnya.

Ketika dia minta ijin untuk pulang, bertepatan dengan adzan isya berkumandang.

“Nanti saja ya, tanggung sudah masuk isya’. Nanti kita sama ke rumahmu, sekalian abang mau main ke rumah kos teman.” Kataku. Ketika pulang adari masjid di menyeletuk, “Lama tinggal di sini bisa jadi alim aku.” Saya hanya tersenyum.

Kutipan di atas hanya sebuah prolog, walaupun kebetulan mendapat cerita yang pas untuk bahasan kali ini. Mengapa kita takut untuk menjadi ‘alim’? Tak sedikit bahkan justru menjauhi hal-hal yang kira-kira bisa membuat mereka jadi ‘alim’. Haha… Saya sempat tertawa dalam hati, apakah orang alim itu hanya orang-orang yang rajin sholat ke masjid, rajin puasa, dsb. Padahal menurut arti aslinya, alim itu adalah orang berilmu.

Sebuah fenomena yang begitu mencemaskan. Orang muslim sendiri takut untuk menjadi alim. “Nanti sajalah, kalau udah tua tobatnya.” Sebuah pengingkaran atau pembelaan? Hmm, berkali-kali saya katakan bahwa siapa yang bisa menjamin bahwa kita bisa hidup sampai tua.

Menurut pandangan mereka, islam buat mereka adalah islam yang biasa-biasa saja. Sekedar percaya pada islam, yang penting sholat, puasa, buat yang baik-baik aja udah cukup. Dan islam bagi mereka yang alim, orang-orang yang menurut mereka mirip orang Pakistan. Berbaju gamis, berjenggot, rajin ke masjid, dan sebagainya.

Sempitnya pandangan dan sedikitnya pengetahuan akan islam lebih jauh membuat pola pikir menjadi sangat angker terhadap islam. Baiklah, dalam pengertian saya kita memang harus menjadi alim. Menjadi semakin berilmu terhadap islam yang kita anut dan kita percaya sebagai agama penyelamat umat di akhir jaman. Bukan berarti kita harus mirip orang Pakistan, tapi bahwa setiap perbuatan dan apa yang kita lakukan semua bersandar pada dua harta peninggalan nabi, yaitu al-Qur’an dan hadis.

Jadi, janganlah takut untuk menjadi alim. Bukan untuk menjadi sok alim, tapi benar-benar alim. Kita mengerti dan paham dengan islam, dan kita berbuat dan berjalan di bumi ini dengan nafas islam. Hingga akhirnya tak ada lagi orang yang akan meneriaki kita ‘sok alim’. Kita yang akan meneriaki mereka dengan ‘sok kafir’ kamu.

3 thoughts on “Kok takut jadi ‘alim’…?

  1. maunya poto saya,,,tapi meningkat pula derajat kenarsisan saya nanti..hahaha

    hanya menggambarkan saja, masa iya kita kalah ma kucing,,,go ALIM go….!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s