Males Sholat Maghrib Lagi

Rasanya shalat maghrib di masjid ini menjadi tidak menyenangkan dan menenangkan lagi. Anak-anak TPA itu berisik sekali. Mereka bercakap-cakap saat orang-orang sedang shalat, layaknya merekan sedang di ruangan kelas sekolah.

Anak laki-laki hanya duduk sambil membicarakan apa saja sambil memakan jajanan, sementara orang-orang sedang shalat berjamaah dan mereka baru aka masuk masjid ketika kami selesai shalat. Berisik sekali. Duduk melingkar, mengobrol apa saja.

Sehingga saya tidak begitu tahan untuk berlama-lama di masjid. Bukan karena saya tak rindu pada Allah, tapi saya tidak tahan dengan tingkah anak-anak ini. Pun ketika imam selesai membaca doa, mereka akan berhamburan mendekat ke arah imam, melangkah begitu saja di depan orang-orang yang sedang shalat sunah rawatib. Sangat tidak nyaman.

Saya heran, apakah anak-anak ini hanya diajarkan mengenali huruf arab dan membacanya, sedang mereka tidak diajarkan supaya tenang saat menuju masjid, segera menuju masjid ketika adzan sudah berkumandang, ikut shalat berjamaah dengan tenang, duduk tenang mengikuti imam yang mengiring membaca dzikir, lalu dengan tertib mengikuti pengajaran, dan shalat isya berjamaah sebelum mereka pulang.

Saya tidak tahu apa sebabnya, mungkin anaknya memang bebal, atau ustadznya tidak begitu peduli dengan perkembangan mental dan tabiat anak-anak didiknya. Nyatanya, di keseharian anak-anak in tetap saja bertindak tidak sopan, berkata kasar, dan ada yang melawan orang tuanya.

Dan mungkin terlalu dini jika harus memvonis pengajarnya, setidaknya orang tuanya tidak begitu saja melepaskan mereka untuk belajar di masjid bersama teman-temannya. Tapi tak banyak orang tua yang peduli, merekan hanya disuruh ikut mengaji karena melihat anak-anak lain mengaji, tidak dibekali apapun dari rumah selain uang jajan, dan sekembalinya mereka di rumah hanya disambut seadanya, tidak ditanyai apa yang mereka baru pelajari tadi, tidak ditanya apakah tadi meribut atau ikut shalat berjamaah, dan mereka kembali disuguhi tingkah laku orang tuanya yang kemudian menjadi contoh buruk bagi anak-anaknya. Merokok, marah-marah, bergunjing, berkata kotor, dan sebagainya.

Heran saja, mungkin ABS-SBK memang hanya berupa pajangan saja kini. Peran ulama sudah tidka kentara lagi. Menyedihkan sekali, orang-orang hanya sibuk bertengkar di DPRD, tapi banyak sekali daerah yang terabaikan oleh sentuhan agama. Tak berlebihan rasanya jika pemurtadan berjalan lancar di daerah ini. Lantas, apakah anak-anak ini akan kita biarkan terseret arus jaman dan perangai buruk orang-orang terdekatnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s