Dakwatun Alay

Haruskah kita membuang teman-teman kita yang alay, lebay, dan melambai…? hanya karena mungkin kita terganggu oleh foto profilnya yang narsis, atau status-statusnya yang memakai bahasa planet Namec itu.

Rasanya terlalu terburu-buru untuk menjawab iya.

Lantas, apakah kita harus mengeksklusifkan diri, menjauh terhadap orang-orang yang kenyataanya pikiran mereka berseberangan dengan kita, atau mengkhususkan bahwa kita adalah golongan ‘putih’ dan ‘normal’?

Saya juga baru menyadarinya ketika menghapus teman-teman fesbuk yang notabene berjulukan alay, narsis, dan lebay. Menyedihkan sekali ada pelabelan seperti itu. Pelabelan hanya melahirkan kelas-kelas, kasta-kasta, yang akhirnya hanya memecah kesatuan yang coba kita bangun sendiri. Namun penyesalan saya sudah tidak berarti karena memang penyesalan hanya seperti kentut.. Puss… baunya tercium untuk beberapa saat, namun tak dapat lagi kita pungut.

Yah, maaf bagi teman-teman yang sempat saya hapus namanya, barangkali jika kalian berkenan silakan add lagi… 

Pernahkah berpikir, jika tidak pada mereka pada siapa kita akan berdakwah. Apakah kita akan terus-menerus hanya mendakwahi orang-orang yang sering ke mesjid, yang pakaiannya putih, yang jenggotnya menjuntai, atau ibu-ibu pengajian? Kita mengabaikan dakwah yang satu ini. Bukankah menyenangkan menjadi sebab matahari terbit (meminjam istilah di novel AAC)?

Dunia dakwah kini sunggh jauh berbeda dengan jaman bapak-bapak kita dulu. Mereka masih mau untuk sekedar hadir di pengajian, atau mendengarkan ceramah agama. Sekarang, anak-anak yang telah disibukkan dengan begitu banyak hal hura-hura belaka. Perkembangan teknologi informasi tak berbarengan dengan perkembangan teknologi akhlak. Sehingga bisa kita lihat, anak-anak SD sudah ber-handphone ria, nongkrong berjam-jam di warnet untuk main game online, sembunyi-sembunyi main PS, dan lain sebagainya. Kesibukan mereka hanya mengobrol tak berujung, chatting, jejaring sosial, nongkrong.

Jika dulu kita biasa nongkrong atau sekedar mengobrol hanya untuk menghilangkan kejenuhan sejenak, sekarang rasanya hal omong kosong ini menjadi makanan utama. Sehari tak buka fesbuk saja rasanya belum minum pil penenang.

Baiklah, ini hanya sekedar anjuran. Berhenti untuk merasa diri lebih bersih, lebih hebat, dan lebih tinggi dari yang lain, lalu kita mengabaikan tangan-tangan yang menggapai butuh untuk kita sambut. Semua bisa menjadi jalan dakwah, tak peduli di fesbuk, di chatting, atau layanan internet lain. Setidaknya apa yang kita lakukan bisa menjadi catatan yang baik untuk memberatkan amalan kita di akhirat nanti. Malaikat pasti bersaksi, dan orang-orang yang kita bantu juga bersaksi. Bisa dibayangkan begitu banyak orang yang akan membela kita nanti.

Saudaraku. Ini bukan saatnya melihat hitam-putih-merah-kuning-hijau-biru, ini saatnya menyatukannya menjadi sebuah pelangi yang indah. Bersandar pada satu pijakan yang pasti, Allah SWT.

Tetap semangat. Umat menuggu kita.

Iklan

4 respons untuk ‘Dakwatun Alay

  1. alai berkata:

    ondeh…sia urang nan tukang cap tu tuh…
    ndak sadar subananyo do mah…ngecek berdakwah, tp ndak mencerminkan prilaku islam dg membeda2kan urang doh….
    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s