Sebuah cerita tentang…

Masjid Sunyi

Dalam malam yang hening
Aku duduk bersila di depan mihrabmu
Satu-satu jamaah pulang ke rumah, rindu hangat pelukan dan canda tawa anak-anaknya di rumah
Tapi pada Tuhan tidak
Sedang anak-anak muda lagi nongkrong di gerbang masjid
Membicarakan knalpot baru yang mengeluarkan asap aroma terapi

Aula megah ini selalu kosong, padahal akan dibuat dua lantai, bisa dibayangkan betapa angker jadinya
Hanya bapak-bapak tua yang datang menyambut kumandang sang muadzin
Itupun yang sadar kalau sebentar lagi mereka akan kembali ke tanah
Padahal, siapa sih yang bisa menjamin dirinya masih hidup esok pagi…?

Anak-anak muda tak begitu peduli
Mereka lebih bersemangat untuk mendatangi rumah pacar-pacar mereka
Menggombal sampai berbuih-buih
Padahal, mana bisa burung gagak bisa menyerupai merpati…?

Begitu pula orang-orang yang menganggap dirinya ‘penting’ dan ‘sibuk’
Allah tak begitu penting bagi mereka, shalat nanti saja, itupun pake kilat khusus, doa pakai sms sajalah,…
Padahal, Allah selalu sibuk mengurusi mereka, setiap hari
Memberi hujan, menumbuhkan pohon, mematangkan buah
Hanya saja, dalam pikiran sempit mereka, Allah tak bisa menyalakan AC, menghangatkan nasi, atau mendinginkan susu fermentasi
Barangkali…

Masjid ini kembali hening
Ia hanya ramai sesaat setelah maghrib oleh anak-anak TPA
Yang ternyata hanya ribut rebutan kitab daripada membacanya
Sedang sang ustadz hanya geleng-geleng kepala, “Diberi makan apa anak-anak ini oleh induknya…?” pikirnya

Atau…
Hanya ramai sesaat setelah subuh oleh anak-anak yang ikut pendidikan subuh di hari minggu
Suara-suara polos mereka akan nyaring terdengar lewat corong pengeras suara
Mereka mengaji, berdoa, adzan, iqamat, membaca bacaan shalat, wudhu’, dan tayammum

Siang hari…
Masjid ini kian hening, muadzin pun adzan sambil menguap
Malas memanggil orang-orang yang bebal tak beranjak dari kursi malas sambil mendengarkan siaran dangdut dari stasiun radio lokal

Kecuali saat hari jum’at saja…
Atau saat hari raya saja…
Orang-orang akan berbondong-bondong pamer baju baru, sajadah baru, sandal baru,…
Sayang dia tak sempat gosk gigi, ada kulit cabai di gusinya

Sayang sekali…
Rumah Allah ini hanya meriah saat perayaan maulid nabi, nuzulul Qur’an, atau saat tahun baru hijriah saja
Ruangan ini akan penuh orang tua, anak-anak, remaja,
Yang sebenarnya hanya menunggu pembagian besek berisi serabi, kue singkong, nasi putih, bihun, dan telur rebus
Setelah itu, mereka akan pulang sambil terkentut-kentut
Ceramah sang ustadz hanya hinggap di langit-langit, lalu membeku terbawa embun

Atau…
Hanya ramai saat Ramadhan menjelang
10 hari pertama, rasanya tak ada lagi tempat untuk berjamaah
10 hari kedua, aku bisa shalat sambil tidur-tiduran
10 hari ketiga, akulah orang yang paling muda di sana… ha ha ha
Para ibu hanya sibuk menyiapkan rendang dan kue lebaran, serta baju baru untuk anak-anaknya yang manja
Padahal Allah dengan harap menunggu mereka hingga malam terakhir

Malam ini…
Aku pulang dari hadapan mihrab suci ini
Pak Haji masih khusyuk beriktikaf, aku ingin mengucapkan salam, segan
Lalu pergi mengambil sandal dan mengayuh sepedaku
Di tiap rumah, suara TV menggema, pun di rumahku
Aku tetap mengayuh sepedaku, menembus gulita malam…

(Padang, 14 Mei 2010)

Kasur Portable

Kubeli kau seharga Rp 85.000
Warna hijau lumutmu mulai agak menghitam
Dan kau mulai lepek karena tlah kutiduri bertahun-tahun

Kau kupukuli saat ku sedang marah
Kau kuelus-elus waktu ku sedang rindu
Kau kucium-cium kala ku sedang jatuh cinta

Sebentar kau ku gulung dulu
Karena aku ingin menghadap Tuhanku pagi ini barang sejenak
Berterima kasih telah memberi ilham atas penciptaanmu
……………….Padang, 14 Mei 2010……………….

Gelas Teropong

Kubeli kau seharga Rp 15.000 sepasang
Karena bentukmu mirip teropong jika disatukan
Kubagi dua dengan temanku

Dulu kau bergambar seorang putih memegang bola basket
Kini warnamu jadi hitam pekat
Sehitam warna hati temanku

Ternyata dalam gelasnya ada belati
Lalu dia tusukkan di punggungku
Keluarlah darahku, dia dapat wanita pujaanku
……………….Padang, 14 Mei 2010……………….

3 thoughts on “Sebuah cerita tentang…

  1. Suka baca tulisan anda. Sptnya knyataan ttg masjid di mana2 sama ya. Kmdian yg ttg gelas teropong itu cerita ttg pngkhianatn seorang tmn, tp pnympaianny ckp jenaka. Tx. Mmpir k blogku ya.

    • Suka nulis sajak y mbak?

      kalau saya masih suka nulis kritik sosial diblog ini,,g bayak puisi yg di post… soalnya saya kian hari kian geram melihat kenyataan bahwa orang islam sendiri tak bisa menghargai agamanya….

      yah,,,udah g aktif dakwah di kampus, di blog saja lah..hehehe

      udah saya buat anda di link saya….

      salam kenal
      🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s