Draft Puisi Untuk Lomba

*) Tema : Keluarga

Camelia Sinensis
By : retno_adjie

Pagi-pagi aroma teh menusuk hidungku
Teh seduhanmu yang selalu ku rindu
Yang dipetik sendiri dengan ujung lentik jarimu

Biasanya kau akan duduk di depanku
Menemaniku menghabiskan sepotong roti
Hingga tak terasa sinar mentari mengingatkanku untuk segera menjemput mimpi

Aroma itu selalu menemaniku
Ketika setumpuk laporan berjejal di meja kerjaku
Atau ketika aku sedang menonton televisi

Di sepanjang jalan pun aku masih merasakan hasil racikan tanganmu itu
Aromanya, rasanya, ditingkahi manisnya senyummu
Yang kurasa lebih indah dari sinar mentari pagi

Mari bicara…
Itu kata sedikit pariwara tentang karyamu
Dan kita memang selalu bicara
Hingga aromanya ditelan malam yang dingin

[Padang, 17 Mei 2009]

She’s Mine
By : retno_adjie

Tempat merapat segala penat
Tempat tersesat segala hasrat
Tempat berlabuh segala rindu
Tempat menyepuh segala peluh

Menepi di dermaga hatimu yang nyaman
Lelah seharian mendayung sampan dunia
Meniti riak-riak kesulitan dan masalah
Rasanya persinggahan ini tak ingin sampai di sini

Terjaga di pelukanmu
Menatap binar cahaya matamu
Wajahmu yang terbasuh air wudhu
Selayak sang bidadari surga hadir di mataku

Wajahmu selalu berhias senyuman terindah
Terbingkai dalam hangat salam
Lembut menyentuh bahuku
Subhanallah…
Tak bisa lebih dari ini engkau kugambarkan
Cukuplah segenap rasa ini tertumpah padamu dengan rahasia
Senyummu, marahmu, rajukanmu, candamu

Dinda,
Tawarkan asam keluhanku
Maniskan madu semangatku

[Padang, 08 Januari 2010]

*) Tema : Politik

Lenong Negeri
By : retno_adjie

Para pejabat seperti selebritis
Sebentar-sebentar klarifikasi
Karena gosip datang silih berganti
Dan akhirnya pocong dan tuyul pun masuk TV
Mereka juga butuh klarifikasi, mungkin…
Sementara si babi mungkin sedang mengutuk manusia
Dia tak bersalah tapi dipukul beramai-ramai dituduh pencuri

Ke dunia olahraga…
Pasangan Bibit Chandra berhasil menumbangkan Anggodo bersaudara dalam 3 set langsung
Sekarang, Mbak Sri akan melawan Mas Bambang dalam partai lanjutan Century Cup
Tapi di ring tinju, cicak dan buaya masih bertikai
Sang presiden dibuatnya geleng-geleng kepala
Dan saudagar sapi itu tersenyum simpul melihat sang jenderal hampir mati berdiri

Rakyat kini lebih percaya kepada koin daripada pengadilan tinggi
Mungkin karena koin tak punya lidah jadi tak bisa berbohong
Orang banyak yang tersenyum ketika menonton TV
Melihat tingkah pengacara goblok yang mati-matian membela kliennya yang sama-sama goblok
Barangkali jika dia terbukti membela orang yang salah, dia akan malu setengah mati
Atau barangkali rasa malunya yang telah mati…

Hukum Indonesia hampir mirip parodi
Orang yang ambil kakao tiga biji harus masuk bui
Sementara perampok negara masih sempat ketawa ketiwi
Apakah ini demokrasi?
Rasanya demokrasi telah mati, udah diganti sama democrazy
Suruh saja si Butet dan Ucup Kelik jadi presiden mimpi
Biar tambah lucu negeri ini…
Kita tak perlu takut jika melihat kesalahan
Karena ini mimpi, dan kita tinggal bangun saja lagi….

(padang, 14 Desember 2009)

2 thoughts on “Draft Puisi Untuk Lomba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s