Mitos ke’wibawa’an masyarakat indonesia

Beberapa hal yang masih menjadi kebanggaan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Beberapa hal ini dianggap akan menjadi nilai plus yang akan menambah kewibawaan. Dan sebagian besar masyarakat Indonesia masih menerima hal itu. Sebuh mitos kepercayaan yang telah mengakar sejak lama, untuk mengubahnya tentu saja susah. Biarkan sajalah, asal tidak saling mengganggu saja karena itu hak masing-masing orang untuk punya kepercayaan.

Dan beberapa hal tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kumis

Perhatikanlah bapak-bapak kita atau orang-orang dewasa lain, mereka akan lebih suka memelihara kumis daripada memelihara jenggot. Hal ini dikarenakan sebagian masyarakat Indonesia masih menganut paham bahwa orang berkumis adalah orang berwibawa. Kumis dianggap membawa wibawa bagi yang punya. Sehingga berlomba-lomba mereka memelihara kumis hingga terkadang semakin melintang itu kumis, semakin wibawa orangnya. Namun. Tak sedikit pula tokoh-tokoh nasional bahkan dunia yang terkenal lantaran kumisnya.

Padahal sesungguhnya Nabi tak menganjurkan memelihara kumis, bahkan kita disuruh memeliharanya sekedarnya saja. Yang Nabi ajarkan adalah memelihara jenggot. Selain sebagai pembeda antara laki-laki dan perempuan, jenggot menjadi ciri khas masyarakat muslim.

2. Tentara/Polisi

Kebanyakan orang akan bangga jika salah satu anggotanya menjadi polisi atau tentara. Hal ini akan menambah wibawa keluarganya. Dan kebanyakan orang pula akan memajang siapa saja dari anggota keluarganya yang menjadi anggota bela negara itu. Bagi yang tidak menjadi polisi atau tentara akan membeli pernak-pernik mobil bergambar lambang tentara atau suka sekali memakai kaos bertuliskan ‘MARINIR’ dibelakangnya. Tak sadar jika sudah terlalu lama dipakai, baju itu jadi bertuliskan ‘MARINI’. Ha ha…

Dan jika seorang ‘tentara’ ini mempunyai job sampingan alias punya kerja lain, maka di tempat kerja itu pun juga akan terpajang dengan gagah fotonya lengkap dengan pakaian resmi tentara dengan segala pernak-perniknya. Tak heran ada foto tentara di rumah makan, di pool bus, di penginapan, atau di tempat las karbit.

3. Dokter

Kuliah dimana? Kedokteran. Kebanyakan orang akan langsung terperangah, ‘wah…hebat ya kuliah di kedokteran.’ Dulu, saya juga beranggapan sama bahwa kuliah di kedokteran itu hebat sekali. Dan bagi sebagian masyarakat Indonesia, mempunyai anak seorang dokter akan menambah harga keluarga di mata masyarakat. Terkadang jika melamar pun, ‘harga’ seorang dokter jauh lebih mahal dari akuntan sekalipun. Dokter dianggap begitu begengsi di mata masyarakat.

Bagi para mahasiswa pun, mereka akan dengan bangga menempel stiker bertuliskan ‘Kedokteran Unand’, padahal dia kuliah di Hukum. Atau bahkan ‘FK UI’ sekalipun biar dianggap dia juga orang hebat, setidaknya pernah ke UI untuk beli stikernya. He he

Bagi yang tak bisa kuliah di kedokteran, maka akan berbondong-bondong menyerbu segala macam sekolah tinggi bertajuk Ilmu Kebidanan atau Ilmu Keperawanan…eh, Keperawatan. Tak apalah katanya, yang penting masih ada bau-bau kedokterannya. Aneh-aneh saja.

Kalau untuk saya sendiri, tak berlebihan rasanya, karena kuanggap sama saja. Dokter juga profesi, akuntan pun profesi, apoteker juga profesi, asal profesional dijalankan maka rating itu akan naik dengan sendirinya. Dan jika saya ditanya kuliah dimana, enteng saja lah jawabnya, ‘Saya kuliah di Jurusan Akuntansi Fakultas Kedokteran’. Ha ha.. (yang penting ada kedokterannya… dasar)

4. Punya saudara di segenap penjuru nusantara

Ini satu lagi, saya paling malas jika ditanya dari mana derah asal saya. Karena dimapanapun daerah yang saya sebut, maka lawan bicara saya akan bilang bahwa ada saudaranya disana. Terlebih jika orang Minang yang tanya (ha ha, pengalaman pribadi…). Memang, untuk masyarakat tertentu dapat ditemui di manapun kita berada. Seperti misalnya orang Batak, dan Jawa yang sangat suka merantau jauh dari kampungnya, dan tentunya orang Minang yang bisa ditemui di mana saja. Bahkan salah seorang pemimpin kita pernah berseloroh, jikapun nanti planet Mars bisa ditinggali, maka orang pertama yang buat rumah makan adalah orang Minang.

Tapi saya risih saja mendengarnya, jika disebut saya dari Makasar, dia bilang ada omnya disitu. Atau di Aceh saya sebut, dia juga bilang disana ada kakaknya-pamannya-adiknya-tante dari ibunya. Walah… Mungkin buat sebagian orang, mempunya sanak saudara ada di seluruh belahan Nusantara menjadi sebuah kebanggan. Dan saya hargai itu, rasanya juga menyenangkan. Hanya saja, ya itu tadi… he he

5. Bernama ‘BAMBANG’

Kadang heran juga mendengar ada orang bernama Bambang, tapi ternyata dia bukan orang jawa, baik itu jawa tulen atau blasteran. Ternyata, bagi sebagian masyarakat Indonesia, memiliki atau nama anaknya Bambang akan menaikkan prestise karna menurut anggapan mereka kebanyakan Bambang itu adalah orang-orang penting dalam kemiliteran, misalnya presiden kita sendiri Susilo Bambang Yudhoyono.

Di daerah Minang pun juga saya jumpai seseorang bernama Bambang, hanya saja mungkin nama belakangnya bukan lagi dari unsur bahasa jawa, mungkin ditambah dengan nama asing atau nama gaul anak sekarang. Apapun itu, Bambang tetap memiliki kharisma, jarang orang berani mempermainkan nama ini, kecuali seorang pelawak senior yang suka memlesetkan namanya menjadi ‘Mamang…’

Sebenarnya ada nama lain yang dianggap keren, namun tak sepopuler Bambang, seperti misalnya Edhie, dan ‘yg berakhiran Yono’…

2 thoughts on “Mitos ke’wibawa’an masyarakat indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s