Maukah rekaman hidupmu ditonton orang lain?

Menarik. Sebuah khutbah jum’at pada minggu lalu. Sebenarnya mata tlah diserang kantuk saat detik-detik pertama khatib menaiki mimbar. Namun, seruan adzan itu mengembalikan kesadaran yang sempat direnggut syaithan. Menempatkankanku kembali di saf kelima barisan makmum. Pada preambule khutbah terasa membosankan karena si khatib mengutip percakapan anggodo yang berhasil di sadap oleh Mahkamah Agung. Namun, saat kisah itu selesai, jantungku menangkap sesuatu yang maha dahsyat kala khatib menguraikan isi khutbah dengan gamblang.

Semenjak kasus Anggodo menggema, lalu dikeluarkanlah UU ITE oleh Menkominfo yang mengatur penyadapan internal KPK oleh Mahkamah Agung. Rekaman percakapan anggodo yang diperdengarkan di MA waktu itu membuat ketar-ketir pihak-pihak yang telah bersekongkol untuk memyokong Anggodo. Bagaimana jika kejahatan mereka diendus Pihak berwajib karena nama-nama mereka secara jelas disebut dalam percakapan itu.

“Kita takut jika segala tingkah laku kita akan terekam oleh orang lain, dan kemudian diperdengarkan di depan khalayak ramai. Jangan-jangan rekaman kejahatan kita ikut ditampilkan. Padahal sesungguhnya sepanjang hidup kita telah disadap oleh Yang Maha Kuasa. Rekaman kehidupan kita senantiasa dipantau oleh Allah.”

Semakin menarik, berhasil meremangkan rambut tipis di sekujur tangan dan tengkuk. Saat khatib berkata,“Allah menyadap segenap sendi kehidupan kita melalui malaikat. Selain itu, di tubuh kita juga terdapat alat penyadap yang akan mencatat semua yang kita lakukan mulai kita baligh hingga mati nanti. Alat itu adalah kedua tangan dan kaki. Bagaimana tangan dan kaki bisa merekam?”

“Ilustrasi sederhana, jika kita pernah belajar naik sepeda sedari kecil, lalu untuk beberapa lama tidak menyentuh sepeda sama sekali, dan kita suatu saat diminta untuk naik sepeda, maka dengan mudah kita akan melakukannya. Karena tangan dan kaki kita sudah merekam proses naik sepeda. Berbeda sekali dengan orang yang tak pernah belajar sepeda sekalipun. Bahkan tangan dan kaki pun juga sudah mampu mengungkap catatan kehidupan kita di dunia. Begitu mudahnya pihak berwajib melacak penjahat, atau pelaku kejahatan lainnya hanya dengan membaca sidik jari. Sungguh sebuah bukti bagi manusia yang mau berpikir.”

Lalu bagaimana dengan keadaan setelah mati nanti? Apa yang terjadi dengan rekaman kita di dunia itu?

“Dalam sidang luar biasa Mahkamah Akhirat nanti, malaikat akan menyusun BAP kita. Sejumlah tuntutan dan dakwaan akan dilayangkan. Mulut kita (yang senantiasa berdusta ini) akan dikunci, lalu berkatalah tangan dan kaki kita. Dan rekaman hidup kita itu akan diputar di Mahkamah Agung Akhirat, ditonton oleh milyaran bahkan trilyunan manusia di aula mahsyar. Bayangkan, padahal sudah berapa kali maksiat yang kita rasa takkan diketahui siapapun akhirnya dinampakkan di muka umum. Malu? Seberapa malu saat engkau melakukannya? Kemana malumu? Maluku ada di Indonesia Timur.”

Air mata tergenang di pelupuk mata, tapi malu sama jamaah sebelah. Hampir saja mencair.

“Namun, bagi manusia yang mau berpikir dan senantiasa memperbaiki diri. Insan yang tak ingin rekaman kejahatannya dinampakkan oleh Allah, disediakan sebuah tombol Del bernama ‘taubat’. Tombol ini berfungsi untuk mengedit, bahkan menghapus catatan kejahatan yang kita lakukan selama hidup di dunia. Sehingga hanya catatan kebaikanlah yang ditampilkan.”

Untuk menghindari dari perbuatan dosa yang selalu kita lakukan dengan sembunyi-sembunyi, jadilah seolah-olah diri anda ini adalah artis atau selebriti yang senantiasa dikuntit kehidupannya oleh pekerja infotainment. Kita akan takut setengah mati jika saja ada satu keburukan kita yang berhasil didapat oleh infotainment tadi, maka habislah riwayatnya. Bahkan sampai takut harga dirinya akan jatuh dan pamornya hancur berantakan. jadi dengan begitu, niat-nat maksiat perlahan-lahan akan bisa dikuasai. InsyaAllah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s