Sebuah esai “Indonesia Negeri Infotainment”

Klarifikasi, adalah satu kata penting dalam perkembangan Indonesia satu beberapa tahun belakangan ini. Semua orang menjadi sangat butuh klarifikasi karena berbagai pemberitaan terkadang cenderung mangada-ada dan memojokkan suatu pihak. Perkembangan demokrasi Indonesia memang mendapat apresiasi dari berbagai negara di Eropa dan Amerika karena perkembangannya begiu pesat setelah satu dekakde lepas dari tirani orde baru.

Namun yang terjadi belakangan, demokrasi menjadi suatu fenomena yang sangat buruk. Baik itu kebebasan berpendapat ataupun kebebasan pers. Perubahan pers dalam membawa berita juga mengalami perubahan semenjak dua buah stasiun TV swasta saling berlomba untuk menjadi pertama dalam inovasi pemberitaan. Berita menjadi semacam gosip, acaranya juga jadi semacam talk show. Sebentar-sebentar setiap orang butuh konferensi pers dan klarifikasi atas pemberitaan. Setiap orang jadi butuh berkali-kali masuk studio untuk syuting.

Jika dilihat akhir-akhir ini acara berita tak ubahnya acara gosip. Suatu berita akan bertahan hingga berhari-hari atau berminggu-minggu, semisal berita Cenury Bank atau kasus Makelar pajak. Setiap hari itu-itu saja yang disiarkan. Mungkin tujuannya baik, agar pemirsa tahu perkembangan berita. Namun ini tak berlaku bagi rakyat kecil, mereka tak begitu mengerti apa yang terjadi dengan ranah politik di Indonesia. Mereka hanya butuh berita harga sembako terbaru, harga jual hasil tani terbaru, berita kapan ada grebek pasar atau pasar murah, berita kapan harga pupuk turun, itu saja. Mereka tak begitu butuh runutan kejadian Bank Century hingga berminggu-minggu. Hal ini cenderung membuat orang mereka jadi bosan menonton berita di TV. Imbasnya, mereka kembali beralih ke radio untuk mendengar warta berita RRI, berita daerah, atau nonton berita di TVRI yang lebih beragam dan merakyat.
Para pejabat dan politikus pun tak kalah populer dari para selebritis tanah air karena mereka jadi sering nongol di TV. Sehingga muncul anekdot, mungkin artis sudah kalah pamor sama pejabat. Jadi untuk mendongkrak kembali popularitasnya, mereka memilih untuk jadi pejabat saja. Pejabat lebih sering masuk TV.

Jika tak percaya, bisa disimak di setiap TV swasta, terutama dua stasiun TV swasta yang saling berlomba dalam hal membawakan berita. Sekarang sedang hangat-hangatnya kasus Markus, semua orang membicarakan markus. Pejabat-pejabat tinggi itu juga berulang kali masuk TV untuk klarifikasi. Markus disebut dimana-mana, padahal dia tenang-tenang saja di Persib (Markus Horizon). Entahlah, mungkin pers yang membimbing demokrasi sekarang menjadi demokrasi infotainment, bukan demokrasi pancasila lagi. Orang jadi suka pakai topeng karena harus berakting setiap kali masuk TV. Orang jadi hobi berdebat karena rakyat Indonesia akan berpikir dia hebat setiap kali menyaksikan dia di TV. Orang jadi suka pasang aksi. Topeng.

Sayang sekali jika bentuk demokrasi pers jadi seperti ini, fungsinya jadi tak murni alat mencari informasi, tapi lebih ke ajang aksi para orang-orang yang sok penting. Orang jadi suka memikirkan diri sendiri, kasihan rakyat kecil yang dulu mati-matian mendukung dan memilih dia sewaktu pemilihan umum, terpinggirkan, teracuhkan, tak dilirik sama sekali. Sayangnya tak banyak yang memikirkan hal ini, sudah saatnya TV nasional kembali merebut kejayaan dengan memberikan informasi yang relevan dan update agar rakyat Indonesia tak hanya bengong melihat orang beraksi, tapi mereka juga bisa beraksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s