Kasihan cinta

Seorang wanita berdiri mematung di bibir dermaga pantai carocok. Wajahnya sendu, dia memakai gaun putih lebar sehingga melambi-lambai ditingkahi angin pantai. Membawa sekuntum mawar merah yang hampir layu, dia biarkan jari-jemarinya terluka oleh durinya.

“Tak apa, hatiku lebih sakit daripada terkena duri ini.” Lalu seorang laki-laki mendatanginya, belum sempat melangkah lebih dekat, wanita itu menghardik, “Kamu mau apa? Tak usah berpura-pura peduli padaku. Kamu sama seperti yang lain, bilang cinta tapi melukaiku.” Sang lelaki masih terdiam, lalu tersenyum lembut. “Aku tak cinta padamu, aku juga tak peduli denganmu. Tapi cinta masih peduli padamu.” Wanita itu menyahut dengan tak kalah kerasnya dari deburan ombak, “Persetan dengan cinta. Cinta itu telah membunuhku…”

Lain waktu, ada seorang laki-laki duduk terkulai di jok motornya. Tatap matanya kosong. Katanya dia baru saja ditinggalkan cinta, ditinggalkan kekasihnya. Kasihan sekali dia, hampir saja tak ada kekuatan dalam hidupnya. Dia bilang cinta telah mengambil seluruh kekuatan dari raganya. Dan dia tak pernah lagi mau mengenal yang namanya cinta.

Lalu seorang pria tersenyum berseri-seri. Karena cinta yang ia tanamkan bersemi. Dia bilang cinta menerimanya, karena cinta pula dia memintanya. Seolah-olah pagi hari baginya, senyumnya tak pernah lekang dari bibirnya. Sampai saat semua terjadi, kekasihnya harus kembali kepada pencipta dengan tiba-tiba, tak terduga. Serentak seluruh kekuatannya luruh memandang jasad kaku kekasihnya. Dia bilang cinta tak adil.

Atau yang sering terjadi dan melanda di masyarakat. Seorang remaja yang masih mengkal memandang bahwa cinta itu ada pada wajah seorang siswi yang memakai rok abu-abu itu. Disitu dia temukan cinta. Atau ketika seorang pelajar mengenal pemuda berwajah tampan yang mengendarai motor keluaran terbaru, dia bilang disitu cinta. Lalu berbuat atas nama cinta, menyentuh, menggenggam, merangkul, memeluk, mencium, me….. Semua karena cinta, katanya.

Bahkan ada yang pasang status untuk berhati-hati berkenalan dengan cinta setelah mendapati seorang sahabatnya tersakiti oleh cinta. Padahal cinta itu kan menyembuhkan, bukan justru sebaliknya, menyakitkan.

Kasihan sekali cinta… dia tak bersalah tapi dianggap bersalah. Jadi ingat petikan syair dari guru cinta yang tak pernah sukses kisah cintanya, Kahlil Gibran.

Cinta berlalu di hadapan kita
Terbalut dalam kerendahan hati
Tetapi kita lari darinya dalam ketakutan
Atau bersembunyi dalam kegelapan
Atau yang lain mengejarnya untuk berbuat jahat atas namanya (KG)

Cinta itu seperti oksigen, dibutuhkan, tidak berwarna, tidak berasa, dan netral. Dia bukan pelaku. Dia benih murni dalam kehidupan manusia. Memang tak cukup kata mendefinisikan namanya, bahkan siapa sejatinya cinta. Namun bukan cinta yang membuat orang patah hati, sakau, atau bunuh diri. Kita yang membuat hal itu sendiri atas nama cinta. Kasihan sekali cinta…

Maka berhati-hatilah mengenal cinta, atau untuk memakainya. Apakah kamu pikir Tuhan memberikan dunia dan isinya ini padamu bukan karena cinta? Atau seekor induk merpati yang mencarikan makan untuk anaknya itu bukan cinta? Atau barangkali ibumu yang setia dalam membesarkanmu itu juga bukan cinta? Cinta itu tak perlu dinampakkan, cukup pembuktian saja. Dia ada, dimana-mana, bahkan kita tak perlu mendapatkannya dari orang lain karena kita selalu punya cinta yang siap kita berikan pada siapapun.

Jadi, jangan pernah mengeluh karena cinta karena perbuatan kita sendiri. Seringkali hasrat dan nafsu jahat mengalahkan cinta. Maka bebaskanlah cintamu, berikanlah cintamu, lalu perhatikan apa yang terjadi… (seraya menirukan gaya Mario Teguh… ^_^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s