Apakah perlu pacaran…?

Apakah perlu pacaran…?

Perlu nggak ya? Rasanya kamu terlalu terburu-buru untuk menjawabnya. Coba tanya hatimu lebih dalam lagi, sekali lagi, lebih dalam lagi… dan dalam hitunga ketiga… JAWAB…! Masih butuh pacaran…?

1. “Rasanya masih deh kak, aku kan perlu curahan kasih sayang.” Sahut seorang perempuan lucu berponi.
2. “Aku juga setuju, aku juga perlu mencurahkan rasa cintaku pada orang lain.” Laki-laki ini pun tak mau kalah.
3. “Aku juga, Kak.”
4. “Aku juga…”
5. Dan juga-juga yang lainnya.

Hmm… sepertinya semua responden menjawab iya.

Baiklah kita mulai perjalanannya.

Pernahkah kamu mencoba mengkalkulasikan berapa biaya yang harus kamu kembalikan pada ibumu mulai dari mengandungmu hingga sekarang? Ayo, coba hitung! Tapi, pernahkan ibumu meminta itu semua?

Kemudian

Pernahkah kamu lihat induk angsa itu mengeluh karena harus berminggu-minggu mengerami telurnya hingga menetas, lalu menemani si anak hingga ia pandai mencari makan sendiri? Pernahkah kamu lihat ada anak angsa yagn ditelantarkan induknya?

Hmmm… kenapa diam? Hayo, sekarang senyum dulu… naaaah.. bagus.

Sekarang kita menuju pertengahan perjalanan kita. Saya tanya lagi, masih perlu pacaran? Dua orang sudah tak lagi menjawab, dia diam. Mungkin bingung.

Memang sulit rasanya melarang ini itu dalam kondisi dunia seperti saat ini. Apalagi tayangan televisi selalu menghadirkan acara yang intinya harus ada lawan jenis yang dicintai sebagai pacar. Entah itu acara tembak-tembakan (semacam operation file, atau di garis merah…he he he), uji kesetiaan, uji nyali, CLBK, sampai yang putus sekalipun selalu tayang pada saat-saat yang tepat. Remaja termakan hasutan. Kecenderungan biologis yang melonjak-lonjak di masa muda dipresentasikan sebagai bentuk pencarian curahan kasih sayang. Tapi perhatikan orang tua mereka, adik-adik mereka, kakak-kakak mereka, tak jarang mereka diacuhkan hanya karena ada pacarnya.

Dia doyan dan hobi sekali makan mie instan, sang ibu sudah memperingatkannya, tapi tak digubris. Kakaknya membelikan poster di ruang makan tentang keburukan konsumsi berlebih mie instan, tapi dia menyeduh mie instan di kamarnya. Namun, ketika sang pacar bilang, “Say, nggak baik loh makan mie banyak-banyak. Aku nggak suka.” Dia langsung nurut. Padahal nggak ada hubungannya kan antara dia yang makan ama pacarnya yang nggak suka makan mie.

Saya pikir kosakata ‘pacar’ ini tak ada di KBBI, namun ternyata ada. Berarti ini sudah menjadi baku dan umum di masyarakat. Padahal setahu saya kata pacar hanyalah nama sejenis bunga yang suka meledak, tahu apa namanya? Ya, pacar air. Entah apa maksudnya dikasih nama kayak gitu. Nah, jika kata ini sudah baku di Indonesia, berarti pelaku pacaran pun sudah umum kali yak. Buktinya, coba tanya aja tuh anak-anak yang ada di sini (he he), buktinya hampir semua menjawab iya. Yang nggak punya pacar ada beberapa kemungkinan:

1. Dia tahu pacaran itu nggak ada dan nggak boleh
2. Dia berjanji dalam hati akan pacaran saat kuliah nanti saja… (walah…)\\\
3. Atau dia benar-benar tak laku-laku… (he he.. ini jayus namanya…)

Pacaran dah jadi umum, entah atas nama cinta atau tidak. Padahal bagi remaja-remaja bau kencur ini (lantaran sering pake parfum aroma bumbu dapur,,,), pacaran lebih pada perbuatan. Pacaran seperti sengaja untuk menghalalkan perbuatan semacam mengatakan kata-kata romantis (rokok makan geratis), jadian, pegang tangan, cipika-cipiki, atau kemana-mana berdua. Serasa dunia ini milik mereka, dan kita-kita ini ngontrak sama dia…(T_T,,,kesian kita ya…..)

Heran, dan beberapa orang tua justru membolehkan anak-anaknya melakukan hal ini. Mereka malah menganggap anaknya nggak laku-laku kalau nggak pacaran. Kesian tuh orang tua yak….

Jerat, ini jebakan. Loh…kok…! iya, kalian masuk jebakan setan. Tau kan setan selalu mencari teman sebanyak-banyaknya untuk lawan bermain kartu di neraka nanti… Dan teman-temannya nanti adalah orang-orang yang telah masuk perangkapnya. Hayo, belum merasa juga dah masuk perangkap setan. Ada loh tanda-tandanya. Diantaranya dia udah nggak mau dengerin kata-kata orang tua, males ibadah, males kalau nggak ada seseorang, atau dia bakal kelimpungan kalau seharian nggak ada yang nelpon.

Kita di sini adalah muslim dan muslimah. Mau tetap jadi orang islam? “Mau…..!!!!” serentak kalian menjawabnya. Kenapa? “Kata ayah islam itu agama yang benar dan akan memberikan keselamatan bagi kita semua.” Seorang anak berkacamata menjawab dengan lantang. Betul… Lalu? “Karena islam bisa bikin kita masuk surga.” Kata yang lain. Bagus… ada lagi? “Mmm, dari kecil aku dah islam, Kak. Jadi ya aku pikir aku mau tetep jadi orang islam” Kata laki-laki berambut kelimis belah tengah (Cupu nggak ya…he he…)
Baik, kita semua yang ada di sini pengen masuk surga. Dan pengen tetep jadi orang islam. Tapi kenapa kok nggak mau ikut ajaran islam? “Kuno, Kak.”, “Nggak gaul dong nanti kak, masa iya pake jilbab di acara pensi. Geraaaaaahh….”, “Iya kak, aku nggak suka pake celana seperempat, masa iya kemana-mana harus pake baju koko.”, “Setuju, lagian di islam kita nggak boleh pacaran, kan nggak seru.”

Wah…wah… beragam jawabannya ya. Oke, untuk yang itu kita bahas lain kali ya kenapa islam terkesan kuno. Yang mau kita pelajari di sini adalah bagaimana seharusnya hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam islam. Islam sudah dengan jelas bilang bahwa tidak boleh bersentuhan bagi laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah. Ingat ya, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. “tapi kan kita biasa aja, Kak. Nggak ada berasa gimana gitu, kecuali sama…he he he” Ya, meskipun nggak berasa apa-apa. Namun itu sudah aturan, bayangkan saja jika ada satu saja rambu-rambu lalu lintas dilanggar, tentu akan terjadi kecelakaan bukan.

Larangan ini dimaksudkan untuk menjaga kesucian masing-masing, baik yang laki-laki atau perempuan. Kita ini lahir ke dunia dalam keadaan suci lahir dan batin. Polos seperti kertas putih. Seperti apa nanti kita setelah memasuki mesin cetak bernama ‘kehidupan dunia’ itu tergantung bagaimana kita mengisi kehiduan kita. Dan semua yang kita buat itu akan dipertanggungjawabkan loh di akhirat nanti. Siapa yang pernah sembunyi-sembunyi buat ketemu ma pacarnya karena takut ketahuan orang tuanya? Hayo ngaku, mumpung disini Cuma ada puluhan orang. Daripada nanti rekaman kita itu diperlihatkan di hadapan milyaran manusia termasuk orang tua kita, guru-guru kita (yang selalu kita bilang killer…), dan tentu saja dihadapan teman-teman kita. Bayangkan seberapa besar malunya kalau ketahuan?

Suatu saat nanti, si tangan akan bilang siapa saja yang telah dia sentuh, siapa saja yang telah dia pegang, dan apa saja yang telah dia ambil. Si kaki juga bilang kemana dia telah pergi ketika diam-diam bertemu dengan pacarnya, dia akan bilang berapa kali dia dilangkahkan ke masjid, mungkin lebih sering kita bawa dia ke lapangan bola daripada ke mesjid. Mulut kamu yang pandai berdusta itu akan dibuat bisu, kelu lidahmu, tak kan ada dusta di antara kita di akhirat nanti. Nah, siap-siap saja menerima akibatnya. Bukan sekedar DO, tapi kita di lempar ke api neraka yang panasnya beribu kali panas di bumi.

Wah sudah jauh bahasan kita ya. Baiklah, kembali ke laptop.

Dimana islam sudah sedemikian indah mengatur tata hubungan kita hidup didunia. Jika kita diibaratkan sebuah motor, maka islam memberikan sebuah buku petunjuk fungsional bernama Al-Qur’an dan buku petunjuk operasional bernama Hadist. Kedua buku ini dijanjikan nabi akan membawa kita dalam keselamatan selama kita berpegang taguh pada keduanya. Tak perlu kita melihat seberapa banyak ayat yang telah dibaca seseorang, tapi sudah berapa ayat yang coba dia terapkan dalam kehidupannya. Bagaimana kita bisa selamat, membaca Al-Qur’an saja malas, apalagi sampai mempelajarinya dan menerapkannya dalam kehidupan kita?

Ada pertanyaan?

“Kak, bagaimana dengan pacaran tadi?”

Oke, menurut kalian boleh tidak pacaran dalam islam? “Tidak…!” loh… Kok Cuma separo yang jawab. Apakah dalam islam diperbolehkan pacaran? “Tidaaaa…..k tahu, Kak.” He he, baiklah. Saya yakin kalian tahu itu tapi kalian mencoba untuk menyembunyikannya bukan. Malu jika ternyata lidahmu itu tak sejalan dengan kata hatimu. Lidah kalian sudah terlatih untuk mengingkari hati, makanya seringkali singa-singa putih kalian itu kalah melawan serigala hitam pertempuran batin.

Dalam islam, bersentuhan saja tidak boleh apalagi sampai yang lain-lain. Kita kadang berpikir bahwa hal itu biasa saja, tapi apa kata orang-orang jika melihat kita berjalan berdua, kemana-mana berdua, kita sudah menimbulkan sebuah fitnah dalam masyarakat. Dan itu mencoret kertas putih kita tadi. Kita dihitung telah membuat sebuah fitnah. Sebuah dosa, sebuah kesalahan.

“Mmm, Kak. Bagaimana jika kita berkomitmen tak akan ngapa-ngapain selama pacaran?”

Pertanyaan bagus. Pacaran tak hanya berarti sebagai bentuk hubungan fisik saja. Bukankah kadang kalian tetap merasa dongkol kalau dia seharian tidak sms atau comment status fesbuk, atau sekedar memberikan jempol di sana. Atau tiba-tiba kamu sebel karna mergokin doi lagi jalan sama yang lain (padahal sama kakak sepupu). Disana hati sudah bermain, meskipun fisik kita tak bertemu, namun hati kita sudah mulai dipermainkan, dipermainkan siapa? Dipermainkan setan. Hiii…masak iya kita mau hati kita yang punya tapi dimainin setan.

“Kak, bagaimana jika kita pacaran untuk mencari siapa sebenarnya yang cocok buat kita?”

Wah , itu bahaya. Perhatian bagi perempuan-perempuan yang ada di sini. Emangnya kalian pajangan yang Cuma dilihat-lihat trus ditinggalkan gitu aja karena merasa nggak cocok. Ingat, hati kalian Cuma satu (meskipun secara fisik terlihat ada dua), jangan sekali-kali dikotori oleh hadirnya seseorang yang ternyata semu. Jangan biarkan dia tercemar, karena hakikatnya hati itu terikatnya pada Allah. Hati itu tunduknya sama Allah, bukan sama setan. Nah, bagi yang cowok jangan kuatir. Bagi yang merasa dah pantas dan mampu untuk menikah, silakan kalian pilih pasangan hidup yang sesuai dengan kalian. Lalu datangi, dan nikahilah dia. Jika belum mampu tapi kepengen, yang sabar ya. Banyakin puasa senin kemis, kalau perlu puasa sunah yang lain. Yakinlah, bahwa kalian itu semua telah berjodoh, hanya saja Allah masih menyembunyikan jodoh-jodoh kalian untuk menguji seberapa besar kesabaran kalian untuk menerima berkah Allah yang tiada duanya.

“Tapi, Kak. Bagimana mencurahkan kasih sayang ini kalau nggak sama pacar?”

Kita semua masih punya orang tua dan saudara kan. Bagi yang sudah tiada orang tuanya, berbuat baiklah pada saudara-saudara orang tua kita. Rasul bilang sama kita bahwa berbuat baik dan menyambungkan tali silaturahmu itu bisa menambah rizki dan rahmat bagi kita semua. Cinta itu tak hanya untuk lawan jenis, bisa kita bagi buat hewan, tumbuhan, bahkan untuk diri kita sendiri. Untuk ke lawan jenis, kita sudah diberi waktu tersendiri untuk mencurahkan semua cinta yang kita simpan dan pelihara baik-baik dalam hati ini, yaitu setelah akad nikah. Maka berbuatlah sesukamu untuk mencurahkan cinta. Yang hobi berpuisi, buatlah puisi sebanyak-banyaknya pada istri/suamimu, yang hobi maen gitar, buatlah lagu yang indah-indah buat istrimu. Itu boleh.

Bagi yang masih kepikiran juga karena takut kehilangan wanita pujaan, ada tips ringan tapi jitu. Jangan pernah berpikir bahwa ‘dia’ itu orang yang tepat buat kalian. Tapi mohonlah pada Allah, bahwa kita membutuhkan orang yang seperti itu, maka aku bukan ingin dia tapi aku ingin orang yang seperti dia. Berat ya…? He he… Sabarlah, biasakan hal-hal baik ini, maka akan tersimpan dengan sendirinya dalam memori kita. Biar Allah yang men-defrag semua memori itu dalam RAM kita hingga suatu saat rasa itu dimunculkan dalam bentuk yang lebih indah. Bersiap-siaplah menerima kejutan-kejutan dari Allah bagi hamba-hamba yang pandai menjaga diri.

Atau kalian bisa menyibukkan diri dengan sesuatu yang kita sukai. Yang hobi olahraga silakan korting waktu untuk memikirkan ‘seseorang’ untuk berlatih keras, atau pada pelajaran, pada hobi-hobi kita dan bakat-bakat yang kita miliki. Tapi ya jangan terlampau semangat hingga lupa, ingat saat-saat kita telah siap lahir batin, bukalah memori kita dan persiapkan untuk menemukan bidadari dalam hidupmu. Manusia yang seperti itu tak hanya satu di dunia ini, kita hanya belum menemukannya saja.

Oke, sudah masuk waktu zuhur. Kita sudahi majlis kita ya. Hayuk, silakan ambil wudhu masing-masing.

2 thoughts on “Apakah perlu pacaran…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s