Kesalahan-kesalahan dalam gerakan shalat


Shalat merupakan pokok ibadah dari setiap orang yang mengaku muslim. Bahkan Nabi mengatakan bahwa amalan yang pertama kali dihisab di yaumil akhir nanti adalah shalat. Jika baik amalan shalat kita, maka baik pula amalan lain yang kita lakukan. Namun jika buruk amalan shalalt kita, maka buruk pula amalan kita yang lain.

Namun terkadang dari setiap shalat yang kita lakukan, ada gerakan-gerakan yang ternyata berbeda dari yang diajarkan oleh Nabi.

“Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kamu sekalian melihat aku shalat” (H.R. Bukhari)

Sesuatu yang luput dari perhatian, padahal ini merupakan bagian dari amalan yang begitu besar pahalanya. Namun, akankah amalan itu menjadi sempurna tatkala gerakan-gerakan yang kita lakukan masih jauh dari yang dicontohkan Nabi Muhammad..

Berikut beberapa panduan gerakan yang sesuai dengan yang dilakukan nabi.

1. Berdiri tegak

Ini merupakan gerakan awal dalam persiapan untuk melakukan shalat. Hendaknya sebelum memulai shalat, kita perhatikan apakah kita sudah benar-benar siap.

– Posisi berdiri tegak, badan tegak, tidak membungkuk atau berdiri dengan santai.

“Adalah Rasulullah saw apabila berdiri shalat, beliau berdiri tegak…” (H.R. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

– Kedua telapak kaki sejajar dan lurus. Tidak terlalu rapat dan tidak terlalu renggang, jika ditinjau dalam lagi, ini mirip posisi istirahat dalam gerakan baris berbaris, atau sejajar bahu. Dan dalam geerakan beladiri, posisi ini merupakan posisi siap atau kuda-kuda.

“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa ia tidak merenggangkan kedua kakinya dalam shalat dan tidak pula merapatkannya.” (H.R. Baghawy)

– Kepala agak menunduk dan pandangan tidak melebihi tempat sujud. Posisi ini dapat membantu untuk lebih tenang dan khusyuk, menenangkan mata, serta mencegah melayangnya pikiran.

“Apakah yang membuat orang-orang mengangkat pandangan ke langit ketika shalat? Hendaklah mereka berhenti melekaukannya atau (jik atidak) niscaya akan tersambar penglihatan mereka.” (H.R. Bukhari)

2. Takbir

– Kedua tangan diangkat sampai kedua telapak tangan sejajar dengan telinga dan lengan bagian atas dibuka melebar, serta kedua telapak tangan dihadapkan ke kiblat.

“Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: Nabi saw bersabda, ‘bila seseorang memulai shalatnya, hendaklah dia angkat kedua tangannya dan hendaklah dia hadapkan kedua telapak tangannya ke kiblat karena sesungguhnya Allah ada di depannya.” (H.R. Thabarani)

– Kedua tangan dilipatkan ke dada atau di bawah dada, pergelangan tangan kanan berada berada di atas punggung tangan kiri, dan menggenggam pergelangan tangan kiri. Bukan melipat tangan seperti orang kedinginan.

“…kemudian beliau menumpangkan tangan kanannya pada punggung telapak tangan, pergelangan, dan hasta tangan kiri.” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud)

3. Ruku’

– Kedua tangan lurus memegang kedua lutut, lengan renggang dari lambung, dan jari-jari tangan meregang.

“…kemudian ruku’, dan beliau merenggangkan tangannya (dari lambung) dan meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya dan beliau meregangkan jari-jari tangannya di atas kedua lututnya sehingga semua anggota badannya mapan…” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, Baihaqi, Nasa’i, Hakim, Darimy, dan Thahawy)

– Meluruskan punggung

“Jika Rasulullah saw ruku’ lalu diletakkan segelas air di atas punggungnya, maka airnya tidak akan tumpah.”
(H.R. Nasa’i)

– Tidak menunduk dan tidak mendongak.

”Nabi jika ruku’ melakukannya dengan sederhana; tidak terlalu condong ke bawah maupun menengadah. Diletakkannya kedua tangannya di lutut seolah mengenggamnya.” (H.R. Nasa’i)

Kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan dalam ruku’ adalah kedua kaki dijauhkan satu sama lain, kedua lutut dibengkokkan, dan dagu tidak diletakkan di atas tulang dada (sternum).

4. I’tidal

– Bangkit dari ruku’ dan berdiri tegak layaknya tegak saat takbiratul ihram. Sebaiknya berhenti sejenak (thuma’ninah) sebelum melakukan sujud.

“Jika Nabi saw mengangkat kepala dari ruku’, beliau tidak sujud sebelum berdiri lurus terlebih dahulu.” (H.R. Muslim)

5. Sujud

– Meletakkan tujuh anggota badan dan jari-jari kaki tidak diangkat.

“Aku diperintahkan agar sujud dengan tujuh anggota badan, yaitu kening dan hidung, kedua tangan, kedua lutut, dan kedua telapak kaki.” (H.R. Muslim dan Nasa’i)

– Perut tidak menempel pada paha

Dari Abu Humaid, tentang sifat shalat Rasulullah saw, ia berkata: “Apabila beliau (Nabi) sujud, beliau merenggangkan kedua pahanya sedikitpun perutnya tidak menyentuh pahanya.” (H.R. Abu Dawud)

– Punggung lurus

Dari Abu Mas’ud Al Anshari, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah saw, tidak sempurna shalat sesorang yang tidak meluruskan punggung ketika ruku’ dan suju.” (H.R. Imam yang lima)

6. Duduk antara dua sujud

– Duduk di atas telapak kaki kiri, telapak kaki kanan ditegakkan, dan kedua tangan diletakkan di atas paha. Sebaiknya berhenti sejenak (thuma’ninah) sebelum melanjutkan sujud yang kedua.

‘Aisyah berkata, Nabi saw membeberkan (telapak) kaki kirnya dan menegakkan (telapak) kaki kanannya serta melarang duduk seperti duduknya setan.” (H.R. Muslim, Abu ‘Awanah, Abu Dawud, Baihaqi, Ahmad, Thayalisi, As-Siraj, dan Ibnu Abi Syaibah.)

7. Duduk tahiyat awal

– Duduk di atas telapak kaki kiri dan telapak kaki kanan ditegakkan

Dari Rif’ah bin Rafi’, ia berkata: “Apabilaa engkau duduk pada pertengahan shalat (tahiyat awal), tenanglah dan beberkanlah telapak kaki kirimu (untuk diduduki) kemudian bertasyahudlah.” (H.R. Abu Dawud, Baihaqi, dan Hakim)

– Tangan di atas paha atau lutut, siku kanan menempel pada paha kanan, dan berisyarat dengan telunjuk

Dari ‘Abdullah bin Zubair, katanya: “Sesungguhnya Rasulullah saw apabila duduk setelah dua atau empat rakaat, beliau meletakkan kedua tangan di atas kedua lututnya, kemudian berisyarat dengan telunjuknya.”
(H.R. Nasa’i)

– Pandangan tidak melebihi jari telunjuk

Dari ‘Abdullah bin Zubair, ia berkata: “Pandangan mata beliau (Rasulullah saw) tidak melampaui jari telunjuknya…” (H.R. Abu Dawud)

8. Duduk tahiyat akhir

– Sama seperti duduk tahiyat awal, hanya saja telapak kaki kiri dimasukkan ke bawah tulang kering kaki kanan dan duduk dengan pantat (duduk tawaruk), kedua tangan di atas lutut, dan berisyarat dengan jari telunjuk. Pandangan tidak melebihi jari telunjuk dan kepala tidak perlu menggeleng.

Dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha’,…ia berkata: “…dan ketika duduk pada raka’at terakhir, (telapak) kaki kirinya dimasukkan (ke bawah tulang kering kaki kanan) dan ia duduk dengan pantatnya.”
(H.R. Abu Dawud)

9. Salam

– Menengokkan wajah dengan penuh atau menoleh sedikit saja. Tetapi dianjurkan untuk menengok dengan penuh seolah melihat ujung bahu kanan dan kirinya.

“Rasulullah saw melakukan salam ke kanan dan ke kiri sehingga terlihat putihnya pipi beliau (dari belakang).”
(H.R. Muslim)

– Mengusap kening atau kepala

Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah saw bila shalat dan selesai dari shalatnya, beliau mengusap kepalanya dengan tangan kanannya seraya berdo’a bismillahirrahmanirrahim allahumma adz-hib ‘annil hamma wal hazana (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Belas Kasih dan Maha Pemurah, Ya Allah, hilangkanlah kemurungan dan kesedihan dari diriku).” (H.R. Al-Bazzar dan Thabarani)

“…Rasulullah saw mengusap keningnya dengan tangan kanannya seraya berdo’a allahumma adz-hib ‘annil ghamma wal hazana (Ya Allah, hilangkanlah dari diriku kemurungan dan kesediha).”
(H.R.Al-Bazzar dan Thabarani)

Demikian beberapa gerakan dalam shalat sesuai dengan yang dilakukan oleh Nabi saw. Sebagai umat yang mencintai Nabi saw tentu kita akan mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh beliau demi kesempurnaan shalat kita. Gerakan-gerakan ini ditinjau dari hadits yang diriwayatkan oleh para imam. Selanjutnya akan ditinjau dari segi ilmu kesehatan, tunggu saja.

Salam 

Sumber:
Tata cara shalat Rasululllah saw. Dr. Muhammad Thalib.
Keajaiban shalat menurut ilmu kesehatan China. Lukman Hakim Setiawan.

6 thoughts on “Kesalahan-kesalahan dalam gerakan shalat

  1. faqih nutsman says:

    masih kurang lengkap dan jelas mas, pertama : saat mau ruku` bagaimana posisi ato gerakan tangan, apakh diangkat sperti waktu takbir awal mau sholat. kedua : setelah ruku` ato i`tidal, apkah kedua tangan juga diangkat sprti takbir awal, ketiga : sewaktu berdiri i`tidal sejenak bagaimana posisi kedua tanagn, apkh dilepas lurus sprti berdiri tegak menjelang sholat, ato tangan kanan menggemgam tanagn kiri sprti setelah takbir awal?

    • wah,,,agak panjang kalau dijelasin ya…^^
      untuk yang mengangkat tangan itu hukumnya sunnah, jadi boleh saja tidak dilakukan. tapi untuk pertanyaan terakhir, itu ada lain pendapat antar ulama,,,

      jadi, sebenarnya…mana yang kita yakini kebenarannya saja yang kita ikuti…

      salam

  2. budi akmam says:

    1. saya pernah dengar penjelasan seorang ustadz yang menyebutkan bahwa nabi sholat setelah salam tidak mengusapkan tangannya. memang nabi pernah mengusap keningnya setelah salam tapi itu karena ada pasir yang menempel ketika beliau sujud (maksudnya membersihkan keningnya dari pasir tersebut, bukan tuntunan gerakan sholat). pertanyaan saya : yang benar yang mana…? usap kening atau tidak….?
    2. duduk tahyat akhir pada sholat dua rakaat dengan posisi duduk iftiros atau tawarru’. karena selama ini kita saya melihat baik imam ataupun makmum semuanya duduk tawarru’ padahal mereka sholat dua rakaat. yang benar yang mana…?

    • salam.
      sebelumnya, tidak ada yang benar atau salah dalam melakukan gerakan shalat, mana yang kita yakini benar saja dan ada tuntunannya.
      1. kalau saya, tetap mengusap kening, karena sambil berdoa juga agar dihindarkan dari kemurungan dan kesedihan.
      2. sama-sama boleh. silakan anda mau pakai yang mana. bagi saya, penggunaan duduk itu tergantung keadaan, jika setelah shalat dua rakaat itu akan melakukan shalat lagi, demi kenyamanan untuk berdiri lagi, maka pakai duduk iftirasy. tapi jika tidak ada shalat lagi dan akan berzikir panjang (seperti selepas subuh), ya pakai duduk tawarruk.
      sekali lagi, tidak ada yang salah dan benar.🙂

      segala kebenaran milik Allah.

      • ada benar ada salah says:

        yah ada dong yang salah dan benar masa ada yang tidak mengusap wajah dan mengusap wajah dibilang sama, lihat dulu hadits2nya bang adi saputra, jangan hanya mengikuti ajaran nenek moyang,,, pasti ada yang salah dan ada yang benar,,,,,,,seperti bid’ah itu jelas salah, bid’ah itu contohnya salaman selepas solat ganggu orang yang mau doa aja

        sertakan gambar gerakan solatnya dong

  3. Menurut ana sih masalah mengusap kening atau tdk itu benar dua-duanya, ana ngikut pendapat dan keterangan Mereka Shohabat Anas, Imam Thabrani, Albazar,IbnSina juga ImamNawawi, Jadi kalo ada orang skarang yg menyalahkan hadist dan bilang mereka imam hadist salah atau mereka pembid’ah maka orang itu ilmu dan hapalanya lebih hebat dari Athabrani Annawawi, mungkin juga lebih soleh lebih salafi dari Shohabat Anas r.a.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s