Bukan Berjamaah Biasa [BBB]


Barisan kemenangan perlahan mulai terbentuk sesaat ketika iqamah dikumandangkan. Barisan itu merapat, kecuali beberapa orang yang agak membuat jarak dengan yang lain. Begitu pula seorang lelaki separuh baya di sampingku, kurapatkan jari-jariku hingga menyentuh jemari kakinya, dia agak menjauh, seolah ada bagian tempatku berdiri yang diambilnya. Tak bosan-bosan sang imam memperingatkan untuk merapatkan dan meluruskan barisan. Aku geser sedikit lagi, dia makin menjauh. Begitupun jika bahu kami saling bersentuhan, pria itu langsung membuat jarak beberapa senti.

Ini soal rapatnya barisan, Bung. Bukan hendak menunjukkan bahwa ada kawasan tempatku berdiri yang anda ambil. Barisan shalat mengajarkan kita untuk menyatukan dan meluruskan azzam kita dalam beribadah, sekaligus untuk melatih saling pengertian diantara kita. Pun di masyarakat nantinya, orang yang terlatih dalam meluruskan dan merapatkan barisan akan mempunyai jiwa sosial dan kesetiakawanan yang lebih tinggi. Tak hanya itu, jiwa toleransi juga ia dapatkan lebih baik. Terbukti, jika sesuatu kaum tidak saling mengenal di kawasan sebuah kompleks perumahan misalnya, akan terlihat akrab jika mereka kebetulan selalu shalat berjamaah di masjid yang sama. Mereka akan kelihatan seperti sahabat, akan saling bertukar kabar, saling menanyakan dan mendoakan masing-masing. Belum tentu dalam setiap pertemuan di rumah pak RW bisa langsung mengakrabkan orang seperti ini.

Tapi juga jangan injak kakiku. Ini soal toleransi, bung. Bukan hendak menjauh darimu. Jika memang barisan terlihat sudah rapat tak usaha lah lagi harus merapat hingga jemari kaki kita saling bertindih. Lalu bahu kita saling menghimpit. Tentu akan menyusahkan saudara kita yang di sebelah untuk keleluasaan gerakan shalat. Tentu shalatnya menjadi kurang sempurna karena sebagian gerakannya itu tertahan himpitan badanmu. Berjamaah tak sekedar mematuhi aturan fisik untuk saling merapat, tapi juga mengajarkan jiwa-jiwa kita untuk bisa saling menghormati orang lain. Tak semua orang sependapat dengan pemikiranmu, atau justru anda sendiri yang akan menuai kritikan sebagai orang yang aneh.

Baiklah, soal merapatkan dan meluruskan ini memang tak mudah. Tetapi kita juga harus belajar bahwa untuk merapatkan barisan dalam shalat saja susah, apalagi jika kita hendak merapatkan barisan di kehidupan masyarakat. Jika tak terlatih tentu kita akan kalang kabut sendiri. Yang egois tentu akan merasa bahwa kebebasannya terusik. Yang tak ramah tentu akan sangat mudah terpancing emosinya. Mari kita belajar bermasyarakat dengan shalat berjamaah. Semua contoh kehidupan sehari-hari ada di sana, cerminan kebersihan melalui bersuci, kedisiplinan melalui ketepatan waktu melaksanakan shalat di awal waktu, kebersamaan dalam menjalin sebuah barisan yang rapat dan tegap, kerja sama melalui saling mengingatkan jika ada yang lupa, dan saling menghormati satu sama lain dengan menghargai pendapat orang lain tanpa harus mamaksakan pemikiran kita terlalu dini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s