Idola cilik… Ajang Eksploitasi Anak

Ajang pencarian bakat mulai merebak lagi di Indonesia sejak satu dekade terakhir ini. Berbagai acara audisi pun digelar dalam rangka mencari bibit-bibit atau orang berbakat yang kira-kira dapat ‘dijual’ di pasaran. Terlebih untuk dunia tarik suara, diawali dengan ajang Indonesian Idol, AFI, dan sebagainya. Ajang yang diperuntukkan bagi orang dewasa ini tak urung menyedot begitu banyak peminat dan peserta.

Namun, belakangan ajang pencarian bakat juga merambah dunia anak-anak dengan harapan muncul lagi penyanyi-penyanyi cilik yang akan meramaikan dunia entertainment Indonesia karena memang semenjak generasi Joshua Suherman, Trio Kwek-Kwek, Tasya, Sherina dan Chikita Meydy yang kini telah beranjak dewasa, tidak ada lagi generasi yang meneruskan. Tak urung dalam waktu itu anak-anak absen dari dunia rekaman.

Tak salah sebenarnya jika ajang pencarian bakat ini digelar. Namun begitu disayangkan akhirnya ajang ini menjadi ajang eksploitasi anak. Hal ini sangat miris bagi saya, anak-anak begitu cepat jadi dewasa akhirnya. Ada beberapa ajang pencarian bakat yang menurut saya hanya sekedar menaikkan rating stasiun TV saja.

1. Idola Cilik

Acara yang ditanyangkan di RCTI ini begitu banyak mengundang antusiasme, baik itu pemirsa ataupun bagi peserta audisi. Anak-anak yang rata-rata masih duduk di bangku SD beramai-ramai mengikuti ajang ini, entah itu kehendak sendiri atau atas dorongan orang tuanya. Sebelumnya saya tertarik juga menyimak tayangan ini, namun tak lebih karena ada Duta SO7 disana yang didaulat sebagai juri/komentator dengan sebutn Om Duta.
Namun sungguh disayangkan, ajang ini justru memiliki banyak kekurangan.

Pertama, anak-anak ini diberikan materi lagu yang notabene “milik” orang-orang dewasa. Tak ayal anak-anak ini pun akhirnya harus menyanyikan lagu-lagu konsumsi orang dewasa. Tema seputar cinta, pacaran, dan selingkuh menjadi bahan kontes mereka dan meluncur mulus dari bibir-bibir polos mereka. Memang tak bisa dipungkiri dalam satu dekade terakhir tidak ada lagi stok lagu bertema anak-anak yang beredar. Mungkin mereka (atau para juri) segan saja untuk menyanyikan/mendengarkan lagu Anak Gembala milik Tasya dulu. Padahal telah ada beberapa musisi yang mencoba bersimpati untuk membuat lagu bertema anak-anak, seperti Eross Candra, Letto, Fla Tofu, Naif yang rela mengubah diri menjadi BonBinBen, serta yang terakhir adalah soundtrack Laskar Pelangi. Namun tetap saja, para juri pun tak menghendaki lagu-lagu itu dan tetap saja mengajukan lagu-lagu dewasa untuk anak-anak ini nyanyikan.

Kedua, kritera penilaian mereka sengaja dibuat mengikuti penilaian pada kontes orang-orang dewasa. Mereka harus bisa improvisasi dengan lagu yang mereka bawakan. Tak urung kostum-kostum yang rata-rata dipakai para artis (gelo) itu harus mereka kenakan, plus model rambut yang meniru gaya ‘aneh’ sekarang, mulai dari yang model berdiri, jegrak, acak-acakan, hingga dicat sana-sini.

Ketiga, penilaian para juri sengaja/disengajakan mengikuti penilaian pada ajang-ajang semacam Indonesian Idol atau sejenisnya, mulai dari penghayatan lagu, gaya di panggung, hingga tipe vokal yang dinilai begitu rumit.

Anehnya, para komentator/juri tetap saja memaksakan penilaian-penilaian ini berlaku bagi peserta. Padahal nanti, jikapun ereka membuat album, maka konsumennya juga anak-anak yang hanya mementingkan bagaimana sebuah lagu itu mudah untuk diingat. Semudah mereka menghafal lirik “hey… ada yang marah, waktu kugoda…..” Saya agak respect dengan Umay yang mencoba apa adanya dengan lagu suderhana berjudul “presiden” dan terasa anak-anak banget. Saya harap semoga saja Mas Duta segera sadar dan nggak pernah lagi jadi komentator untuk ajang-ajang ‘ngawur’ ini.

2. Mamamia

Ajang yang ditayangkan di stasiun TV Indosiar ini memiliki warna berbeda dari ajang yang lain, dimana anak dan orang tua (Mama) dapat tampil dan menjadi bintang penggung. Berbeda dengan Idola Cilik, ajang in mengambil segmentasi remaja, dan tentunya ajang ini juga memberikan begitu banyak pengaruh buruk. Hingga tak berlebihan rasanya jika saya menyebut ajang ini sebagai ajang begi orang uta untuk menjual anaknya.
Betapa tidak, rata-rata bagi remaja putri yang tampil terkadang hanya sekedar mempertontonkan aurat dan tubuh mereka untuk sekedar menambah ‘nilai jual’ di mata juri dan ratusan pemirsa yang akan memiihnya, dan orang tua mereka bangga akan hal itu. Dibiarkannya anak-anak tercinta mereka berlenggak-lenggok dengan pakaian seadanya untuk ditonton jutaan pemirsa di Indonesia.

Sungguh ironis sekali, dunia enterainment tak lagi mengandalkan kualitas, stasiun televisi pun hanya sekedar berlomba-lomba untuk menaikkan rating masing-masing. Tak lagi tontonan berkualitas, namun sekedar mengisi jam tayang saja. Padahal dunia entertainment dan terutama televisi sebagai medianya juga berperan aktif dalam pendidikan bangsa Indonesia.

Apakah akan selamanya bangsa Indonesia, terutama anak-anak dan remaja adkan dididik dengan lagu-lagu cinta dan pakaian-pakaian, serta sikap para public figure yang semakin tambah edan saja. Seolah kita mempersilakan kaum imperialis dengan begitu mudah menjajah pemikiran generasi muda Indonesia. Mereka tak perlu bersusah payah lagi karena orang kita telah dengan senang hati menjadi kader pemurtadan moral bangsa Indonesia. Setan-setan yang akan menghancurkan bangsa sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s