Yang ‘tidak’ baik ketika berjamaah…

Beberapa hal yang ‘tidak baik’ dan cenderung mengganggu (saya) jamaah lain. Terlebih waktu subuh, dimana sangat diuji sekali keimanan kita. Mulai dari memilih mana antara berdingin-dingin ria dengan air wudhu atau meringkuk hangat di dalam selimut. Dan hal ini juga berlaku pada waktu-waktu shalat yang lain. Bagi saya pribadi hal-hal itu bisa begitu mengganggu sehingga terkadang dalam shalat saya lebih sering merutuk daripada mencoba lebih khusyuk… Astaghfirullah

Hal-hal tersebut adalah,

1. Makmum yang ‘bau’
Terkadang tak hanya tempat shalatnya yang bau, tapi makmumnya juga (mungkin) lupa meminimalisir ‘bau’-nya, baik itu bau badan, bau mulut, atau bau pakaiannya. Biasanya yang lebih mengganggu adalah bau badan alias keringat (padiah…!!!), terasa agak menyengat..he he he. Mungkin saran saya sebelum pergi berjamaah ada baiknya memakai sedikit wewangian, kan dah banyak yg jual tuh…10.000 perak nyeh..!! Nabi kita saja menyuruh agar memakai wangi-wangian saat akan pergi ke masjid untuk berjamaah.
Lalu bau mulut, entah itu bau karena lupa gosok gigi, bau karena rokok (ini yang paling menyebalkan), atau bau setelah makan makanan yang memiliki kadar bau yang tinggi.
Nabi saja melarang siapa saja yang bau (dalam hal ini dianalogikan setelah makan bawang) untuk menunda keinginannya pergi ke masjid samapai bau itu dapat teratasi. Jika tidak, tentu akan mengganggu rekan jamaah sebelah kita.
Dan bau pakaian, entah itu karena lembab, sarung yang sudah buluk, atau sebab hal lain. Terkadang ibu-ibu juga kurang memperhatikan mukenahnya ketika akan pergi shalat, sehingga tak sadar teman sebelahnya sudah menutup hidungnya.. Mpf….(he he…)

2. Menguap
Satu hal yang sangat menjengkelkan ketika (secara tidak sengaja) mendapati teman sebelah sedang menguap ketika shalat. Mending kalau dia menutup mulutnya dengan tangan, ini dibuka selebar-lebarnya hingga kadang sampai berbunyi “koaak..”. Hiiii…..

Allah saja sangat membenci perbuatan ini. Jika seseorang ingin menguap, maka hendaklah dia menahannya sebisa mungkin, atau dengan menutup jalan terbukanya mulut dengan menggunakan tangannya. Hal ini sesuai dengan hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin.” (HR Muslim)
Memang hal ini tak bisa dihindari karena saya sendiri kadang juga merasa mengantuk saat shalat, namun sebisa mungkin ditahan. Ketika seseorang ingin menguap hendaknya ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, karena menguap adalah salah satu perbuatan yang buruk.

3. Berisik
Entah itu berasal dari suara dia ketika membaca surat atau bacaan shalat, atau suara menguap (tadi), atau bisa jadi dia sedang melenguh sendiri (haa..apa tu…?) Membaca doa dengan menggerakkan lisan sampai terdengar telinga sendiri (tidak mengganggu konsentrasi orang lain), selain untuk menghindari shalat ngebut, tentu saja berfungsi untuk meningkatkan kekhusyuan. Sebab dengan cara ini, lisan, pendengaran, fikiran dan hati punya “pekerjaan” untuk memperhatikan doa, sehingga dapat mengurangi gangguan. Bacaan shalat akan lebih mudah dihayati dan lebih syahdu, namun usahakan dengan pelan dan hanya telinga kita saja yang mendengarnya. Belum tentu teman sebelah kita berkenan mendengar suara kita kan…?
Jadi setidaknya kita juga menjaga agar shalat kita khusyuk, dan shalat teman kita juga khusyuk.

4. Banyak bergerak
Dalam buku-buku tuntunan shalat, melakukan gerakan-gerakan diluar gerakan untuk merapikan barisan shalat secara berturut-turut lebih dari tiga kali sudah membatalkan shalat. Terkadang dia sibuk sekali menggaruk sana-sini, atau bergerak tak tentu, yang bukan merupakan gerakan yang diperbolehkan dalam shalat.
Seperti mungkin gerakan melihat jempol kaki, menggerakkan kaki seperti orang sedang pemanasan senam, dan sebagainya. Tentu pahala shalat kita berkurang karena ternyata gerakan kita tadi mengganggu teman sebelah kita saat shalat.

5. Tahlil yang ‘berlaku surut’
Biasanya saya temukan pada shalat subuh dan maghrib, tapi terkadang di setiap waktu shalat juga dilakukan. Saya tidak mempermasalahkan bacaannya karena mengingat Allah dengan berzikir itu bagus. Namun terkadang, kejadiannya seperti ini. Tentu makna katanya menjadi sangat berbeda, bahkan terkadang ngebut saja saat hampir-hampir selesai, hampir menjadi ‘la ila ilullah”..(apa coba maknanya…?)
Setidaknya kita bisa membaca perlahan-lahan dalam hati ataupun dilafalkan, namun tidak menghilangkan atau mengubah makna kata yang kita baca itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s