Hal buruk yang sering melekat pada seorang aktivis

Sebenarnya ini hal yang cukup sederhana, namun ternyata ini juga sangat penting. Banyak dari masyarakat kita yang muslim agak begitu acuh dengan hal ini, terlebih dia itu aktivis. Hingga akhirnya menjadi sebuah ikon tersendiri bahwa siapa saja yang menyandang prediket di bawah ini adalah mereka.

1. Bau

Banyak dari teman-teman kita tak menyadari hal ini. Kita memang tidak disuruh untuk wangi, namun kita dituntut untuk tidak bau, baik bau kepala, bau mulut, atau bau badan alias blackberry. Lagipula tak pernah ada ajaran agama yang melarang bagi penganutnya untuk memakai wewangian, bahkan Allah sangat menyukai wewangian. Namun dengan kadar tertentu, tak harus tercium dalam radius seratus meter.
Kadang tak hanya badannya yang bau, bisa jadi pakaiannya juga bau. Atau, saya sebenarnya paling malas untuk meminjam sajadah pada teman-teman saya ketika akan shalat, kebanyakan bagian atasnya (atau dekat tempat sujud) sangat bau dan tidak nyaman bagi saya untuk menghirup udara saat sujud. Atau ditempat-tempat umum yang menyediakan mushalla pun tak lepas dari hal ini. Kebanyakan mereka tidak menyeka sisa air wudhu di kening mereka, sehingga sajadah yang basah itu berbau. Tak salahnya kita meniru Nabi kita yang selalu membawa handuk kecil untuk menyeka kening setelah berwudhu sehingga tempat sujud kita tak perlu jadi bau karenanya.
Bahkan dalam percakapan kecil antara Anna dan temannya di film KCB mengatakan bahwa “bagaimana saya bisa mencintainya dengan tulus sementara dia bau…” Nah lho….

2. Tidak rapi
Banyak hal yang terkait dengan hal kerapian, mungkin dia jarang mandi, malas menyeterika, atau saking acuhnya hingga tak peduli pada dirinya sendiri. Alih-alih mereka mengatakan “So what…” badan…badan gue.. apa urusan loe…

Tapi bukan masalah ‘asal enak’ atau apa, namun orang-orang biasanya menilai orang lain dari persepsi saat pertama kali bertemu. Jadi tak urung penampilan jadi penilaian pertama sebelum orang ingin lebih tahu diri kita selanjutnya.
Banyak saya temui mereka-mereka yang kadang memakai jaket yang lusuh, kemeja yang kusut masai, atau celana yang terlihat seperti baru saja disambar dari jemuran.
Mari kita tunjukkan bahwa kita (muslim) dan kebanyakan aktivis itu akrab dengan imej rambut rapi disisir, kemeja atau kaos yang disetrika, dan tidak memakai sandal jepit kemana-mana.

3. Tidur sesudah subuh

Ini juga sering sekali dilakukan, meskipun tidak setiap hari namun bisa berpotensi menjadi sebuah kebiasaan yang. Saking sibuknya hingga terkadang harus memakan waktu istirahat, padahal bukan untuk hal-hal yang tak begitu penting. Mungkin hanya sekedar menyususn draft rapat hingga larut malam, sekedar mubes semalam suntuk, atau mengerjakan proyek pamflet kegiatan untuk esok hari. Ada juga yang diundang kesana-kemari untuk tausiyah, memberi materi dan sebagainya. Namun ada baiknya, tidak terlalu sering menyita waktu istirahat kita sehingga pagi hari kita masih mampu bangun dengan segar dan tidak melanjutkan tidur saat matahari menuu waktu dhuha.

3 thoughts on “Hal buruk yang sering melekat pada seorang aktivis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s