Nasib Band Papan Atas Kita

Band “lawas” jadi korban latah booming band “kacangan”

Seolah menjadi trend baru bagi penikmat musik di indonesia beberapa tahun belakangan ini. Diawali dengan munculnya band-band yang sebenarnya tergolong ‘tak layak edar’, dan setelah itu diikuti dengan banyaknya band-band baru yang hanya timbul sekali lalu hilang ditelan bumi. Parahnya sekian banyak band-band baru itu hanya memainkan musik yang seragam, seolah mereka hanya home band yang menyanyikan lagu yang sama berkali-kali.

Band-band baru yang bermunculan hanya menang single atau beberapa lagu saja, lalu muncul band lain dengan corak musik sama, hanya bertahan beberapa minggu lalu hilang digantikan yang lain. Begitu seterusnya. Atau yang mau tampil beda juga bernasib sama. Sebut saja band yang mencoba kembali membangkitkan irama rock & roll, ballad, atau reggae, hanya bertahan sebentar saja dilanda musik pop mendayu yang kembali membooming. Begitu banyaknya band-band seragam yang muncul, entah yang pakai nama makanan, tokoh kartun, buah-buahan, atau sekedar nama abstrak saja.

Hal ini juga berimbas pada band-band papan atas yang terkenal bukan karena single, tetapi karena musik yang unik dan lirik yang easy listening sehingga mampu bertahan bertahun-tahun di hati penggemarnya. Penggemar yang baru-baru, seperti anak-anak ABG yang baru puber satu hanya terbawa mode saja ketika alunan pop murahan itu mendayu-dayu. Tak peduli bagaimana permainan atau sang vokalis bisa nyanyi atau nggak, yang penting lagu itu mampu buat pinggulnya goyang sambil bilang “eeee……aaaaaaaaaaaaaaaaa…”. Tak dihiraukannya lagi bagaimana sang vokalis harus mampu mengatur nada atau ritme-ritme yang pas sehingga lagu itu bisa nyaman mulai dari awal hingga habis, atau bagaimana sang gitaris yang dengan manis memadukan musik yang sepadan dengan permainan bass dan drum personil lain. Sekarang, pokokny asal genjreng dan asal mangap aja sudah bisa eksis. Seperti impian hancur band yang pengin jadi artis, tak peduli tampang atau permainan musiknya, yang penting jadi artis.

Tak urung banyak band lama menjadi korban, lagu-lagu mereka hanya booming sebentar saja oleh para penggemar yang masih bau kencur ini. Betapa mudahnya mereka pindah ke band lain ketika lagu itu sudah mulai terasa bosan. Mungkin takkan lagi ada dijumpai lagu-lagu evergreen semacam “Dan”, “Sephia”, “Pandangi langit malam ini”, “Putri”, atau “Bawalah Daku”. Band-band ini juga agak kelimpungan juga bagaimana harus menentukan strategi saat menjual karyanya, dimana arah penggemar bukan lagi masalah ‘sense’ saat mendengarkan musik, tapi lebih mengarah pada enaknya lirik. Band-band jamming tak disukai lagi. Tapi salut bagi para penggemar semacam sheilagank, slankers, baladewa, atau jikustikan yang tetap setia pada band pujannya daripada ikut-ikutan latah mengikuti trend musik yang mulai booming saat ini.

Sepertinya anak muda (mulai dari abege sampai yang ukuran anak SMA) takkan tahu siapa itu Boomerang, Jikustik, Padi, atau Kahitna. Mereka baru ngeh saja ketika band-band ini kemudian muncul kembali untuk memperbaiki selera musik yang cenderung seragam saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s