Etika Berpakaian Yang ternoda (lagi…lagi…)

Rasanya sudah bosan mau nulis tentang ini lagi. Tapi tetap saja, tulisan-tulisan itu dianggap angin lalu saja. Tak bergeming juga mereka, justru malah menjadi-jadi.


Pertama, rasanya kini seragam wajib anak-anak Unand adalah ‘celana pensil’. Celana yang tak layak disebut sebagai penutup aurat ini malah semakin populer di kalangan pemudi, khususnya mahasiswa saat ini. Rasanya tak modis jika tak pakai pakaian ini. Lihat saja, celana itu melekat erat memelut tubuh si pemakai. Mungkin bagi yang melihat sudah bisa mereka-reka seperti apa bentuk kakinya jika tak pakai celana (masa…?). bayangkan saja, atau paling tidak bagi yang sudah pernah melihatnya, betapa tak nyaman (baik dilihat, atau dipakai) untuk dipertontonkan. Benar-benar full pressed body. Bagian selakangan pun juga menempel erat, lalu membentuk bodi dan berakhir di pinggul. Apa nggak sesak pake tuh c’lana? Bagi yang bandel ya pasti bilang asik-asik aja. Saya membayangkan betapa tersiksanya barang yang ada di dalamnya, sesak nafas, kepanasan, bisa-bisa sekarat… padahal sudah ada penelitian bahwa perubahan suhu karena pemakaian celana sempit bisa mempengaruhi alat-alat reproduksi (baca aja tuh di wiki ato di Mr. Google…)

Ladies, saya kasih tau ya, mending kalo kalian make celana itu pas sama badan kalian. Yang merasa tinggi ato kakinya jenjang tentu aja pas kalo pake tuh celana. Tapi (maaf) bagi yang memiliki ketinggian tidak mencukupi quota masuk kepolisian, namun memiliki lebaran pinggul agak berlebih plus paha yang gemuk sehat, tentu kalian akan terlihat semakin bulat dan pendek. Jadi lebih mirip apa ya,… apalagi tuh pantat meluap-luap karena nggak ketampung ama celananya (maaf, bukan apa-apa. Ini fakta. Coba aja tanya orang-orang…).
Terus terang saya nggak respect sama kalian. Mau-maunya ngobral murah gitu. Ada lagi jenis lain yang bikin saya muak karena nggak dipake di tempatnya, kalo nggak salah namanya ledging. Sejenis celana namun lebih tebal dari stocking. Biasanya perempuan memakainya tanpa dirangkap lagi dengan rok atau sejenisnya (paling kalo pake rok juga yang puendek buanget…) rasanya pengin nembak tuh kaki pake karet gelang. Indonesia-Indonesia, mau-maunya dijajah mode tu… Kalo bocah-bocah bau kencur biasanya make celana jeans sempit di atas lutut, lalu wara-wiri naik skuter matik mamerin pahanya. Mending kalo mulus, ini belang-belang sisa cacar air masih kelihatan…ha ha ha Kesian bener lu bocah.

Lalu beranjak lagi ke atas. Mulai dari bentuk baju tak berkerah, bahkan tanpa kerah plus cabik-cabik, hingga pakaian yang salah potong kerahnya jadi miring sebelah sehingga nampaklah tali be**-nya. Mending kalo matching, ini merah-merah gimanaaa… ato yang agak item-item mutung…. Baju pun dah mode juga yang membentuk badan, apalagi perempuan. Rasanya kalau tidak pamer badan dianggap nggak keren. Jadilah berbagai macam pakaian, baik yang masih dalam ukuran ‘sopan’ sampai yang ‘norak’. Apalagi kalau pakai kaos atau apalah namanya dan belang-belang, saking sempitnya hingga tercetak kesan-kesan tepi bra di dadanya (ampun dah… maaf ya, yang ini nggak sengaja lihat..tapi terlihat oleh saya… :p)
Nggak habis pikir lihat tingkah anak-anak perempuan sekarang, dah tahu baju itu nggak muat masih dipake juga, yang sempit lah, yang kependekan lah. Dah tahu bajunya pendek masih juga ditarik-tarik biar ban serep-nya nggak kelihatan…(percuma aja atuh neng, tetep keliatan…marun-marun gitu…ha ha ha) Pas ujian juga sering tuh, yang pada pake baju putih agak transparan, nggak pake daleman, nampaklah….(sensor), apalagi pas keringetan…(udah cukup…).

Yang tak kalah perih lihatnya adalah, mereka-mereka yang memakai pakaian seperti itu juga berjilbab. Tapi ya gitulah, sekedar aja jilbabnya. Kadang malah cuma sekedar sebagai aksesoris, karena pendek sekali atau hanya satu lapis saja sehingga orang masih tetap saja bisa melihat ujung rambutnya. Mending nggak usah berjilbab aja lah, daripada mngotori makna jilbab itu sendiri. Kalau mau berjilbab, sekalian aja dijilbabin hatinya biar kaffah atau menyeluruh. Sadar jika rambut, badan, wajah, tangan, dan kaki itu titipan Tuhan yang suatu saat nanti akan diminta pertanggung-jawabannya, layak kembali ke surga atau perlu disepuh dulu di neraka.
Pada nyadar nggak, jika kalian memperlihatkan hal-hal seperti di atas, kalian yang akan menanggung dosa orang yang melihat, orang yang jadi ngeres pikirannya, atau orang yang akhirnya berbuat karena kalian itu juga kalian yang menanggung dosanya. Sementara pahala kalian juga akan berkurang seiring bertambahnya dosa yang kalian tanggung. Yang pada liat sih asik-asik aja, udah dapat tontonan gratis, dosanya juga nggak banyak-banyak amat coz udah kalian kurangi. Siapa yang rugi coba…?

Nggak tahu mesti gimana, setiap keluar rumah pasti pulangnya bawa Viktor alias Vikiran Kotor. Entah dada yang kelihatan, ato pinggul yang megal-megol kayak bebek, ato….argh///. Pokoknya risih banget rasanya nih dunia, jadi sering marah-marah sendiri, dongkol, akhirnya timbullah jerawat yang menyiksa. Padahal kalau ada apa-apa, laki-laki yang dibilang matanya suka belanja, padahal nggak belanja juga udah pasti terlihat karena terpajang sepanjang etalase, bahkan yang letaknya di emperan ‘rasa malu’. Moral tergadai demi sebuah kata ‘modis’ dan ‘gaul’. Na’udzubillahi min dzalik

Padahal agama (bagi yang mengaku beragama) sudah memberikan pakaian dan cara bergaul yang baik bagi perempuan. Rambut nggak bakal bau matahari karena ketutup ma jilbab, badan juga nggak bakal item karena tertutup pakaian yang panjang. Perilaku juga terjaga karena interaksi lawan jenis berlaku sewajarnya. Kulit tanganmu jadi suci karena belum bersentuhan atau bersalaman dengan yang bukan muhrim. Orang nggak bakal ada niat macem-macem karena seluruh tubuhmu tertutup dan terlihat siapapun. Bahkan pakaian indah itu sudah mampu menundukkan nafsu laki-laki, sungguh teduh dan indah bukan…? Kenapa masih ragu? Takut dibilang nggak modis? Modis itu urusan dunia, nggak nyampe ke akhirat! Enakan mana, cari perhatian manusia atau Tuhan? Manusia bakal mati dan nggak bisa kita pegang selamanya, tapi Allah (Tuhan kita) kekal abadi dan bisa setiap saat jadi sandaran hati.

Masih nyangkal, terserah lah… yang penting tugas saya sudah selesai (setidaknya untuk saat ini).

NB: saya sarankan kalian unduh lagu Jamrud : Putri. Dan dengarkanlah…

One thought on “Etika Berpakaian Yang ternoda (lagi…lagi…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s