Kita bagai hidup di tempat sampah

Itulah sebait kalimat yang pernah aku dengar dari seorang pembicara. Sialnya aku lupa siapa yang mengucapkannya, jadi aku bukan asal ngomong tapi sudah ada yang lebih dulu mengucapkannya. Mungkin kita bahas saja mengapa ada ungkapan seperti itu bisa keluar.
Orang itu – yang tadi mengeluarkan kalimat itu – mengatakan lebih kepada kaum lelaki. Kita sebagai lelaki diibaratkan sudah hidup di tempat sampah yang tak kelihatan kotor, padahal sesungguhnya banyak sekali sampahnya. Memang masih ada barang yang lebih berguna di sana, tapi sudah sangat sulit memisahkan mana yang baik dan mana yang sampah.
Masih penasaran? Baik kita mulai.
Lelaki sekarang menghadapi sesuatu yang hadir begitu saja tanpa harus mengundangnya. Kita tak perlu minta mereka supaya datang tapi mereka sendiri yang menawarkannya. Wanita. Mengapa wanita? Karena merekalah yang disebut sampah tadi. Eits… jangan marah dulu, wanita. Ini hanya sebuah pernyataan, mari kita lihat penjelasannya.
Wanita disebut begitu karena wanita sudah tak mampu lagi menjaga dirinya, tubuhnya, hatinya, dan segala yang ada pada dirinya, terutama bagian-bagian tertentu dari tubuhnya.
Bagian pertama dan utama sekali adalah sekwilda, kamu-kamu tahu sendiri apa kepanjangannya. Bagian yang sangat penting, baik bagi yang punya ataupun yang tidak punya.
Sumpah…! Aku sangat sulit untuk menghindari hal yang satu ini. Apakah kita harus terus memalingkan muka dan mata kita untuk menghindarinya. Tapi masih terlihat juga. Astaghfirullah… Itulah kenapa aku sekarang sadar mengapa Tuhan begitu cepat mengambil sebagian nikmat-Nya dari mataku. Aku sekarang menyandang sebuah kacamata seberat beberapa ons di atas hidungku. Pandanganku sudah samar jika tak pakai kacamata itu. Jadi tak jelas jika kelihatan bukit itu, walaupun masih samar terlihat agak cembung.
Kadang aku berpikir apakah aku harus minta supaya Tuhan mengambil mataku ini, daripada aku harus pindah tempat ke planet lain demi untuk menghindari melihat dua buah bukit itu. Aku tak habis pikir. Apa Tuhan menciptakan itu pada wanita hanya untuk ditonjolkan saja, padahal pun sudah menonjol dari sononya. Apa itu ada hanya untuk bangga-banggaan. Sehingga orang-orang berlomba-lomba memperindah bukit itu. Bagi yang punya bukit yang bagus bentuknya dan proporsional akan sedikit melayang terbang, serasa punya dia yang paling megah dan menggiurkan, baik untuk dilihat saja atau untuk…
Bahkan yang lebih edun lagi, dia sengaja membiarkan nafsu lelaki bangkit demi melihat-lihat bukitnya itu, biarpun samar terlihat dari balik be-ha dan kaos tipis ketat. Dan survey membuktikan dari mata lelaki lebih enak lihat yang dikit-dikit aja daripada yang terbuka dan terlihat langsung karena lebih mengundang penasaran. Itulah kenapa lelaki lebih senang sama yang ‘tidak sengaja’ diperlihatkan.

Begitupun dengan mbak-mbak yang berjilbab, aku jadi sedikit membencinya. Meskipun aku akui aku juga kagum pada wanita berjilbab. Tapi yang benar-benar berjilbab dan menjaganya. Sekarang kan lagi mode pake’ jilbab tapi bawahannya masih tetep aja kekeh dengan jeans model pensil dan atasan kaos biasa aja yang tetep aja nonjolin ‘punya’nya. Hal ini justru memperburuk citra jilbab itu sendiri. Prediket jilbaber hanya disandang oleh wanita yang jilbabnya berhasil melampaui dadanya. Sedang yang lain di atas dada. Apalagi kalau pake tas sandang dan talinya dilingkarkan di depan dada tepat pada belahannya itu. Sehingga keduanya semakin utuh terlihat setengah lingkaran.
Aku sadar ketika menulis ini pun mungkin pikiran-pikiran kotor sudah merasuk. Bayangan-bayangan aneh memenuhi otakkku. Tapi mau gimana lagi, kalo nggak aku tulis dan nggak ada wanita yang membacanya kapan mereka sadar akan hal itu. Aku suka satu ungkapan lagi dalam suatu acara banyolan, yaitu kasihanilah kami kaum lelaki.
Masih masalah yang berjilbab tadi. Ternyata susah ya menyadarkan mereka. Ada yang berdalih kalau mereka lagi belajar pake jilbab, jadi yang pendek n simpel-simpel dulu. Ada pula yang mengatakan kalau pake jilbab lebar itu takut nggak terkenal, dianggap jadi kuper. Tapi aku masih menghargai yang punya komentar kalau mereka belum punya dana untuk itu karena baru saja hijrah, dan ternyata baju gamis untuk perempuan agak mahal.

Belum lagi kebanjiran pakaian yang sangat menonjolkan bagian tubuh wanita, bahkan sengaja untuk menampakkannya secara samar. Dan sialnya, orang-orang kita bangga dengan pakaian seperti itu. Mulai dari yang agak nampak-nampak dikit sampai yang full pressed body. Wow…! jantung lelaki pasti akan dag dig dug der dibuatnya. Berjalan lenggak-lenggok bak peragawati selayak dibuat-buat supaya orang lihat, “Ini loh bokong gue…”, “ini loh dada gue…”, “ini loh bodi gue…”. dan mereka pun bangga. Inilah sesungguhnya perang yang sedang kita hadapi, ternyata kita masih kalah. Perang pemikiran yang dihembuskan oleh orang barat telah berhasil mengoyak-ngoyak sebagian keyakinan dan iman wanita-wanita sasarannya, termasuk Indonesia. Karena mereka sadar betul bahwa wanita adalah penentu dari segalanya, jika wanitanya hancur, maka akan sangat mudah menghancurkan suatu negara tanpa harus mengerahkan skuadron jet F-16, sukhoi, atau raptor sekalipun. Cukup dengan tontonan, gaya, mode, dan pemikiran tentang ini itu yang sangat ‘mendunia’ tanpa ada pikiran ‘mengakhirat’.

Aku agak pusing dan bingung juga, agak susah untuk mengembalikan orang-orang yang sudah terlanjur termakan pemikiran barat ini. Dia disuruh pake yang longgar-longgar, katanya nggak asik, disuruh pake jilbab katanya panas…hhh

Kita lanjutkan ke bagian yang lain, Bokong. Agak kurang sopan ya. Tapi ini sangat urgen. Aku ingat celetukan salah seorang temanku kepada seorang perempuan. “kapan kamu mau pakai rok, apa kamu mau terus-terusan jadi laki-laki?” katanya. Sekarang aku temukan fakta bahwa celana jeans dengan berbgai mode, mulai dari cutbrai yang jadul hingga sekarang terkenal dengan sebutan celana pensil, lebih terkenal dan dipakai banyak orang termasuk wanita daripada celana dari bahan lain. Kata mereka sih nggak ribet, enjoy, dan simpel. Padahal sesungguhnya banyak dari model celana jeans itu yang sengaja dibuat uuntuk menonjolkan bagian pinggul dan paha. Apalagi kebanyakan cara pakainya adalah di bawah pusat atau pas nyangkut di pinggul. Jadi kelihatan sekseh. Terkadang pun aku sedikti kurang ajar dengan mencari wanita dari bentuk pinggulnya karena sangat mudah melihatnya. Soalnya yang aku dengar, wanita berpinggul agak besar akan melahirkan dengan mudah daripada yang agak rata (sorry).

Padahal rancangan yang maha sempurna sudah ada terlebih dahulu diciptakan dan sangat pas serta anggun bagi wanita, tapi banyak yang masih mengacuhkannya. Takut jadi nggak terkenal. Padahal banyak yang terkenal dengan mode pakaian seperti itu. Aku tidak membenci jeans dan pemakainya, karena aku pun juga suka pakai celana jeans. Tapi yang proporsional dan tidak memunculkan lekak-lekuk tubuh. Jadi bentuk celana yang wajar seperti biasa. Atau aku sarankan pakai rok saja lah, ataupun celana yang agak longgar. Ini untuk menghindari fitnah. Bukankah sudah dikatakan bahwa diberlakukannya hal itu adalah untuk menjaga kehormatan wanita dan untuk menghindari fitnah.

Sebenarnya pembicaraan ini belum selesai, karena kontroversi yang muncul pun akan banyak. Tapi aku sudahi dulu. Cari bahan yang lengkap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s