Marriage By Accident

Sebuah definisi yang sudah memasyarakat bahwa Marriage By Accident (MBA) bukanlah sebuah pernikahan yang diharapkan dan dihindari oleh banyak orang. Kalaupun ada yang melakukan MBA (dalam pengertian sempit ini) maka tak pelak si pelaku akan mendapat sebuah pengucilan, walaupun akhirnya (karena saking banyaknya terjadi) masyarakat lama-kelamaan menerima fenomena ini dan tak terkejut lagi jika suatu saat nanti akan terjadi banyak MBA. Sebuah tanda apakah ini?

Sebuah kasus yang sering terjadi di masyarakat, biasanya alasan para pelaku adalah karena tidak mendapat restu dari orang tua, karena kenekatan si anak sendiri, pergaulan terlampau bebas, atau yang paling parah adalah upaya kristenisasi dengan modus MBA ini. (nanti sajalah, mungkin ada tulisan lain mengenai hal ini)
Namun saya juga suka menyebut bahwa MBA tak selamanya buruk (sebenarnya tergantung orang mendefinisikannya). Banyak kisah yang menuturkan bahwa akirnya sebuah pencarian itu berujung pada sebuah kebetulan yang manis.

Satu kisah yang coba dituturkan melalui dwilogi novel pembangun jiwa karya Habiburrahman dan juga telah difilmkan oleh sutradara senior Chaerul Umam. Salah satu kisah disana yaitu adanya peristiwa Marriage by Accident. Bagaimana seorang Azzam yang hampir putus asa dalam ikhtiar mencari jodoh akhirnya dipertemukan dengan cinta sejatinya dalam sebuah peristiwa tak terduga. Harapan yang tak terlalu tinggi di hamparkan kepada sebuah cincin yang dia titipkan kepada Kiai Pesantren Wangen untuk dipakaikan pada santrinya yang bersedia dinikahkan dengan Azzam. Secara tak terduga , dia malah mendapatkan seorang putri Kiai Wangen yang terkenal cantik dan cerdas itu. Orang yang dia kagumi selama ini. Sebuah peristiwa yang bisa dibilang tak terencana, namun snagat berkah dan bermakna. Saya sendiri menyebutnya dengan istilah MBA (Marriage by Accident) in case of Allah.

Ada juga satu kisah yang pernah menjadi bahan untuk setiap liqo’ atau pengajian-pengajian, kisah ini menggambarkan keikhlasan seorang pemuda dan ketakutannya pada dosa walau kecil sekali. Sebuah kisah dari seorang pemuda yang memakan buah apel. Dikisahkan ada seorang pemuda yang saleh sedang melakukan perjalanan, namun karena kehabisan bekal dan dia merasa lapar sekali. Kemudian dia melihat sebuah apel yang hanyut di sungai, lalu di amengambil buah apel tersebut dan memakannya. Setelah beberapa kali gigitan, dia ingat bahwa dia memakan buah yang bukan haknya. Dia takut dosa karena buah tersebut dia makan tanpa sepengetahuan pemiliknya. Barangkali pemiliknya juga sedang membutuhkan apel tersebut. Dia menyesal sekali dan memohon ampun kepada Allah, lalu bertekad menemukan pemilik apel tersebut untuk segera meminta maaf atas apel yang dimakannya. Dia ikuti arah berlawanan aliran sungai dan menemukan sebuah kebun apel tak jauh dari sungai tersebut. Dia masuk ke halaman rumah yang dia pikir itu mungkin sang pemilik apel tadi. Dia ketuk pintu dan keluarlah seorang bapak pemilik kebun tersebut. Setelah tenng, dia lalu mengutarakan maksud kedatangannya dan meinta maaf serta ridho dari pemilik apel tersebut atas apel yang dimakanya. Pemilik kebun tadi tidak serta merta menerima maaf pemuda itu demi melihat ketulusan hati dan keluhuran budi pemuda tadi. akhirnya setelah pemuda itu memohon, pemilik kebun tersebut melihat sebuah keikhlasan yang terdapat dalam diri pemuda ini lalu menawarkan sesuatu kepada pemuda itu. Maukah dia dinikahkan dengan anak gadis pemilik kebun tersebut, hanya saja anaknya itu lumpuh, bisu, dan tuli. Si pemuda merasa bahwa apakah ini sebuah cobaan lagi baginya, namun akhirnya dia pasrah kepada Allah dan karena merasa sangat bersalah kepada pemilik kebun maka dia menerima tawaran itu. Singkat cerita, akhirnya si pemuda itu resmi menjadi menantu sang pemilik kebun. Dia disuruh segera menemui istrinya di dalam sebuah kamar. Kemudian pemuda itu masuk ke dalam kamar yang ditunjuk. Tak berapa lama dia keluar lagi dan menanyakan apakah sang pemilik kebun punya anak lagi. Dengan tersenyum sang mertua menjelaskan bahwa yang di dalam itu adalah anaknya yang dia nikahkan dengannya. Ungkapan lumpuh, bisu, dan tuli hanyalah kiasan bahwa istrinya itu tak pernah melangkahkan kakinya ke tempat-tempat maksiat dan tangannya tak pernah digunakan untuk berbuat dosa sehingga di alumpuh untuk berbuat dosa. Lalu matanya but dari hal-hal yang dilarang agama untuk dilihat, dan telinganya tuli dari bergunjing dan mendengarkan sesuatu yang menimbulkan dosa. Begitu mendapat penjelasan sang mertua, pemuda itu segera sujud syukur dan segera pula menemui istrinya itu.

Dan masih banyak kisah-kisah yang coba dituturkan mengenai hal ini. Bagaimana sebuah ketawadhu’an dan keikhlasan akan mendapat sebuah ganjaran yang tak diduga-duga. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, selalu berprasangka baik terhadap keputusan-keputusan Allah, dan ikhlas menerima setiap yang Allah berikan karena yakin rencana Allah kepada kita jauh lebih sempurna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s