1.000 Janji


Rasanya menyenangkan jika suatu saat nanti (sukses) memiliki anak. Maka, untuk sekedar menyambutnya saya buat beberapa janji yang akan saya lakukan saat dia hadir kelak.

Tak banyak, hanya:

− Menatapnya dengan penuh selidik dan membiarkan dia berpikir sejenak. Lalu dengan senyum lebar ku berkata, “Tak maukah kamu pelukan ayah pagi ini?”.

− Memberitahukan pada bundanya bahwa aku selalu menanyakan kabarnya sepanjang hari saat tak di rumah, meskipun hanya saat akan pulang saja aku menanyakannya.

− Mengajaknya menonton ayahnya bermain bulutangkis.

− Mendengarkan setiap ceritanya seharian tadi, meskipun kadang aku jadi mengantuk karena dia bercerita panjang lebar pagi tadi menang lomba lari ke gerbang sekolah, dapat niai 8 dalam cipta puisi, atau berhasil main lompat tali 50 kali lompatan tanpa berhenti. lalu aku akan menutup cerita manis itu dengan sebuah kecupan hangat di dahinya.

− Menemaninya menggosok gigi di kamar mandi dan kami akan bernyanyi riang sambil menggosok gigi bersama, meskipun akhirnya aku harus menggosok gigi dua kali karena setelah itu aku akan ngemil saat menyelesaikan pekerjaan di malam hari.

− Memancing imajinasinya dengan hal-hal diluar akal. Misalnya membayangkan bagaimana jika suatu saat superman berubah jadi katak pohon atau ketika batman jadi sopir taksi.

− Lalu mengikuti imajinasinya sendiri yang kaya. Misalnya saat melihat kucing di bawah pohon, tapi sebenarnya itu adalah harimau sumatra yang sedang menyamar agar tidak tertangkap pemburu.

− Mengajaknya mencabut rumput, menanam pohon dan bunga, berkebun di belakang rumah, atau bermain kejar-kejaran dengan yam-ayam peliharaan.

− Mengajaknya mengecat kamar dengan warna pilihannya sendiri dan mengijinkannya die jika ingin mengecat sendiri kamarnya.

− Saat ia belum cukup tinggi, aku akan selalu berjongkok demi demi melihat matanya dan bibirnya itu berkata-kata.

− Mengelus kepalanya sesering mungkin sambil tersenyum, “Subhanallah, kamu ganteng sekali” (sambil menepuk-nepuk bahunya) atau “Kamu cantik sekali” (sambil memainkan rambutnya dan menjawil sedikit dagunya.

− Mengajaknya menghitung lampu-lampu jalan saat bepergian di malam hari. Mendengarkan setiap yang dia katakan dan antusias melihat apa saja yang dia tunjuk di jalan, lalu membiarkan dia menyapa siapa saja orang yang dia kenal di jalan.

− Menungguinya sebisa mungkin saat dia sakit (bergantian dengan bundanya) dan meminta maaf karena harus membangunkannya beberapa kali untuk disuapi bundanya.

− Mengganti kompres di dahinya saat demam, lalu mengatakan, “Jangan cemas ya, sayang. Ini tanda kamu akan semakin pintar dan hebat”.

− Mengajarinya minum obat dengan bilang bahwa itu adalah ramuan super bagi sang jagoan agar bisa kuat untuk kembali membantu Ultraman mengalahkan monster ubur-ubur.

− Selalu berbincang dengan gurunya tentang prestasinya di sekolah saat kebetulan menjemputnya di sekolah.

− Meminta maaf jika aku sedikit terlambat atau lupa mengantarnya latihan karate.

− Memberika perhatian seb di jalan, lalu membiarkan dia menyapa siapa saja orang yang dia kenal di jalan.

− Menungguinya sebisa mungkin saat dia sakit (bergantian dengan bundanya) dan meminta maaf karena harus membangunkannya beberapa kali untuk disuapi bundanya.

− Mengganti kompres di dahinya saat demam, lalu mengatakan, “Jangan cemas ya, sayang. Ini tanda kamu akan semakin pintar dan hebat”.

− Mengajarinya minum obat dengan bilang bahwa itu adalah ramuan super bagi sang jagoan agar bisa kuat untuk kembali membantu Ultraman mengalahkan monster ubur-ubur.

− Selalu berbincang dengan gurunya tentang prestasinya di sekolah saat kebetulan menjemputnya di sekolah.

− Meminta maaf jika aku sedikit terlambat atau lupa mengantarnya latihan karate.

− Mengajaknya memasak nasi goreng dan bersembunyi di balik gorden sebagai kejutan bagi bundanya, walaupun akhirnya kami harus memberekan dapur yang porak poranda.

− Menyemangatinya saat ia belum hafal perkalian atau surat-surat pendek. “Kan kemarin sudah bisa surat Al Ikhlas, ayah yakin sebentar lagi surat An-Naas itu akan segera hinggap di kepalamu. Pelan-pelan saja ya, sayang.”

− Tidak memarahinya saat terlambat pulang latihan, lalu berkata, “Wah, pasti kamu latihan ekstra ya. Ayo, sekarng tunjukkan pada ayah.”

− Mengajarinya sering-sering sedekah untuk membeli surga, meskipun itu uang lima ratus kembalian beli es krim.

− Mengenalkannya pada sahabat-sahabat saya. (tentu tanpa perbincangan tentang ‘perjodohan’. He he he…)

− Mengajaknya makan siang di rumah pohon.

− Menyempatkan menonton drama di sekolahnya, meskipun saat dia hanya kebagian peran sebagai pohon. Lalu mengatakan, “Kamu tahu, sayang. Pohon sangat bermanfaat karena dia akan menghasilkan buah dan meneduhi siapapun. Tentu kamu tahu betapa mulianya hal itu. Dan kau akan bangga karena telh menjadi pohon.”

− Menerima tantangannya bermain PS, walaupun saya tetap saja kalah.

− Mengajaknya menyisihkan pakaian lamanya saat ia mendapat hadiah pakaian baru, lalu menyumbangkan pakaiannya ke panti asuhan, sambil mengatakan “Baju itu akan sangat bangga jika dipakai daripada disimpan saja di lemari. Dan dia akan menjadi saksi atas kebaikan-kebaikanmu itu”

− Mengajarinya menabung koin-koin di rumah dan juga sebagian jajannya ke bank dengan memberikannya rekening sendiri (tentu tanpa ATM). Meyakinkan bahwa uang itu akan sangat bermanfaat di masa datang

− Mengajaknya mencuci baju bersama. Walaupun kadang dia hanya membantu dengan cerita-ceritanya sambil bermain busa sabun.

− Mengingatkan bahwa jika dia tidak merapikan kembali mainannya, maka bisa saja dia kehilangan salah satunya.

− Tidak memarahinya saat dia tersesat. Lalu saya akan meminta dia menjadi agen rahasia 123 dan bermain mencari jejak bersama.

− Mencoba menjadi Galileo baginya dengan menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan sulitnya semampu saya. Saat kehilangan jawaban, saya akan bilang, “Wah, kamu pandai sekali. Tapi rasanya Bunda kamu tahu deh jawabannya. Ayah akan pergi ke Italia untuk bertanya pada Eyang Galileo malam nanti dan akan ayah beritahu saat ayah mendapatkan jawabannya. OK…!”

− Memujinya dengan “Hebat”, “Keren”, “Jago”, “Pintar”, atau apa saja atas setiap hal positif yang dia lakukan.

− Mengajaknya lari pagi bersama. Lalu pulang main gedong-gendongan atau bersepeda keliling perumahan.

− Menanyakan pendapatnya tentang apa saja yang rasanya menarik untuk dibahas.

− Mengadakan “Lomba Pengumpul Sampah Terbanyak” untuk mengajarinya membersihkan rumah.

− Mendengarkan padanya musik sejak dia dalam kandungan karena saya yakin musik (tentu saja setelah murattal) dapat membantu kecerdasan otaknya.

− Lalu bergiliran memasang lagu kesukaannya dengan lagu kesukaan ayah dan bundanya di mobil.

− Mengajaknya foto box dan berpose narsis. Rasanya topeng kura-kura ninja masih ada…

− Mencoba menjelaskan setiap risiko atas setiap tindakannya dengan kalimat positif.

− Menggendongnya saat dia resah atau sulit tidur dengan menyenandungkan “Shalat nabi”.

− Membangunkannya pukul setengah lima pagi, lalu menggendongnya sambil menyenandungkan “shalawat nabi”. Lalu membiasakan dia dengan dinginnya air wudhu pagi hari dan memintanya shalat berjamaah dengan bundanya sementara saya pergi ke masjid.

− Tidak pernah mengenalkan kata ‘hantu’ atau kamar mandi di malam hari sebagai hal yang menakutkan. Menggantinya dengan penjelasan bahwa kamar mandi adalah awal dair hidup sehat dan hantu hanya bayangan dalam pikiran kita sendiri.

− Tidak memintanya untuk berhenti bersedih dan membiarkan dia menangis saat dia benar-benar sangat bersedih. Lalu memluknya dengan hangat sambil mengelus punggungnya.

− Atau dengan segera meninggalkan kamarnya saat dia menginginkan kesendirian, lalu berpesan kepada bundanya agar sering-sering melihatnya.

− Menemaninya dan bundanya ke pasar malam. Mencoba komidi putar.

− Mengajaknya mencicipi masakan favorit saya dan masakan favoritnya. Lalu membiarkannya memilih tempat makan favorit untuk sekali-sekali makan malam di luar.

− Selalu minum susu dan berlomba membuat kumis terbaik dari jejak susu di atas bibir.

− Menghargai privacy-nya dengan tidak menggeledah kamarnya. Atau jika harus menggeledah, tidak akan sampai mengubah bentuk kamarnya.

− Menungguinya di pinggir kolam saat dia belajar berenang karena saya tak pandai berenang, atau menontonnya latihan karate. Jika anak perempuan, melihatnya bermain biola atau menari mungkin akan menjadi sesuatu yang menyenangkan.

− Tidak mengenalkan tato padanya dan tak pernah mengijinkannya membuat tato dimana saja. Lalu menjelaskan bahwa tahi lalat di dagunya adalah tato terhebat ciptaan Tuhan yang menambah manis wajahnya.

− Menanyakan dengan sungguh-sungguh setiap keinginannya. Misalnya saat ia ingin memelihara anak kucing, “Kamu harus mengajarinya untuk buang kotoran di luar rumah. Jika tidak tentu akan sangat merepotkanmu, bukan?”

− Menjemputnya saat dia kemalaman dan memintanya memeluk erat-erat pinggang saya saat saya bonceng naik sepeda motor. (Biasanya dengan sedikit gelitikan…he he he)

− Tidak langsung memarahi dan memaafkan setiap kesalahannya setelah dia mampu menjelaskan alasannya dengan logis.

− Membiasakannya untuk membaca dan menulis. Lalu kami akan berlomba membuat resensi cerpen yang telah kami baca dan memberikannya pada bundanya untuk dinilai.

− Bersekongkol dengannya untuk mengalahkan bundanya saat bermain kartu bersama. Lalu mengatakan bahwa bundanya adalah orang paling cantik sedunia meskipun telah penuh coreng moreng.

− Memajang gambar terbaiknya di ruang keluarga. Meskipun itu gambar seekor kijang berkaki lidi dan berjari seperti ayam.

− Sebisa mungkin menjadi sekolah baginya dan memasukkannya ke sekolah negeri sebagai sarana sosialisai baginya.

− Bermain tebak-tebakan dengannya dan bundanya, lalu bergantian menceritakan cerita-cerita lucu.

− Mengajarinya dan membiasakan untuk tidak tertawa terbahak-bahak.

− Baru akan mengajarinya mengemudi sepeda motor saat dia SMP

− Waktu dia remaja, akan saya ajak nonton bioskop dan mengenalkannya apa itu ‘koleksi’ saat setiap kali mampir ke toko kaset.

− Memberikan perhatian sebanyak mungkin saat dia beranjak remaja dan memastikan dia tak perlu mendapatkan perhatian dari orang lain sehingga dia takkan mengenal pacaran dan terpancing dengan teman-temannya.

− Membiasakan berjilbab bagi anak perempuan sejak SD dan mewajibkannya saat dia SMP. Jik laki-laki, mengajarkan senantiasa menutup auratnya saat SMP dengan tidak bercelana pendek dan bertelanjang dada.

− Saya akan membuatkan sebuah diary khusus tentnagnya, mulai saat dia lahir, dan mengumpulkan semua foto-fotonya. Lalu menunjukkan dan menceritakannya kembali saat dia sudah remaja. Menyerahkan padanya untuk melanjutkan diary itu atau tidak.

− Setelah bercerita, saya akan berkata “Lihat, sudah begitu lama ayah menantikan ini. Jadi ayah meminta maaf jika belum bisa menjadi ayah yang sempurna buat kamu. Ayah hanya ingin kamu tahu bahwa ayah sayaaang sakali sama kamu.”

Addapted from ’10.000 promisses” of “Let’s Talk About friendship, love & marriage, and ordinary miracles” by Retnadi Nur’aini.

2 thoughts on “1.000 Janji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s