Telaah Pacaran


Pacaran, (entah siapa yang mulai mempopulerkan) sudah menjadi semacam gaya hidup anak muda (bahkan janda-duda) masa kini. Rasanya garing hidup ini kalau tidak pacaran, kemana-mana sendiri, makan sendiri, tidur berdua (dengan temen kost)…🙂

Banyak pelaku pacaran yang beralasan pacaran sebagai ajang ‘coba-coba’ menjalin hubungan nantinya, ajang cari-cari atau seleksi pendamping hidup, atau hanya sekedar untuk ‘main-main’ saja (weleh-weleh). Seorang teman juga tetap keukeuh mempertahankan argumen bahwa sudah berkomitmen untuk saling mengikat janji suatu saat nanti mereka akan meresmikan hubungan mereka. Saya rasa hal seperti ini hanya sebentuk ketakutan kita kehilangan ‘dia’ karena takut dia nanti sudah keduluan diambil orang, jadi pacaran saja sampai lima tahun kemudian baru menikah.

Tapi apapun bentuknya, yang ingin saya dudukkan tentang pacaran ini adalah bentuk aktivitas, baik itu tindakan ataupun perasaan. Terlepas dari apapun bentuknya, pacaran terbukti berhasil mempermainkan perasaan (yang mana dalam hal ini adalah HATI) dan mempermainkan dompet (yang mana dalam bahasan ini adalah kemurah-hatian seorang pacar kepada pacarnya, pokoknya gitu lah,,,). Bentuk cemburu buta, sakit hati karena pacar neyebelin, atau sang pacar lupa bawain coklat di hari valentine itu sudah termasuk dalam definisi pacaran secara keseluruhan.

Begini teman-teman, saya ambil sebuah definisi tentang pacaran ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002: 807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar]. Memacari adalah mengencani; [atau] menjadikan dia sebagai pacar.” (PIA: 19) “Sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut (lihat halaman 542) adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.” (PIA: 20)
Jadi, jika disimpulkan, pacaran adalah bercintaan atau berkasih-kasihan (antara lain dengan saling bertemu di suatu tempat pada waktu yang telah ditetapkan bersama) dengan kekasih atau teman lain-jenis yang tetap (yang hubungannya berdasarkan cinta-kasih). Singkatnya, pacaran adalah bercintaan dengan kekasih-tetap.

Sedangkan, hubungan yang ‘tetap’ itu dapat tercipta dengan ikatan janji atau komitmen untuk menjalin kebersamaan berdasarkan cinta-kasih. Kebersamaan yang disepakati itu bisa berujud apa saja. Dengan demikian, yang tidak diniatkan untuk nikah masih bisa dinyatakan pacaran. Bahkan, ‘hidup bersama tanpa nikah’ pun bisa disebut ‘pacaran’

Jadi, menurut kesimpulan saya nih ya. Pacaran itu (apapun bentuk dan perlakuannya) hanya bisa dilakukan setelah pacar kita itu menjadi ‘kekasih tetap’ yang mana (hanya bisa) terjadi jika kita sudah melakukan suatu perbuatan yang dinamakan ‘menikah’.

Meskipun banyak sahabat (dan orang-orang yang tergolong menyukai saya…hwe he he) menyarankan agar saya pacaran saja biar ada teman buat kemana-mana, hhh…saya tak perlu pacaran, saya sudah punya seorang mama di rumah, sahabat-sahabat terhebat, dan me myself, mereka adalah ruang hati tempat mencurahkan semuanya.

Dan, saya tegaskan lagi alasan untuk tidak berpacaran, biar semua jelas mengapa saya nggak ngeh sama (yang namanya) pacaran itu…

1.secara agama (biar lebih ekstrim)
Agama (Islam) sudah jelas-jelas melarang untuk menjalin hubungan tanpa status (biarpun para pelaku pacaran bilang bahwa pacaran itu juga status). Jangankan untuk menjalin perasaan lewat hati dan tindakan, berdua-dua dengan bukan muhrim saja sudah dilarang, dan termasuk pelanggaran berkategori dosa. Kalau menurut agama ini tak bisa ditawar-tawar lagi, mutlak. Sekali tidak boleh pacaran (sebelum nikah), ya tidak boleh. Yang menentang, ya silakan saja bersiap-siap kena marah sama Allah. Emang enak kalau Allah lagi cemberut? Akan lebih nggak enak lagi, lebih dari ibu kita saat ngambek. Ada orang yang sadar juga bahwa pacaran itu nggak boleh menurut agamanya, tapi dia berdalih bahwa kita anak muda kan sudah semestinya pacaran, kalau nggak pasti nggak gaul. Saat pernyataan tersebut dilontarkan kepada saya, saya bilang saja “Kalau kita tahu bahwa pacaran itu nggak boleh tapi kita tetep aja pacaran, itu sama saja kita tahu bahwa ular derik itu sangat berbisa tapi kita nekat mendekatinya. Bayangkan saja apa yang akan terjadi?”
Tapi, Ustadz cinta masih membolehkan kita untuk pacaran, asal memenuhi dua syarat berikut :
– boleh pacaran dimana saja kita suka, tempat dimana Allah nggak bisa lihat kita pacaran (lw pikir aja ndiri)
– boleh pacaran asal tidak mendekati zina. Zina di sini berarti bahwa segala hal yang bisa memancing emosi, hasrat, dan markabat (apa lah ini). Nih, biar lebih ekstrim lagi, klik

2.Secara psikologis (lebih ekstrim lagi)
Kita dengan pasangan (pacaran) kita berjanji atau berkomitmen untuk menjalin hubungan pacaran dengan saling mengerti satu sama lain. Tanpa ada tindakan lain selain (mungkin hanya) sekedar bertemu di taman, bercerita panjang lebar, mengantarnya belanja atau ke salon, menemaninya saat uang tahun, atau menelepon tiap hari menanyakan kabarnya. Kata mereka, di sini sangat banyak bumbu-bumbu cinta yang akan menambah manis hubungan mereka. Tapi menurut saya (nih ya), pacaran tanpa pegang-pegang, atau cium, atau berpelukan, dan berkata-kata yang romantis dengan (tentunya anda tahu kisah selanjutnya) itu akan terasa hambar. Terlepas dari pola pacaran yang diterapkan di barat loh ya… Jika kita pacaran setelah nikah tentu saja rasa pacaran itu akan terasa sangat nikmat. Hubungan yang halal tidak akan membatasi kemauan kita terhadap pacar (istri) kita. Mau kita apain kek, Allah dah redho. Dan insyaAllah berkah dunia akhirat.

3.Secara sosial (pandangan masyarakat)
Seorang ibu-ibu pernah berkata (bergosip) dengan saya betapa risihnya dia melihat anak muda jaman sekarang berpacaran. Sering mengunjungi rumahnya, mengantar kemana-mana (apalagi yang punya motor), bergandengan tangan, kemana-mana berdua, acuh terhadap lingkungan sekitar layaknya dunia ini milik mereka berdua, makan bareng di resto, nonton…dan masih banyak lagi (karena kami mengobrol lebih dari dua jam, jadi ya begitu banyak materi yang disampaikan ibu itu). Adi, ternyata nggak enak ya kalau pacaran-pacaran gitu aja, jadi bahan obrolan orang, digosipin, haduh nggak nyaman jadinya. Tapi ada kabar gembiranya, orang-orang dengan sukarela jadi perhatian dengan kita…(ha ha ha… dodol..!)

Jadi, apakah masih kepikiran untuk pacaran? Jika masih ya itu urusan anda. Yang pasti buat saya itu nggak ada. Lebih indah jika cinta itu untuk sementara kita kasih ke Allah, lebih nikmat. Kan logikanya gini, kalau Allah dah kita bikin seneng dengan kita, kita minta apa aja pasti dikasih, apalagi mintanya di tengah malam buta saat kampret-kampret beraksi, wuih…. cepet banget kayak sinyal t******** he he he

postingan lain… di sini

One thought on “Telaah Pacaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s