Subuh Sendu


Pagi ini dimulai dengan sebuah adzan yang sayup-sayup tak sampai terdengar. Herannya, dua masjid yang berdekatan dengan tempat tinggalku sama-sama mengalunkan azan dengan nada minor. Sendu sekali, bahkan sulit dibedakan antara mengigau dengan adzan. Aku tergesa-gesa karena harus menghabiskan makan sahur yang telat ini. Aku khawatir, jangan-jangan mereka telah iqamat diam-diam tanpa pengeras suara.
Sesampainya di masjid terdekat, makmumnya pun juga sendu, sedang shalat sunat atau duduk terkantuk-kantuk, dan wajahnya sendu sekali seperti kakek-kakek yang salah nelen sendok. Nengok kiri-kanan dengan gerakan slow-motion. Dan iqamat pun dibunyikan, juga dengan sendu.
Lagi-lagi, imamnya ikutan sendu. Si imam yang biasanya akan membaca ayat sajdah yang panjang dan bersemangat, sujud sajdah, bangun lagi, hingga selesai nanti, kini hanya membaca ayat pendek-pendek saja, itupun dengan intonasi tiga nada di bawah biasanya.
Makmum jadi tambah sendu. Mereka mematut-matut diri, menjawab amiin dengan malas sekali, seolah baru saja sakit gigi. Sesekali mulutnya terbuka lebar menguapkan aroma karang gigi yg belum sempat digosok, membiarkan setan dengan leluasa masuk. Padahal baginda nabi sudah mewanti-wanti agar sebisa mungkin menahan kantuk dan untuk tidak menguap dalam shalat, ataupun menutup mulut dengan tangan saat menguap.
Lalu dengan kejadian tak terduga, si imam lupa membaca do’a qunut (biasanya ada do’a qunut pada rakaat kedua) dan dengan ragu-ragu melanjutkan sujud hingga shalat selesai tanpa melakukan sujud sahwi (bagi sebagian orang, lupa baca do’a qunut haus sujud sahwi). Tampak wajah menyesal setelah itu darinya.
Ritual sendu dilanjutkan dengan dzikir sendu, benar-benar sendu dan memprihatinkan. Suara yang sendu itu mengalun melalui speaker dalam masjid, mengalun hingga pembacaan do’a selesai, semua dilakukan dengan sendu.
Rasanya, baru kali ini aku ‘terganggu’ mood ketika shalat berjamaah di masjid. Benar-benar diliputi dengan energi negatif. Konsentrasi buyar (menambah perih lambungku yang sudah sejak malam tadi terasa melilit), dan orang-orang itupun keluar dari masjid dengan sendu, berjalan satu-satu membawa energi sendu yang mereka dapatkan.
Jika kita sadar, inilah kelemahan kita yang sudah sangat-sangat orang salib pahami. Mereka akan takut setengah mampus jika melihat jamaah subuh sudah menyamai jamaah jum’at (tentu dengan penuh semangat). Sementara ini, bahkan dengan makmum yang bisa dihitung dengan jari, dilakukan dengan sendu sekali. Tak tega saja lihat wajah amak-amak atau gaek-gaek yang sendu itu bertambah sendu karena ulah anak muda yang sok tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s