2010


Tahun 2010 menjelang dan kita sudah memasukinya. Terompet tak lagi berbunyi, hingar-bingar perayaan yang ‘agak lembab’ malam tadi tlah padam. Kembang api sudah tak lagi meledak, membeku di sudut jalan diselimuti embun pagi ini. Bersyukur malam tadi aku menghabiskan waktu dengan Tuhanku untuk ‘curhat’. Tak ada yang spesial selain diri kita sendiri yang membuat kita menjadi spesial di mata Tuhan.
Pagi ini, tepat pukul enam pagi, Jum’at 01 Januari 2010, saya iseng pergi ke luar, jalan-jalan, sambil melihat-lihat sisa-sisa perayaan pergantian peradaban, sekalian mengganggu tidur temen-temen yang ‘melek’ malam tadi. Baru seratus meter keluar, sudah disambut sapa dua buah botol bir b***** yang tergolek miring di sudut jalan. Sepanjang jalan bertebaran kertas-kertas bekas kembang api, bongkol jagung bakar, duri ikan, bahkan bangkai terompet yang sudah dikuliti. Tapi rasanya memang pagi ini sangat berbeda.
Tak biasanya saya menemukan jalan di ‘kompleks’ ini selengang ini. Kendaraan hanya satu-dua yang melintas sehingga saya bisa melintas menyeberang jalan dengan nyawan. Saya perhatikan beberapa kost-kost-an para ‘jejaka’, masih tutup. Mungkin mereka belum bangun, baru tidur, atau memang belum pulang entah darimana merayakan malam tadi neramai-ramai. Iseng saya SMS teman yang malam tadi menawarkan ayam bakar buatannya yang agak gosong, saya bilang saya sudah berada di depan kost-nya. Tergopoh-gopoh dia melangkah keluar dan dengan mata terpicing-picing sambil memonyong-monyongkan bibirnya dia bersungut sambil berseru, “Tunggu seentar ya…!” anak kost belum ada yang bangun, lagian ada-ada aja pagi-pagi ke sini, katanya lagi.
Bertukar cerita pagi itu dengannya. Bertukar mimpi, angan, dan cita-cita setahun ke depan. Sementara dia sibuk menceritakan keadaan malam tadi yang agak ‘lembab’ sebab hujan sudah mengguyur kota ini sejak siang hari.
Intermezzo.
Seperti yang sudah-sudah. Dan sudah beberapa kali saya tuliskan. Tahun baru, seolah menjadi sebuah moment penting dari hidup seseorang. Rela menyiapkan segalanya hanya untuk sekedar menghitung mundur, meniup terompet, membakar jagung, ayam, ikan, atau sendal jepit temennya, lalu berkaraoke ria, mabuk, tidur… Bahkan ada yang sengaja menyewa kaset-kaset VCD, atau rental mobil sambil membawa serta ayam-ayam kampus untuk ‘dinikmati’ malam nanti. Pernah mendengar sebuah celetukan teman, yaitu bagaimana merasakan ciuman setahun, pelukan setahun, atau ber… setahun. Sudah sedemikiankah tahun baru selayaknya dirayakan. Yang cuek bebek mungkin hanya sedikit bersimpati dengan makan setahun, nonton setahun, atau tidur setahun mirip beruang.
Tak berapa lama sebelum 31 desember 2009, kita sudah terlebih dahulu menemui pergantian tahun baru hijriah 1431. Tak ada perayaan, tak ada kembang api, tak ada ayam bakar, tak ada. Hanya seperti angin yang lalu, tak dihiraukan orang (kecuali sang angin berlalu sambil membawa sebuah kentut… ).
Tak ada spesial disana, padahal ini adalah saat-saat yang ditunggu-tunggu bagi segenap muslim. Duduk terpekur mulai dari bakda ashar, memperbanyak istighfar, seraya menakar kesalahan dan dosa apa yang telah kita perbuat selama setahun yang lalu untuk dipertanggungjawabkan dalam detik-detik pergantian tahun. Lalu memanjatkan do’a akhir tahun untuk menutupnya. Menanti saat-saat maghrib dengan hati berdebar-debar, barangkali awal tahun itu diawali dengan sebuah dosa yang baru. Lalu malam diisi dengan bermunajat, tak jarang air mata yang membeku selama setahun itu meluap, menghangatkan malam. Hingga esok paginya dia akan kelelahan karena ‘memaksa’ air mata itu keluar, berharap dapat menjadi pemadam api neraka baginya. Pagi akan kembali berseri setelah karat-karat kemudharatan berhasil disepuh malam tadi. Tapi perhatikan, hanya sedikit saja. Itupun hanya milik segelintir orang-orang penyandang umur 40 tahun ke atas yang sadar. Selebihnya…?
Tahun baru hanya moment, sama seperti saat kita menemui hari baru, minggu baru, bulan baru. Setiap detik kita bisa merefleksi diri ini. Bukankah kita sudah diberi waktu 5 kali sehari untuk refleksi diri, bahkan ditambah waktu-waktu lain dalam 24 jam hari kerja Tuhan. Setidaknya saat memasuki tahun baru, kita hanya memoles kembali dan memperbaiki segala kekurangan yang telah kita perbuat. Kembali merencanakan ‘long term planning’ untuk setahun ke depan.
Milik siapakah tahun baru masehi ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s