mushala

Hari ini aku shalat di mushalla yang sama untuk kedua kalinya. Suasana masih sama, aromanya juga masih sama. Bahkan keadaannya pun masih sama dimana pertama kali menginjakkan kaki ke dalam pasti akan menginjak serpihan sampah dedaunan kering yang sama. Atau mungkin saja sengaja dipertahankan seperti itu. Padahal mushalla ini dipake’ saban subuh, tapi kok nggak ada yang punya inisiatif buat membersihkan lantainya. Di karpet pun masih tercium aroma debu dua hari yang lalu dan serpihan pasir. Mungkin sajadahnya itu berfungsi ganda, juga sebagai keset saat memulai shalat karena jika tidak maka beberapa butir pasir masih akan menempel di telapak kaki kita.
Lalu imamnya, setinggi atau serendah apapun dia memulai ayat pada surat al-fatihah, pasti akan berujung pada suatu nada minor yang sama, panjang dan datar berdurasi 5 detik. Sebuah konsistensi yang (mungkin) patut diacungi jempol. ^o^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s