Berjabat Tangan dengan Baik dan Benar

lebaran-01 Siapa yang tak pernah bersalaman. Kita semua pernah bersalaman. Karena selain mempererat persaudaraan, bersalaman juga bisa untuk saling menghapus dosa. Seperti sabda Nabi saw, “tidak ada dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan melainkan pasti diampuni untuk keduanya sebelum mereka berpisah.”

Tapi, salaman seperti apakah yang bisa menghapus dosa?

Mungkin dari kita pernah atau sering melihat (atau mengalami) bersalaman dengan orang-orang namun hanya sebatas menyentuhkan jari jemari atau ujung jemari, bukan saling menggenggam. Yah, kalau salaman laki-laki dengan perempuan mungkin wajar saja. Tapi tak jarang pula ketika bersalaman dengan sesama laki-laki atau sesama perempuan pun hanya menyentuhkan jari jemari saja.

Padahal,

Continue reading

Perihal Berjabat Tangan

Hmm, suatu kali saya diprotes karena tak mau bersalaman kepada perempuan bukan muhrim. Suatu kali pula saya diprotes karena bersalaman kepada perempuan bukan muhrim. Lalu, saya kemudian ditanyai, apakah saya tahu aturan itu, dan apakah saya tidak punya kekonsistenan dalam hal itu.

Yah, bagi saya itu baik karena ternyata saya masih cukup diperhatikan oleh saudara dan sahabat-sahabat. Jika bukan karena itu, mungkin saya hanya akan menjawab “suka-suka gue”. Ya, yang penting hal ‘suka-suka’ tadi bisa saya  tahu kondisi dan keadaannya serta bisa dipertanggungjawabkan.

Nah, yang jadi masalah adalah ketika orang lain mengetahui apa yang kita lakukan lantas berpikir bahwa apa yang kita lakukan itu tidak sejalan dengan apa yang pernah kita katakan. Istilah gampangnya, saya galau. Hahaha, suatu kali saya bisa alim, tapi suatu kali bisa zalim. Saya pikir wajar sih, saya masih manusia.

Tapi lantas pertanggungjawaban seperti apa yang bisa saya berikan kepada saudara dan sahabat yang begitu perhatian kepada saya sebelum saya mempertanggungjawabkan secara penuh di depan Sang Pencipta? Jadi, saya pikir saya berikan saja pengertian seputar apa yang telah saya lakukan ini agar tidak ada kesalahpahaman yang akan terjadi di kemudian hari.

Saya pernah mengikuti semua anjuran, baik itu dari teman-teman ataupun dari bapak saya. Saya pernah berjabat tangan pada siapapun, saya juga sudah pernah tidak berjabat tangan pada perempuan yang bukan mahram. Saya juga bertanya pada orang alim, baik itu yang dikenal sebagai ulama kontemporer maupun yang ‘fanatik’.

Sepanjang ‘masa pencarian’ itu, saya tidak mendapatkan adanya keharaman berjabatan tangan dengan yang bukan muhrim. Justru larangan itu hanya berbunyi ‘bersentuhan’ seperti dalam hadits berikut:

“Ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. ath-Thabarani].

Dan, menurut saya, definisi ‘menyentuh’ ini bisa jadi sangat luar, tidak semata bahwa bersentuhan adalah berjabat tangan.

Atau berdasar hadits berikut:

“Tidak pernah sekali-kali Rasulullah Saw menyentuh tangan seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Menurut beberapa ulama, kemungkinan memang benar apa yang disaksikan oleh ‘Aisyah ra. Bahwa rasulullah terlihat tidak bersalaman dengan siapapun, tapi bisa jadi ada beberapa ‘momen’ yang tidak sempat beliau saksikan saat rasulullah berjabat tangan.

Saya pernah bertanya pada guru saya bagaimana pendapatnya mengenai berjabat tangan dengan lawan jenis ini. Beliau hanya mengatakan ‘lakukan apa yang kamu yakini’ dan beliau senditi berprinsip tidak akan memulai menjabat tangan tetapi tidak menolak ketika diajak berjabat tangan oleh lawan jenis. Asal tiada maksud lain selain berjabat tangan.

Lagipula dikatakan bahwa berjabat tangan – dalam artian bertemunya telapak tangan antara dua orang – akan menghapus dosa dari keduanya sebelum mereka melepaskan jabat tangan itu. Hingga kadang ada yang menjadikan hal ini semacam gurauan, “apa gunanya silaturahim ketika lebaran jika tidak bersalaman untuk meminta maaf tetapi tuan rumah tidak mau bersalaman, kita tentu tidak sekadar ingin mencicip makanan saja, kan.”

Dari beberapa kajian yang pernah saya ikuti dan baca, memang tidak ada keharaman dalam berjabat tangan dengan lawan jenis. Justru hal ini dihukumi sebagai mubah, yaitu boleh dilakukan atau tidak. Kita tidak bisa lantas mengharamkan sesuatu yang tidak ada dalilnya.

Yah, apapun itu, kembali kepada pemahaman kita terhadap sesuatu. Hadits tidak serta merta untuk dipakai mentah-mentah, tapi setidaknya kita tahu dan paham bagaimana hadits itu bermula dan untuk apa gunanya.

Wallahualam bishshawab