Percakapan di Dalam Angkot

DSC00595 Siang itu saya memutuskan pulang naik angkot. Suasana kota Padang yang panas dan terik, mungkin akan cocok suasananya dengan angkot, daripada harus beradu bau keringat di bus kota, belum lagi musiknya yang kerap membuat kepala saya berdenyut-denyut.

Seperti biasa, jika masih cukup luang, saya akan memilih tempat duduk di samping sopir angkot. Kali ini kebagian di dekat pintu masuk. Tak apa, setidaknya nanti ketika angkot berjalan, udara yang masuk bisa memadamkan ubun-ubun kepala yang terasa nyaris terbakar.

Tak berapa lama, masuklah penumpang sebuah keluarga kecil – yang entah bisa dikatakan bahagia atau tidak. Sepertinya sih bahagia, mudah-mudahan. Si suami bertato di lengannnya, dan merokok. Si istri berkuncir dan menyelempangkan sebuah tas kecil di bahunya. Mereka membawa anak perempuan yang mungkin umurnya masih balita. Si anak giginya ompong, mungkin kebanyakan makan permen karena mengikuti kegalauan Ayu Ting-Ting. Dari tadi si anak nyanyinya, “sik asik sik asik, kenal dirimu.” Ckckck

Angkot tiba di pertigaan BI. Lampu merah menyala, angkot pun berhenti. Kemudian datanglah seorang laki-laki tua menghampiri angkot kami sambil berkata, “Assalamu’alaikum.” Perempuan di depan saya – ibu si anak tadi – menjawab dengan agak keras, “Wa’alaikumsalam.” Saya hanya menjawab dalam hati saja.

Karena tak ada yang memberinya selembar uang ribuan atau recehan sekalipun, laki-laki tua itu pun beringsut ke kendaraan yang lain. Suasana kembali tenang, hingga kemudian si anak yang berada dalam pangkuan ayahnya nyeletuk (percakapan aslinya memakai bahasa Minang),

“Mama kok nggak ngasih uang kepada si bapak itu? Malah cuma jawab salam doang.” kata si anak.

“Lha, dia kan datang-datang ngasih salam, ya dijawab. Mau diapain lagi?”

“Kan kasihan, Ma. Bapak itu sudah tua. Mungkin dia belum makan.”

“Biar aja lah.”

“Aku kasih es ini aja ya.” kata si anak sambil menunjukkan seplastik es dalam genggamannya.

“Kasihlah!”

“Ya udah, turun yuk. Kita kejar bapak tua itu. Biar aku kasih es ini.”

“Kejarlah.” kata si ibu dengan santainya. Ayah si anak cuma senyum-senyum saja.

Baru saja si anak ingin turun dari angkot, lampu hijau menyala dan angkot yang kami naiki pun berjalan lagi.

“Memanglah Mama ni, apa nggak kasihan sih?”

“Udah, biarin aja lah. Weee…!” kata si ibu sambil menjulurkan lidahnya ke si anak bermaksud meledek. Tapi dasar si anak pun sableng, dibalas pula sama dia dengan menjulurkan lidah ke arah ibunya, lalu sibuk menyibakkan sebagian rambutnya yang tertiup angin dan menutupi wajahnya.

“Pak sopir, mau beli anak nggak, ni beli anak kami aja.” kata si ibu tadi. Sopir angkot cuma nyengir. Dalam hati mungkin pak sopirnya bilang, “dasar lu, bikinnya aja yang seneng.”

About these ads

2 thoughts on “Percakapan di Dalam Angkot

  1. Pingback: Tidak Ada Kesempatan Kedua (Bagian Satu) « M.jd bj.K

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s