Hakikat Shalat

 

DSC00036 Jadi apa sebenarnya esensi shalat itu ketika kita menjumpai kenyataan bahwa kita masih shalat dengan tergsa-gesa. Kita masih shalat sambil sendawa atau dalam bahasa Perancis ‘glegek’en’. Kita shalat tapi jari kita pun asyik mengupil atau merabai jerawat.

Jadi kita shalat untuk siapa? Setiap kita takbir, kita memuja siapa? Kita rukuk itu hormat pada siapa? Lalu, kita sujud itu untuk siapa?

Pernahkah kita membayangkan bahwa suatu ketika kita dipanggil oleh presiden Indonesia misalnya. Senang? Mungkin sebagian orang begitu, saya termasuk ke dalamnya. Lalu, apa yang kita persiapkan? Tentu pertama kali kita akan mempermanis budi, latihan kepribadian. Mandi sewangi-wanginya, bila perlu habis sabun cair satu botol. Rambut kita keramasin pake sampo yang mahhal. Cari pakaian yang terbagus, yang jarang kita pakai. Rambut kita sisir sampai kelimis hingga lalat pun kepleset ketika nemplok di sana. Sepatu pun tak luput dari sapuan semir terbaik.

Tapi, setelah bertemu, yang mungkin hanya satu atau dua jam, bercakap-cakap, salaman, putu-putu, makan-makan (wak, Indonesia banget), kebanyakan kita akan merasa seperti ini,

“Wah, batin saya puas setelah bertemu bapak presiden, senang sekali rasanya. Saya nggak akan mandi setelah berpelukan dengan bapak presiden…” kira-kira begitu.

Nah, itu baru ketemu manusia saja senangnya bukan main, padahal mungkin saja bapak presiden tak memberikan apa-apa selain CD album dan seri buku Pak Beye, tapi perasaan kita luar biasa. Lalu, bagaimana perasaan kita ketika bertemu dengan Tuhan yang jelas-jelas menjanjikan dan memberikan sesuatu jika kita menghadapnya, sebuah kemenangan.

Nyatanya, kita shalat di ujung-ujung waktu dengan terburu-buru, wudhu sekenanya saja, pakaiannya biasa saja, badan tanpa parfum dan bau keringat, tergesa-gesa dan terkesan seadanya, shalat secepat kereta ekspres dengan bacaan tanpa titik koma.

Lantas, maukah Tuhan memberikan kemenangan itu kepada kita jika shalat saja kita tergesa-gesa? Kita shalat hanya sebagai penggugur kewajiban saja.

Kita wajib dan harus meninjau ulang untuk apa, untuk siapa, dan bagaimana seharusnya kita shalat karena semata-mata shalat itu adalah ibadah kepada Allah Sang Maha Pencipta. Jangan sampai kita termasuk ke dalam golongan yang Rasulullah katakan sebagai orang yang lalai dalam shalatnya, yaitu mereka yang shalat tapi tak mendapat apa-apa.

About these ads

5 thoughts on “Hakikat Shalat

    • karena itu, dengan mempersembahkan yang sebaik-baiknya saat berkomunikasi dengan Allah tentu akan menambah nilai kita di hadapan Allah. masalah diterima atau tidak, itu urusan Allah. wallahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s